Muthia berangkat bersama ayahnya kali ini. Dia bangun terlalu cepat sehingga harus menunggu lama untuk menyesuaikan dengan jam ayahnya berangkat. Putra yang melihat putrinya hanya bisa tersenyum sambil menahan tawa. Dia memang sengaja membuat putrinya menunggu.
"Sudah siap?"
Muthia mengangguk. Dia pun mulai berpegangan dengan ayahnya. Motor yang mereka naiki pun melaju setelah memastikan kesiapan Muthia. Motor melaju cukup santai, membuat angin pagi seperti menggoda Muthia untuk tidur.
"Kamu sudah baikan dengan ibu?"
Putra membuka obrolan dengan sedikit keras. Muthia yang sudah hampir memejamkan matanya langsung kembali terjaga. Rasa kantuknya mendadak hilang begitu saja.
"Maksudnya?" tanya Muthia.
"Kamu sudah baikan sama ibu? Kan kemarin kamu masih marah sama ibu sampai berangkat sendiri terus."
"Nggak kok aku nggak marah sama ibu," jawab Muthia singkat.
"Tapi intinya sudah berbaikan kan?"
"Ya begitu deh," balas Muthia singkat.
Putra hanya tersenyum mendengar jawaban putrinya. Jarang sekali dia bisa mendengar nada bicara putrinya yang seperti itu. Membayangkannya sudah membuatnya senang.
"Rasanya sudah lama sekali ya Ayah mengantar kamu sekolah. Terakhir kali kalau nggak salah itu minggu lalu."
"Ya begitu deh," balas Muthia. "Aku ingin jadi murid rajin."
Putra tertawa lagi. Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah Muhtia, dan langsung turun dari motor
"Jaga diri kamu ya," pesan Putra saat Muthia menyalimi tangannya.
"Iya, Yah." Muthia pun berbalik dan berjalan memasuki sekolahnya.
Auranya sangat riang sekali. Dia tersenyum sambil bersenandung kegirangan. Sampainya di kelas dia melihat Laila sudah sampai lebih dulu.
"Pagi, Lai," sapa Muthia.
"Pagi. Kamu kayaknya lagi senang banget hari ini."
"Ya begitu deh," jawab Muthia sambil tersenyum.
Laila yang melihat Muthia begitu ceria hari itu juga turut senang juga. Jarang dia melihat temannya itu tersenyum selebar itu, paling hanya pada momen tertentu saja.
"Pasti tentang keluargamu lagi," tebak Laila.
"Kamu benar," jawab Muthia spontan.
"Kamu berbaikan dengan ibumu?" tebak lagi Laila.
Muthia mengangguk sambil tersenyum. Rasanya senyum itu sudah menempel dan tidak mau lepas. Rasanya Muthia sudah menemukan kebahagiaannya.
"Tidakkah kamu mau berbagi kebahagiaan dengan temanmu ini, Muthia." Laila memasang wajah memohon dihadapan Muthia.
Wajah Muthia langsung berubah 180 derajat, yang tadinya cerah berseri langsung memasang tatapan datar yang menusuk.
"Kamu belum mengerjakan tugas lagi ya," tuding Muthia.
Laila hanya terkekeh saat mendengar jawaban Muthia. Muthia hanya menghela nafas panjang. Entah sampai kapan temannya akan terus meminjam bukunya seperti ini.
"Kamu itu selalu aja merusak suasana hatiku dengan cepat, Laila."
Muthia mengeluarkan bukunya dari tas. Dia langsung berakting sebagai siswa yang sok sibuk dengan tugas sekolahnya. Laila yang melihat tingkah Muthia pun menyerah untuk merayu Muthia.
"Tidak apa-apa, kebahagiaanmu kebahagiaanku juga, kesedihanmu kesedihanku juga," jawab Laila memasang wajah bijak.
"Terserah deh."
Dengan terpaksa dia menyerahkan buku tugas yang diminta oleh Laila.
Laila menyambut buku yang disodorkan Muthia. "Makasih, Muthia cantik."
"Iya sama-sama," balas Muthia ketus.
∆∆∆
Muthia melihat jam tangannya, jam tangan yang kemarin diberikan Fuse saat dirinya mampir ke markas Proteen.
Sekarang masih pukul dua belas siang, dan sekarang masih jam istirahat siang. Muthia Sekarang sedang berada di dalam perpustakaan sekolah, membaca novel romantis kesukaannya.
Jam tangan itu berwarna putih, namun tidak dengan saat Muthia melihat jam tangan itu. Lampu yang berperan sebagai pelacak kemudian menyala perlahan.
Muthia memperhatikan cahaya dari jam tangannya. Perlahan makin terang, dan semakin terang.
Muthia memperhatikan keadaan sekitar. Perpustakaan masih sepi, namun dirinya sudah mulai waspada dengan semua yang ada di sana.
Pasalnya pelacak jam itu bukannya hanya untuk Ridwan, melainkan juga untuk orang yang memiliki kekuatan lainnya.
Lampu jam tangan itu makin terang, namun belum seterang saat dirinya berkumpul dengan Fuse.
Kemudian jam itu bergetar membuat Muthia terkejut. Kaca yang tadinya menunjukkan jam padanya berubah menjadi layar yang memberinya perintah untuk mengetuk layar itu. Muthia mengetuk kaca itu dan tiba-tiba dirinya sudah tersambung dengan telepon dari Fuse.
"Segera keluar dari perpustakaan!" perintah Fuse begitu terhubung.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Muthia tak mengerti.
"Kamu sudah melihat jam tangannya menyala kan?"
"Iya," jawab Muthia singkat.
"Aku ada di depan sekolah, segera temui aku di ruang piket," titah Fuse langsung mematikan telepon.
Muthia yang sedang asik dengan bukunya secara terpaksa harus menutupnya dan menaruhnya kembali ke rak. Muthia segera bergegas menuju ruang piket sekolahnya. Sesampainya di sana sudah ada Fuse dan guru piket yang bertugas.
"Muthia, kebetulan sekali. Saya baru saja mau memanggil kamu." kata guru piket saat Muthia masuk ruang piket.
Muthia yang tidak mengerti hanya memandangi keduanya dengan keheranan.
“Muthia, Om baru saja meninggal.”
Muthia semakin heran dengan yang diucapkan Fuse barusan. Om? Om siapa? Kenapa suasananya jadi aneh begini.
“Iya, Muthia. Kata Kakak kamu om kamu baru saja meninggal. Ibu turut prihatin.”
Muthia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa maksud dari semua ini. Saat Muthia melihat lagi ke arah fuse, dia seakan-akan meminta Muthia untuk berakting nangis.
“Kak, Om meninggal?”
“Iya, baru aja. Ini Kakak datang mau jemput kamu ke pemakaman. Om mau dimakamkan sore ini.”
Muthia sebenarnya tidak tahu apa-apa, tapi mengikuti arus dan berakting seperti ini rasanya asik juga. Sepertinya dia akan bolos kelas untuk hari ini. Tidak apa-apa lah untuk satu hari aja.
“Ibu turut berduka. Sekarang kamu bisa berkemas sekarang dan segera pulang. Tidak baik lama-lama saat ada kerabat yang meninggal.”
Sambil sedikit tersedu-sedu Muthia melangkah menuju kelasnya. Tak lama dia sudah kembali ke ruang piket dan keluar dengan dituntun Fuse dari belakang.
"Ada apa, Kak Fuse?"
Muthia bertanya saat mereka sudah mendekati gerbang. Tepat di depan gerbang terdapat mobil yang sama saat Muthia dijemput oleh Bintang. Sepertinya ini adalah satu-satunya mobil yang mereka punya.
“Masuklah. Semua ini Fuse yang akan jelaskan.”
“Fuse?”
Muthia bertanya dengan keheranan. Belum selesai rasa bingungnya dengan drama tadi sekarang dia tambah bingung dengan Fuse yang menyebut nama dirinya sendiri seakan-akan itu bukan dirinya sendiri.
Sosok Fuse itu pun memilih untuk duduk di bagian belakang. Saat Muthia ingin menyusul duduk di belakang, sang sosok Fuse itu menyuruhnya untuk duduk di depan.
Muthia hanya menurut apa yang diperintah sang sosok Fuse. Dari luar, Muthia sudah melihat Epa yang duduk di sebelah kursi yang akan diduduki oleh sosok Fuse. Epa yang melihat Muthia segera melambaikan tangannya ke arah Muthia.
Muthia hanya balas melambai sebentar dan segera masuk ke dalam mobil. Betapa terkejutnya dia saat dia melihat ternyata Fuse ada di bangku kemudi.
“Halo, Muthia. Kamu pasti terkejut saat melihat aku di sini.”
Sapa Fuse yang sama sekali tidak dibalas oleh Muthia. Muthia segera melihat bangku yang tadinya akan di duduki oleh sosok Fuse itu dan ternyata tempat itu kini diisi oleh seorang perempuan.
“Oh dia. Kamu pasti dia sudah bertemu dengannya. Nama dia adalah Yanti, dia juga salah satu anggota dari Proteen.”
“Ha... Hai,” sapa Muthia terbata-bata.
Orang yang bernama Yanti itu hanya diam mengangguk sambil sedikit mengangkat tangannya. Muthia hanya tersenyum. Lalu membenarkan posisi duduknya. Fuse yang sedari melihat interaksi keduanya pun hanya bisa tertawa pelan.
“Kak Fuse, ada apa, Kakak manggil aku sampai harus keluar dari lingkungan sekolah?”
Pertanyaan Muthia membuat Fuse berhenti tertawa. Dia pun membuka dashboard mobil dan memberikan sebuah kertas yang berisi cukup banyak tulisan kepada Muthia.
“Nih.”
“Ini?”
"Ini, beberapa daftar fitur yang ada di jam tangan itu,"
"Fitur?" tanya Muthia heran.
"Iya, contohnya seperti telepon tadi. Aku memasukkan banyak hal ke dalam jam tangan itu tapi aku lupa memberitahumu kemarin. Lebih tepatnya aku lupa apa saja yang sudah aku masukkan ke dalam.”
Mobil pun segera melaju. Muthia membaca kertas itu dengan seksama. Dia tidak percaya ada begitu banyak fitur yang dimasukkan Fuse ke dalam jam tangannya.
"Kenapa tidak diberitahu saja kemarin?" protes Muthia.
"Aku juga berniat begitu. Tapi karena aku pelupa, jadi aku tidak ingat harus memberitahumu tentang hal itu," jawab Fuse.
"Kak Epa tau tentang jam ini?"
"Tidak. Dia selalu saja mengerjakan semua hal sendiri. Jadi anggota yang lain selalu terima jadi dari barang buatan dia," jawab Epa.
Muthia hanya bergumam mendengar jawaban Epa. Dia lanjut lagi membaca kertas yang diberikan Fuse tadi.
Jalanan tampak sepi. Fuse memutuskan untuk memacu mobilnya lebih cepat lagi. Kali ini sudah menyentuh angka 80km/jam padahal belum memasuki jalan Utama.
"Fuse, pelan-pelan," tegur Epa.
"Iya-iya maaf.”
"Kebiasaan. Jangan ngebut-ngebut.”
Epa tampak marah. Muthi yang mendengar hal itu pun merasa sedikit takut. Ternyata orang yang dia kagumi memiliki sedikit amarah yang mampu membuatnya takut. Muthia melipat kertas pemerian Fuse tadi kan kembali menanyainya.
“Jadi dia itu siapa, Kak? Maksudku kenapa dia bisa berubah seperti tadi?”
“Oh Yanti. Dia memang seperti itu. Dia juga punya kekuatan spesial, dan dia sudah menunjukkan kepadamu. Dia punya kekuatan menyalin tubuh orang lain.”
Muthia terbelalak kaget. Baru tahu dia kalau ternyata ada kekuatan seperti ini. Muthia pun kembali menoleh ke belakang, memperhatikan sebentar orang yang baru saja diberitahu Fuse. Fuse yang melihat tingkah Muthia pun hanya bisa tertawa dan memberitahu Muthia kalau Yanti itu pendiam.
“Percuma saja. Sesering apapun kamu melihat dia, dia akan ngomong kalau memang butuh.”
Muthia mengangguk paham. Dia pun kembali duduk dengan benar dan kembali bertanya kepada Fuse.
“Jadi kenapa aku sekarng dibawa pergi?”
Kita akan pergi menolong Bintang.”
Muthia mengejutkan dahinya. Memangnya ada apa dengan Kak Bintang?”