Empat puluh tiga

1588 Kata

Suasana ramai super market, ricuh suara orang yang saling bersahutan dan tumpang tindih bahkan tidak bisa membuat fokus Kama teralih. Pikirannya kosong, perasaannya kacau karena kejadian seharian ini. Bukan hal yang mudah berada di satu ruangan dengan Yumna yang sudah menjadi mantan kekasihnya, kejadian tadi pagi adalah contohnya. Dia tidak nyaman saat melihat tatapan mata Yumna yang terlihat sekali terganggu dengan kehadirannya. Mata yang sebelumnya selalu menatap hangat dengan senyum terulas bagai bulan sabit itu, tidak lagi didapati oleh Kama. Karena mereka sudah berakhir. "Ka, kesini dong! Kamu bawa troli tapi jauh-jauh gitu jalannya, kan Mama jadi susah," protes Mamanya yang sedang memeluk beberapa barang. Kama mendesah pelan, berjalan mendekat pada Mamanya dan membiarkan perempuan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN