Bab 22 "Senang bertemu kembali dengan Dokter Syifa. Dokter cantik dan profesional di rumah sakit ternama." Tangan Helan terulur di depan Syifa yang memandang tak acuh. "Terima kasih," balas Syifa dengan nada dingin disertai senyum kaku. Syifa tidak membalas jabat tangan. Ia justru menangkupkan kedua tangannya hingga laki-laki itu menarik tangannya dengan senyum masam. "Sepertinya kita berjodoh, Dokter." Helan tersenyum hingga dua sudut bibirnya terangkat membentuk bulan sabit. "Sebaiknya buang angan-angan jauh itu, Dok. Di sini bukan tempatnya kasmaran. Kita perlu bekerja sama untuk mencapai satu tujuan." "Tentu saja, Dokter Syifa. Kalau tugas kemanusiaan bisa dibarengi dengan hal itu, kenapa tidak? Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui." Helan mengerlingkan mata sambil beranjak p

