Zona Aceh (Part 7)

1492 Kata
Jono menebaskan pedangnya. Erlangga bertahan dengan menyilangkan kedua tangan, tapi serangan itu mengurangi Hit Pointnya sangat banyak. Lalu tombak Tahir menyusul, diikuti tinju knuckle Sukma. Pemuda itu tersedak, merasakan dirinya bagai samsak hidup. Ia melompat mundur untuk membuat jarak. Ia berniat mengaktifkan skill sebagai serangan balasan. Tapi mendadak hatinya ragu. Sebab lawannya ini adalah manusia, bukan monster yang tak punya jiwa. Bila ia menghabisi Hit Point mereka, sama saja ia jadi pembunuh. Sayangnya Jono dan kedua temannya tak memiliki standar moral tersebut. Mereka terus menyerang tanpa ampun. Orang-orang itu adalah pembunuh. “Stop!” teriak Erlangga sebelum melarikan diri dengan ngeri. Jono langsung mengejar menggunakan skill Earth Splatter. Pria itu menerkam seperti singa, kemudian menghujam sang pemuda hingga mencium tanah. “Argh!” Tubuh Erlangga berdenyut nyeri. Nyawanya sudah di ujung tanduk. Jono menginjak kepalanya. Ia benar-benar tak berkutik. Sepertinya ada perbedaan level yang cukup jauh di antara mereka. “Udah ya, sampai jumpa di akhirat.” Jono mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Erlangga menatap pria itu melalui ujung matanya. Ia bisa melihat tatapan yang sama sekali tak memiliki belas kasihan. Seolah pemuda itu tak lebih dari ayam potong. Jadi ia menyerah. Sebab memohon-mohon juga rasanya percuma. Jono mengayunkan pedangnya. Kepala Erlangga lepas. Tubuhnya tersentak, lalu tak bergerak lagi. Perlahan kelopak matanya menutup. “Mampus,” umpat Jono puas, menyaksikan darah segar memancar membasahi kakinya. Tahir pun tak bisa menyembunyikan sukacitanya. Cuma Sukma yang tiba-tiba muntah. “Kenapa Suk?” tanya Tahir. “Masih kaku aja.” “Nggak apa-a—hoekk—" “Hahaha, dah, dah, balik ke desa yuk.” Jono menepuk-nepuk bahu Sukma. “Mayatnya nggak diberesin dulu, Jon?” Tahir menekan tubuh Erlangga menggunakan tombaknya. “Nggak usah, lagian siapa juga yang mau masuk sampe sini? Biarin aja jadi makanan kelelawar.” “Yowis.” Ketiganya beranjak meninggalkan jasad Erlangga, mengira semuanya sudah selesai. Orang-orang itu tak tahu bahwa Hit Point sang pemuda sudah kembali penuh, dan kepalanya tersambung lagi. Tapi memang Erlangga masih tak bergerak. Ia terus berbaring di tanah, mengulang kejadian barusan dalam pikirannya. Pertanyaan itu masih terngiang di benaknya. Kenapa? Kenapa sesama manusia yang terjebak di tempat ini malah saling bunuh? Apa yang dimaksud dengan mengambil alih desa? Untuk apa menguasai penduduk? Ia benar-benar tidak mengerti. Hal itu di luar nalarnya. Ia bangkit, lalu berjalan gontai menyusul Jono keluar. Ia menjaga jarak cukup jauh sehingga mereka tak sadar sedang diikuti—terlebih karena mereka berpikir Erlangga sudah mati.   ***   Jono dan Tahir memasuki desa dengan wajah sumringah, sementara Sukma masih pucat. “Ayo minum-minum!” ajak Jono. “Katanya persediaan tinggal sedikit, Jon?” “Tenang aja, harusnya bentar lagi kita dapet kiriman.” “Oke lah kalau begitu. Biar seger juga nih si Sukma.” Pria tua itu mengusap-usap tengkuk temannya. Sukma tersenyum kecut. Ia kesal pada dirinya sendiri. Setelah semua ini ternyata perutnya masih lemah. Tapi mau bagaimana lagi, di dunia nyata pun sebenarnya ia bukan preman. Ia cuma tukang ojek yang menyembelih ayam pun tak pernah. Kalau ada di antara Pemuda Nusantara yang aslinya memang kriminal, mungkin itu adalah Jono dan Tahir. “Ba—Bang Jono!” Seorang anak laki-laki tiba-tiba datang mencegat mereka. “Apa lagi, Rama?” tanya Jono malas. Ekspresi anak itu sangat tegang, dan matanya agak berkaca-kaca. “Di—di mana Kak Angga? Katanya kalian berburu bareng?” “Oh!” Mulut Jono membentuk huruf O. “Sayang banget, dia dibunuh monster di dungeon. Padahal udah dibilang jangan jauh-jauh, dia malah keluyuran. Akhirnya ketangkep Manananggal.” Dada Rama mencelos. Ia sulit percaya bagaimana mungkin seorang penjelajah yang mampu menghadapi gerombolan Kelelawar Goa dengan mudah dan mengalahkan Manananggal satu lawan satu bisa melakukan kecerobohan semacam itu. “Nggak mungkin…” gumamnya. “Apa?” Jono tak mendengarnya jelas. Rama tak mau menelan ucapan pria itu bulat-bulat. “Udah lah, minggir!” Ketimbang melewati, Jono memilih mendorong anak laki-laki itu agar menyingkir. Rama terus memperhatikan Jono, lalu mengikutinya. Ia sangat menyesal. Harusnya ia melarang Erlangga masuk dungeon bersama Jono. Tapi semalam ia terlalu takut. Dan ketakutannya harus dibayar mahal. Namun, ia tak mau kesalahan ini terulang lagi. Ia tak mau kehilangan lagi. Maka ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berteriak, “Kalian ngebunuh Kak Angga, ya?!” Teriakan itu sangat keras hingga terdengar oleh penduduk yang berada di sekitar. Akibatnya mereka segera menjadi pusat perhatian. Jono pun berhenti untuk menoleh, “Kamu bilang apa?” Rama mengumpulkan keberaniannya sekali lagi, “Kalian ngebunuh Kak Angga!” “Jangan ngaco! Mana buktinya?!” “Itu—” Rama berpikir cepat. “Bekas luka di badan Kak Angga pasti bukan cakaran monster!” “Oh, gitu?” Jono menaikkan kedua alisnya. “Yaudah, coba kamu ke dungeon terus bawa mayatnya ke sini, biar kita lihat bareng.” Rama terdiam. Ia tahu itu mustahil. Ia tak bisa masuk dungeon seorang diri dan keluar hidup-hidup. Namun, seorang kakek tua datang. Ia ikut berteriak-teriak dalam bahasa daerah. Sepertinya ia pun memahami apa yang sedang terjadi. Jono tampak mulai terganggu. Ia mengeratkan gerahamnya. “Diam…” gumamnya. Tapi kakek itu terus bicara deras sambil berjalan ke arah Jono. “Gua bilang diem!” Jono meninju si kakek tanpa ampun. Tubuh ringkihnya terpental jauh. “Kakek!” Rama berlari mendekati orang tua malang tersebut. “Kalian ini berisik! Banyak bacot!” teriak Jono. Ia mengeluarkan pedangnya. “Lama-lama capek juga ngurusin kalian!” Ucapannya serius. Tatapan dan intonasinya memiliki niat, bukan sekedar ancaman kosong. Rama pun bisa merasakan itu, membuat lidahnya kelu seketika. “Bang Jono! Bang Jono!” Ross menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Wanita itu menghalangi antara Jono dan Rama, kemudian membentangkan kedua tangannya. “Jangan, Bang Jono.” “Ross…” Jono mengdengus. “Kan saya udah nyuruh ngajarin anak itu biar ga banyak tingkah?” “Maafin Rama, Bang Jono. Dia cuma anak-anak.” “Gimana ya? Kesabaran saya udah abis.” Keringat dingin mengaliri kening Ross. Nasib anak-anaknya di ujung tanduk. Maka ia menerjang Jono, lalu memeluknya. “Bang Jono, Bang Jono boleh ngelakuin apa aja sama saya, tapi jangan ke anak-anak.” “Hoo. Yang bener?” “Bener, Bang.” Mendadak ekspresi Jono berubah cerah. Ia menyeringai pada Rama. “Tuh bocah, lihat, bukan saya yang minta, tapi ibumu sendiri yang nawarin. Semua gara-gara kamu.” Rama bukan anak kecil lagi. Setidaknya sejak tiba di dunia ini, ia dipaksa menjadi dewasa. Ia tahu apa yang selama ini terjadi. Ia tahu apa yang dilakukan Jono setiap mengajak Ross ke tendanya. Ia tahu Ross melakukan itu untuk melindungi anak-anaknya. Hal yang membuatnya marah pada dirinya sendiri. Bukan hanya karena ia tak bisa melakukan apa-apa, tapi karena kadang ia justru merasa terselamatkan oleh Ross. Tapi akibatnya sekarang Ross mengandung. Bayi manusia akan dilahirkan di dunia yang asing ini. d**a anak itu berkecamuk. Tangannya mengepal hingga bergetar, namun tak mampu bergerak. Ia merasa lemah. Tak berdaya. “Ayo ke tenda!” Jono tertawa sembari memeluk pinggang Ross. Ia berkelakar pada Tahir dan Sukma, “Minum-minumnya nanti lagi, ya!” Tahir berdecak. “Sekarang gimana?” tanya Sukma. “Jono seneng-seneng sendirian,” ucap Tahir. “Kita juga seneng-seneng dulu aja.” Sukma menelan ludah. Ia tahu betul seperti apa ‘kesenangan’ versi Tahir. “Suk, pegangin tua bangka itu,” ia menunjuk kakek tua di samping Rama, meski ia sendiri seorang tua bangka. Sukma menurut. Ia menarik tubuh pria tersebut. Tahir mengeluarkan tombaknya, lalu dihujam tanpa ragu. Mata bilahnya menembus perut si kakek hingga ia berteriak kesakitan. Hit Pointnya berkurang drastis sampai cuma sisa sedikit. Tahir memutar-mutar tombaknya. Ia tersenyum puas menyaksikan makhluk menyedihkan di kakinya merintih pilu. Penduduk yang tadinya menonton segera masuk ke tenda masing-masing. Tapi Tahir belum selesai. Ia menyuruh Sukma untuk menarik mereka keluar satu-persatu. Berkat sistem dunia ini, tak masalah walau orang-orang itu dilukai seperti apapun juga. Selama Hit Pointnya tidak habis maka mereka akan tetap hidup. Rama cuma bisa gemetar menjadi saksi atas kekejaman tersebut. Begitupun Erlangga. Pemuda itu sembunyi di balik salah satu tenda, mengukir semua dalam memorinya. Rahangnya tegang hingga bibirnya tergigit. Ia tak mampu mempercayai kedua matanya sendiri. Akhirnya potongan teka-teki dalam kepalanya tersusun. Alasan kenapa Rama dan Sinta nekad memasuki dungeon meski sudah ada kelompok yang menyediakan makanan. Alasan kenapa Ross bisa mengandung padahal sudah terjebak di sini selama dua tahun. Alasan kenapa Pemuda Nusantara harus menjadi satu-satunya sumber pemberi makanan penduduk desa. Alasan kenapa dirinya harus dibunuh. “Monster…” gumamnya bergetar. Ia tak tahu apakah hukum rimba cuma terjadi di tempat ini atau juga terjadi di tempat lain. Yang jelas ia tak bisa membayangkan jika Nabila sampai tinggal di tempat seperti ini. Ia ingin segera menemukan gadis tersebut. Tapi, ia tak bisa meninggalkan desa ini begitu saja. Tidak setelah apa yang ia lihat. Meski demikian, ia juga sadar akan perbedaan level di antara mereka. Saat ini ia tak cukup kuat menghadapi Jono. Maka ia menarik diri. Di dunia ini, satu-satunya cara menjadi kuat adalah dengan meningkatkan level. Jadi yang harus ia lakukan adalah memasuki dungeon Banda Aceh, lalu memburu para Manananggal hingga tak bersisa.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN