“Jendral—lepas!” pekik Nabila. Ia berusaha menarik, tapi STR nya tak seberapa dibanding Saleh. “Lepasin tanganmu!” seru Erlangga. “Dik Nabila, sadarlah, kau adalah kader Beringin Kuning!” ucap Saleh. “Terus? Cuma gara-gara Nabila kadermu bukan berarti kau bisa ngatur-ngatur!” teriak Erlangga. “Hah?” Saleh mendelik. “Wati! Lihat anak buahmu! Dia mau ngelanggar kesepakatan!” Tiba-tiba lengan besar membelit leher Erlangga, kemudian menariknya ke belakang. Pemuda itu meronta, namun tak sanggup lepas dari belenggu tersebut. “Diam!” desis orang itu, Igor. “Uk—h—” Erlangga memukul-mukul lengan Igor, menyikut rusuknya Igor, menjejak telapak kakinya, tapi semua percuma. Ia merintih di sela napasnya, “Ak—u—Banteng—" “Aku tahu, makanya kau harus mengikuti aturan!” jawab Igor dingin. Pada saa

