Yoga memandangi wajah Renata yang masih belum sadar dari pingsannya. Wajah damai wanita itu terlihat begitu cantik di mata Yoga. Tak henti – hentinya ia tersenyum memandangi wanita yang sudah ia paksa untuk menikah dengannya. Renata perlahan membuka kedua kelopak matanya. Sinar nyala lampu terasa menyilaukan pandangannya. Ia mengerjapkan matanya, lalu mendapati Yoga sedang membelai kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Hai.”, ujar Yoga menyapa istrinya. “Kita di mana?” “Rumah sakit.”, jawab Yoga. Renata mengerutkan dahinya karena ia tidak mengerti mengapa mereka ada di rumah sakit. “Tadi kamu pingsan di rumah.” Renata pun teringat saat ia muntah – muntah di rumah mertuanya. “Aku sakit apa?” “Gak sakit apa – apa.” “Hah?” “Aku udah kasih apa yang kamu minta sebagai balasan

