Part 1

1489 Kata
Luna               “ Harusnya ya mbak, simbol yang kamu gunakan itu sama. Sudah beberapa kali ini saya lihat kamu nggak konsisten sama simbol.  Jika begini terus, saya malas ngoreksi revisian kamu. Ganti pembimbing saja.” Lagi-lagi Bu Rini mengomentari kesalahan simbol yang aku gunakan. Kali ini kuakui aku memang salah. Untuk kesekian kalinya aku kurang teliti. Tapi bisa kan, muka Bu Rini biasa aja? Nggak usah pakai mode garang begitu? “ Maaf bu. Nanti saya perbaiki lagi.” Jawabku sambil menunduk. “ Oh iya, saya baru ingat.  Sebentar lagi kamu juga bakal ganti dosen pembimbing kok mbak. Jadi selesaikan dengan beliau.” “ Ganti pembimbing? Maksudnya bu? Eh sebentar, jadi kabar kalau ibu mau resign itu benar?” tanyaku setengah tidak percaya. Pasalnya, dari beberapa hari yang lalu aku memang sudah mendengar kabar kalau Bu Rini akan resign. Tapi kukira itu hanya isapan jempol belaka. “ Iya mbak. Saya mau ikut suami saya pulang ke Manado.” Jawab Bu Rini sambil tersenyum. Walau bagaimanapun juga, segalak-galaknya Bu Rini padaku, beliau sangat baik. Aku sudah terlanjur nyaman dibimbing beliau. “ Terus pembimbing saya siapa Bu?” tanyaku was-was. “ Kemungkinan besar Pak Reza. Dia satu-satunya dosen analisis yang tersisa selain saya.” Jawab Bu Rini yang sukses membuatku melongo. Pak Reza? Dosen baru yang lempeng itu? “ Harus Pak Reza ya bu?” “ Siapa lagi?” bukannya menjawab, Bu Rini malah balik bertanya. Iya sih, Pak Reza memang satu-satunya dosen analisis yang tersisa.             Oh iya, ngomong-ngomong analisis, analisis adalah salah satu konsentrasi yang ada di jurusan matematika. Kalau kata sebagian temanku, analisis adalah konsentrasi tersulit. Tapi beberapa teman yang lain ada yang mengatakan konsentrasi aljabar adalah yang tersulit. Kalau menurutku, sesulit apapun itu asal kamu menyukainya maka semua akan baik-baik saja. “ Adit sudah tahu bu?” tanyaku sambil memainkan bulpoin di tangan.  Adit adalah satu-satunya teman yang mengambil konsentrasi sama denganku. Dan dia juga satu-satunya teman yang bisa aku ajak diskusi jika aku merasa kesulitan. “ Sudah.” “ Kok Adit tidak bilang sama saya ya bu?” “ Mana saya tahu mbak.” “…” ***             Setelah keluar dari ruangan Bu Rini, aku berjalan gontai menuju kantin. Rasanya aku ingin menghilang entah kemana. Saat ini aku jadi membayangkan akan seperti apa aku, jika Pak Reza yang menjadi pembimbing skripsiku. Aku sama sekali belum pernah bertatap muka dengannya di kelas.             Oh iya, ngomong-ngomong kalian belum tahu siapa Pak Reza ya? Jadi, Pak Reza adalah dosen muda idaman mahasiswa jurusanku. Kenapa aku bilang begitu? Itu karena hampir setiap saat grup kelasku ramai hanya karena membahas dosen satu itu. Mulai dari wajah, aura, dan entah apa saja aku tidak begitu menyimak. “ Bu Mar, soto sama es tehnya satu ya?” ucapku pada Bu Marni, penjaga kantin fakultas. “ Yang pedas nggak Mbak Una?” “ Banget Bu.” “ Siap!”             Aku berjalan ke meja pojok. Belum ada satu menit aku duduk, Adit sudah datang dengan menenteng dua buku kemudian tanpa permisi langsung duduk di depanku. “ Lo udah tahu kan, pembimbing kita bakal ganti?” tanya Adit tanpa basa-basi. “ Udah. Dan entah kenapa ya Dit, gue jadi males banget.” Jawabku lesu. “ Males apa males? Bukannya anak cewek angkatan kita paling doyan ngejar-ngejar Pak Reza?” “ Mereka. Bukan gue.” “ Eh Na, lo masih normal kan ya?” “ Lo mau ngatain gue nggak normal cuma gara-gara gue nggak tertarik sama Pak Reza?” tanyaku balik sambil menunjuk mata Adit dengan garpu yang ada di tangan kananku. “ Eh santai dong Na. Gue bercanda doang.” “ Lo sih, nyebelin.” “ Hehe…” “ Duh… kenapa harus dia sih dit? Nggak yang lain aja gitu? Terus kenapa Bu Rini pakai pulang ke Manado segala? Nggak nunggu kita lulus dulu?” “ Ya udah sih Na, terima ajak. Udah rezeki kita.” “ Lo sih enak. Lo kan pinter. Nah gue? Udah otak pas-pasan, susah nyantol kalau dikasih tau. Bisa cepet tua kalau gue sering lihat wajahnya yang lempeng kaya jalan tol.” Cerocosku sambil mengetuk-ngetuk meja dengan garpu. “ Lo tuh ya, bisa nggak sih nggak ngatain dosen sehari aja? Kualat tau rasa lo?!” “ Kok lo—“ kalimatku terhenti ketika Bu Marni datang membawa soto panas dengan asap yang masih mengepul di atasnya. “ Ini Mbak Una. Sambelnya ibu kasih tiga sendok gede.” Ucap Bu Marni sambil tersenyum, “ Iya Bu. Teriakasih ya…” “ Sama-sama Mbak Una. Mas Adit nggak sekalian?” “ Boleh deh Bu, tapi sambelnya dikit aja.” Adit meringis. “ Cemen lo!” “ Biarin Lah. Suka-suka gue. Gue yang makan ini.” “...”             Itulah Adit. Dia sama sekali tidak suka makan pedas. Wajahnya akan merah padam ketika dia kepedasan. Satu lagi, dalam hal makanan, dia akan lebih memilih sesuatu yang manis daripada yang asin. Ya mau bagaimana lagi? Masakan orang Yogyakarta memang identik dengan manis kan ya? Asal kalian tahu, Adit itu asli Yogyakarta. Dia bisa ‘gue-elo’ juga setelah dua tahun dia berada di Jakarta. *** Dua minggu kemudian…             “ Jadi bisa saya lihat sampai mana skripsi kamu?” tanya Pak Reza begitu aku duduk di kursi yang berada tepat di depannya. “ Ini Pak.”             Aku hanya diam ketika Pak Reza memeriksa skripsiku dengan saksama. Sesekali aku melihat ke arahnya. Ya, kuakui Pak Reza memang tampan. Tapi apa gunanya wajah tampan kalau hanya sekedar tersenyum saja tidak bisa? “ Simbol kamu masih sangat berantakan. Kamu harus konsisten agar pembaca tidak bingung.”  Pak Reza menyerahkan kembali kertas pembahasan milikku. “ Nanti saya perbaiki lagi Pak.” Jawabku patuh. “ Saya kasih waktu tiga hari untuk perbaikan simbol.” Ucap Pak Reza lagi sambil bangkit dari kursi dan mengambil sebuah tumpukan kertas. “ Hanya tiga hari pak?” “ Mau minta satu bulan?” “ Maksud saya---” “ Coba kamu pelajari ini. Sepertinya jurnal ini sedikit banyak akan membantu.” Pak Reza menyerahkan satu bendel kertas yang barusan dia ambil. “ Serius pak, ini buat saya?” tanyaku mulai antusias. Ya gimana enggak? Jarang-jarang kan, ada dosen begini? “ Difotokopi. Besok pagi harus sudah ada di meja saya.” “ Kirain dikasih ke saya pak.” Tepat setelah mengatakan itu, Pak Reza menatapku datar. Kelewat datar malah. Nyaris tanpa ekspresi. “ Saya bercanda pak, heee.” ucapku akhirnya. “ Ingat, besok pagi harus sudah kembali.” “  Siap. Terimakasih loh pak.” Aku tersenyum ketika menerima jurnal itu. Ah, ternnyata dia tidak seburuk itu. “ Hmmm. Hari ini itu dulu ya, saya ada urusan.” Ucapnya masih tanpa ekspresi sama sekali. “ Oh iya pak.”             Aku menyingkir ketika Pak Reza tiba-tiba berdiri dan langsung melangkah keluar ruangan. Setelah dia pergi aku jadi senyum-senyum sendiri. “ Nggak papalah muka dia kaya tembok gitu. Yang penting baik.” gumamku sebelum benar-benar keluar dari ruangannya. *** Reza             “ Kenapa harus sekarang sih bu? Aku masih di kampus.” aku menggerutu ketika lagi-lagi ibu menelfonku hanya untuk memintaku menjemput beliau di Butik. Asal kalian tahu, letak butik dan kampus tempat aku mengajar kurang lebih satu jam. Bukannya aku tidak mau menjemput ibu, tapi sayang aja sama waktuku yang habis di perjalanan. “ Iya bu. Tapi mungkin agak telat. Iya bu, aku tutup sekarang.”             Setelah menutup telfon, aku langsung menyambar jaketku dan bergegas keluar ruangan. Aku memang sudah selesai ngajar sejak satu jam yang lalu. Tapi aku masih belum selesai memeriksa tugas milik beberapa mahasiswaku. Aku barusaja berbelok menuju koridor fakultas ketika tiba-tiba aku melihat dua mahasiswa bimbinganku sedang duduk di gazebo fakultas sambil sesekali tertawa. Mereka adalah Aditya dan Aluna. Ya, siapa lagi kalau bukan mereka? Dari sekian mahasiswa matematika angkatan mereka, hanya mereka berdua yang mengambil konsentrasi analisis. Konsentrasi yang aku tekuni sejak kuliah S-1. “ Habis lulus kuliah, lo langsung nikah aja deh Na. Otak lo mana kuat buat lanjut S2?” “ Nggak bisa lebih sadis lagi ngehinanya mas?” “ Haha. Wajah lo lempeng amat dah.” “ Iya percaya yang anak kebanggaannya Bu Rini. Gue mah apa atuh, butiran upil aja masih kebagusan.” “ Kayaknya omongan lo ada benernya juga deh.” “ Adit!!!” “ Hahaha…” “ … ”             Bibirku sedikit terangkat keatas begitu mendengar obrolan mereka. Sebenarnya aku tidak terlalu paham mahasiswa seperti apa Aditya dan Aluna itu. Aku dosen baru disini, makannya aku belum pernah bertatap muka di kelas dengan mereka. Sebelum ini aku memang sudah menjadi dosen, tapi bukan di kampus ini. Aku memutuskan ikut pindah ketika orang tuaku juga pindah.             Oh iya, aku belum berkenalan ya? Hai, namaku adalah Areza Maheswara. Aku biasa dipanggil Reza, atau bisa juga Eza. Tapi kebanyakan teman dan keluargaku memanggilku Eza. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku sudah menikah empat tahun yang lalu dan sekarang sudah memiliki satu anak laki-laki. Sedangkan adikku, Dia adalah mahasiswa semester lima di kampus tempat aku mengajar saat ini. Sementara itu dulu ya, aku sedang buru-buru. Lain kali aku sambung lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN