・Winter Traveler (1)

3102 Kata
Simple-Shot Three : Winter Traveler (1) ****** BAGI Soyoon, musim dingin tahun ini tak ada bedanya dengan musim dingin di tahun-tahun sebelumnya. Jalanan yang dipenuhi dengan salju, pepohonan yang seolah-olah jadi berwarna putih, orang-orang yang memakai jaket tebal, topi kupluk, dan sarung tangan rajut. Kantornya pun masih hectic dengan pekerjaan, hanya dibedakan dengan orang-orang yang mulai berpakaian tebal. Gadis-gadis kantor yang biasanya berlomba-lomba memakai rok pendek pun mendadak jadi memakai celana panjang. Soyoon? Dia juga kurang lebih sama; sama dengan orang-orang itu dan juga sama dengan tahun lalu. Dia memakai blazer dan celana panjang berwarna hitam. Rambut yang biasa ia kucir dengan gaya ponytail, kini hanya ia gerai. Ada syal yang melingkar di lehernya; ia juga memakai sarung tangan favoritnya yang berwarna coklat muda. Soyoon adalah seorang gadis yang tidak tinggi, tetapi juga tidak pendek. Tubuhnya proporsional. Baik itu tubuh maupun wajahnya, semuanya masuk ke kategori ‘normal’ di Korea Selatan. Rasa dingin yang ia rasakan di musim dingin tahun ini juga kurang lebih sama. Membekukan, seolah-olah menembus hingga ke tulang. Kalau suhunya turun beberapa derajat lagi, mungkin Soyoon akan merasa nyeri tulang. Meski Soyoon tak ingin mengakuinya, sebenarnya ia merasa lebih lemah di musim dingin karena ia…well, kesepian. Bagi orang-orang yang memiliki keluarga atau seseorang di samping mereka, musim dingin akan terasa hangat. Mereka akan lebih sering menghabiskan waktu bersama, saling menghangatkan. Cokelat panas, selimut tebal, tontonan televisi… That’s very warm. Namun, tidak untuk orang-orang yang sendirian seperti Soyoon. Musim dingin akan membuatnya merasa lebih kesepian. Udara dingin yang menusuk, keinginan untuk mendekap seseorang, rasa iri yang muncul saat melihat keluarga yang menghabiskan waktu bersama, suasana di luar yang entah mengapa terasa begitu mencekam, sepi, dan dingin, serta rasa sedih yang tiba-tiba muncul karena sadar bahwa dirinya hanya sendirian selama ini… …semua itu cukup menyakitinya. Namun, sudahlah. Soyoon selalu merasakan itu setiap tahun dan kini dia sudah berumur 25 tahun, jadi dia sudah dewasa dan terbiasa dengan hidupnya. Lebih ke…menerima saja, sih. Soyoon keluar dari lift. Dia sampai di lantai lima, tempat di mana unit apartemennya (bukan apartemen mewah) berada. Soyoon melewati koridor yang sepi, tidak seterang biasanya karena ada sebuah lampu yang mati. Entah karena rusak atau apa…yang jelas Soyoon ingat bahwa lampu itu masih hidup tadi pagi. Namun, dari kejauhan…Soyoon melihat ada seseorang di depan sana. Seorang pria yang berdiri di… …sebentar, Soyoon harus lebih mendekat. Ah, pria itu ternyata berdiri di unit apartemen yang bersebelahan dengan unitnya. Soyoon kira pria itu berdiri di depan unitnya; Soyoon kira pria itu sedang menunggu atau mencarinya. Ternyata bukan. Namun…bukankah unit sebelah itu kosong? Apakah pria itu penghuni barunya? Soyoon berjalan semakin mendekat. Karena dia tidak memakai high heels hari ini, suara ketukan sepatunya di lantai tidak terlalu terdengar. Mungkin, itulah sebabnya pria itu tidak menoleh ke arahnya…atau mungkin pria itu hanya terlalu fokus melakukan sesuatu di sana. Semakin didekati, Soyoon semakin bisa melihat penampilan pria itu. Pria itu memiliki rambut lurus yang berwarna cokelat. Tubuhnya tidak terlalu besar, cukup slender, tetapi dia tinggi. Dia memakai jaket parasut panjang berwarna hijau tua, celana jeans berwarna navy, dan sepatu olahraga berwarna putih. Dia memakai sebuah ransel yang berwarna hitam. Setelah Soyoon berada di belakang pria itu—hingga akhirnya berdiri berdampingan dengannya—Soyoon pun paham bahwa ternyata pria itu sedang menekan-nekan password di gagang pintunya. Tiba-tiba, pria itu mulai balas melihat Soyoon. Dia menoleh ke kanan, tepat ke wajah Soyoon. …dan wajahnya ternyata sangat…tampan. Dia bukan tipe-tipe pria yang macho. Dia lebih ke…soft. Cute. Tubuhnya terlihat seperti pria dewasa, tetapi wajahnya sangat…what is it called, again? Oh. Baby face. Pria itu pun mulai tersenyum. Bukan, bukan senyum biasa. Dia tersenyum semringah, menampakkan deretan gigi putihnya. Matanya nyaris tertutup, melengkung, seolah-olah ikut tersenyum. Hingga akhirnya, dia mulai bersuara. “Oh, halo! Penghuni unit sebelah, ya? Aku penghuni baru di sini!” Mata Soyoon kontan melebar. Pembawaan pria itu yang cheery, sederhana, ditambah dengan wajah tampannya yang sangat baby face, sukses membuat cuaca dingin hari ini mendadak jadi hangat. Terang. Cerah…secerah mentari pagi. Dia langsung mengeluarkan semacam aura berwarna kuning yang menyenangkan, summer vibes, di hari yang bersalju ini. Keberadaannya seakan-akan langsung membuat koridor yang lengang dan dingin itu jadi terang, hangat, dan berwarna. Apakah kau melihat kata ‘hangat’ dan ‘terang’ berkali-kali? Ya, tentu. Karena rasanya tak cukup jika hanya dikatakan sekali. Itu harus ditekankan karena faktanya memang begitu. He looks like a dog…or a puppy. Like an innocent boy. Kira-kira…berapa usianya? Kalau dilihat dari depan begini, ternyata…pria itu memiliki poni. Rambutnya lurus dan jatuh, menutupi keningnya. Sungguh adorable. “A—Ah…” Soyoon gagap karena agak…kaget sekaligus tak menyangka bahwa dia akan mendapatkan tetangga yang sangat riang. Sangat bersahabat. Pria tampan yang imut dan cheerful. “I—Iya. Unitku di sini. Di sebelahmu.” Pria itu pun mengangguk. Ia lantas mengulurkan tangannya, ingin bersalaman dengan Soyoon. “Salam kenal, ya! Namaku Ryu!” Oh. What a sunshine. The full warmth amidst the cold snow. “Uhm—ya. Salam kenal.” Soyoon mengangguk, masih canggung. Matanya masih terbuka lebar; dia meneguk ludahnya seraya mengulurkan tangannya dengan sedikit ragu. Namun, karena tidak ingin terlihat seperti...terlalu overwhelmed dengan sikap Ryu, Soyoon pun berdeham dan menormalkan ekspresinya. Dia tersenyum, lalu berkata, “Namaku Soyoon. Salam kenal, ya.” “Hmm!” Ryu mengangguk. “Salam kenal, Soyoon.” Mata Soyoon semakin melebar. Oh, Tuhan. Mengapa mendengar namanya disebut oleh Ryu membuat tubuhnya terasa…aneh? Itu seolah-olah terdengar berbeda. So soft…yet so… …sexy. Tunggu. Apa yang kau pikirkan, Soyoon? Soyoon mencoba untuk fokus kembali. Dia sendiri tak tahu mengapa dia bisa berpikir seperti itu. Entah karena suara Ryu yang terbilang cukup berat untuk wajah imutnya…atau karena mata coklatnya yang jernih itu tampak bersinar saat menatap Soyoon. Di kehidupan Soyoon yang terbilang sepi dan dull, kehadiran orang seperti Ryu yang mengajaknya berbicara seperti ini…cukup membuatnya…tercengang. Tidak dalam artian yang buruk, sebenarnya. Hanya seperti…kejutan kecil. Seperti sedikit tersetrum di jari tangan. Cukup untuk membuat matanya terbuka lebar. Ada beberapa gadis di kantornya yang selalu cheerful, tetapi mereka tak pernah mengobrol sedekat ini dengan Soyoon. Jadi, Soyoon agak…kaget sekaligus bingung. Mereka mulai bersalaman. Setelah jabatan tangan itu terlepas, pria bernama Ryu itu pun kembali menekan-nekan sesuatu di gagang pintunya. Semacam menekan password di sana. Tanpa sadar, Soyoon malah memperhatikan semua itu, lupa bahwa dia harus segera masuk ke apartemennya untuk mandi dan beristirahat. “Ah…aku sedang mengganti password unitku. Pemilik apartemen ini menyuruhku untuk menggantinya,” ujar Ryu, sadar bahwa Soyoon memperhatikannya. Soyoon langsung tersentak, kaget sekaligus heran mengapa dia masih terpaku di depan pintu. Dia jadi terlihat seperti ingin tahu password unit Ryu, tetangga yang baru ia kenal. “O—Oh, begitu,” jawab Soyoon dengan gugup, seolah-olah ketahuan mengintip. “Y—Ya, pemilik apartemen biasanya akan menyuruh orang yang baru masuk untuk mengganti password unit mereka agar lebih aman dan leluasa. A—Aku duluan, ya.” Setelah mengatakan itu, Soyoon pun menekan password di gagang pintunya dengan sedikit panik dan terburu-buru. Soyoon jadi bersikap seperti wanita dewasa yang awkward menghadapi pria muda dengan full charm seperti Ryu. Seperti bertemu dengan berondong tampan. Eh, siapa yang bilang kalau Ryu itu berondong? Don't judge a book by its cover, Soyoon, Goddammit. “Oke, Soyoon,” jawab Ryu sambil tersenyum kepada Soyoon, tetapi Soyoon tak menoleh lagi karena tak ingin Ryu melihat kecanggungannya. Gadis itu hanya mengangguk, membuka pintunya dengan cepat, lalu masuk ke unit apartemennya. Setelah pintu apartemennya tertutup, Soyoon pun terdiam di balik pintu itu selama beberapa detik. Dia menatap lantai apartemennya dengan tatapan tak percaya. Musim dingin kali ini…agaknya sedikit berbeda daripada biasanya. ****** Sejak pertemuan pertama itu, Soyoon dan Ryu jadi sering bertemu. Dalam dua minggu terakhir, mereka sering berpapasan di koridor; saat pergi bekerja, saat membuang sampah, saat Soyoon pergi berbelanja, atau kadang-kadang…Soyoon akan melihat Ryu melalui jendela apartemennya. Dia melihat Ryu berjalan di bawah sana, memakai ransel dan jaket. By the way, jaket Ryu selalu gonta-ganti; sepertinya, Ryu memiliki banyak jaket dengan jenis yang berbeda. Kadang-kadang, Ryu juga memergoki Soyoon yang melihatnya melalui jendela. Pria itu akan mendongak, menatap Soyoon dengan mata bulatnya yang lucu, tertawa, lalu menyapa Soyoon sambil melambaikan tangannya. Manis sekali. Saat bertemu, biasanya mereka akan mengobrol singkat. Ryu akhirnya tahu bahwa Soyoon adalah seorang pekerja kantoran. Ryu bilang, dia juga sama; dia juga pekerja kantoran. Namun, kantornya tidak seformal Soyoon, soalnya dia bekerja di kantor start-up. Maka dari itu, pakaian kerja yang ia kenakan juga cukup fleksibel. Oh, satu lagi. Ia…ternyata seumuran dengan Soyoon. Meskipun Soyoon masih menghabiskan waktu sendirian di dalam rumahnya, setidaknya di musim dingin ini…dia tidak terlalu kesepian. Kehadiran Ryu di sebelah rumahnya telah membuat hari-harinya berwarna. Rasa dingin dari salju yang menumpuk di luar juga tidak terasa sampai menusuk tulang, soalnya ada sumber penghangat alami yang tinggal di sebelah rumahnya. Ah. Ryu benar-benar mengubah suasana hidupnya dalam waktu yang supersingkat. Apakah Ryu akan terus tinggal di sebelah rumahnya? Semoga begitu. Malam ini, seperti biasa…Soyoon ada di dalam apartemennya. Dia pulang sore; sesampainya di rumah, dia akan mandi, makan malam, lalu duduk di depan televisi sambil meminum s**u hangat. Dia ingin mengecek atau memainkan ponselnya, tetapi karena tak ingin melihat chat dari seseorang di kantornya (chat masalah pekerjaan), dia pun memilih untuk tidak memegang ponselnya sama sekali dan menonton televisi. Dia sudah memakai piama yang nyaman, membawa selimutnya, lalu duduk di sofa yang ada di depan televisi. Ah. Nyaman sekali. Tiba-tiba, Soyoon mendengar suara ketukan di pintu depan. Ada seseorang yang mengetuk pintu apartemennya. Soyoon kontan menoleh ke asal suara. Siapa yang berkunjung ke apartemennya malam-malam begini? Soyoon pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke pintu depan dengan cepat seraya menyahut, “Ya? Tunggu sebentar!” Begitu Soyoon membuka pintu itu, Soyoon bisa melihat bahwa yang berdiri di depan unit apartemennya adalah Ryu. Ryu…dengan segala keramahannya. Pria itu berdiri di depan Soyoon, mengenakan pakaian santai berupa t-shirt berwarna putih dan celana training berwarna hitam. Rambutnya masih basah dan agak berantakan. Keningnya agak terlihat dan itu…luar biasa. Ternyata, pria yang imut juga bisa terlihat seksi. Ada sesuatu yang ‘spesial’ tentang pria yang rambutnya masih basah dan berantakan. They kinda look…hotter? Soyoon meneguk ludahnya. Dia menatap Ryu dengan lekat, matanya lupa berkedip. “Ah, Soyoon!” sapa Ryu dengan riang. “Kau belum tidur, ‘kan? Aku membawakan sup untukmu.” Ryu mengulurkan tangannya, menunjukkan sebuah mangkuk plastik yang tertutup. Soyoon langsung menatap mangkuk plastik itu. Dia bahkan tidak sadar bahwa Syu sedari tadi sedang membawa sebuah mangkuk besar. “O—Oh…ya!” Soyoon mengerjap, memfokuskan dirinya kembali. Dia pun meraih mangkuk berisi sup itu. “Terima kasih, ya. Ini buatanmu sendiri?” “Ah—haha!” Ryu tertawa, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya. Kalau dipikir-pikir, aku belum memberikan makanan apa pun padamu saat aku baru pindah dua minggu yang lalu. Seharusnya aku memberikanmu sesuatu sebagai bentuk perkenalan. Tteok, misalnya.” Soyoon ujung-ujungnya jadi tertawa kecil. Terhibur. “Kau ini. Tidak apa-apa kok. Ini sudah terlambat sekali, tahu? Kau sudah dua minggu tinggal di sini.” Ryu tertawa kencang, kepalanya sampai mendongak. Setelah itu, ia menatap Soyoon lagi. “Maaf, maaf. Aku lupa, sungguh. Oh, ya, kalau supnya tidak enak, beri tahu aku, ya. Biar aku yang membuangkannya untukmu.” Soyoon mengernyitkan dahi; dia agak bingung. “Lho, kok begitu?” Ryu pun berkacak pinggang…lalu memiringkan kepalanya. Setelah itu, ia tersenyum miring. “Ya…tidak apa-apa, sih. Kalau kau yang membuangnya, nanti aku patah hati.” Mata Soyoon membeliak. Pipi gadis itu langsung merona. Me—mengapa dia patah hati? Apa maksudnya? Dia sedang…menggodaku, ya? Soyoon buru-buru berdeham. Menggeleng. “Kau ini! Mana mungkin aku membuangnya!” Dasar. Terkutuklah boy-next-door yang memesona ini! Ryu tertawa lagi. “Ya, kan, siapa tahu supnya tidak enak bagimu. Tadi sudah kucicip, sih. Rasanya pas kok.” Sebentar. Jadi…setelah ini…Ryu akan kembali ke apartemennya dan Soyoon pun akan masuk kembali. Hingga akhirnya, Soyoon akan…memakan sup ini sendirian. Kok…rasanya tidak menyenangkan, ya? Tiba-tiba, ada sesuatu yang melintas di otak Soyoon. Memelesat; bergerak secepat kilat di pikirannya. Membuat tubuh Soyoon mematung. Membuat jantung Soyoon berdegup kencang. Membuat Soyoon jadi meneguk ludahnya dengan gugup. Pikiran itu akan sungguh…abnormal. Sungguh nekat. Sungguh intrusive. Namun, mungkin itu adalah buah dari hasrat yang ia tekan selama ini. Hasrat untuk lebih dekat dengan Ryu… Soyoon ingin menyuarakan pikirannya barusan. Namun, ia tahu bahwa jika ia menyuarakan pikiran itu, ada dua hal yang mungkin akan terjadi. Pertama, dia dan Ryu akan menjadi lebih dekat. Kedua, Ryu akan menolaknya dan dia takkan bisa melihat mata Ryu secara langsung lagi karena malu. Soalnya, yang melintas di pikiran Soyoon barusan adalah… …dia ingin mengajak Ryu makan sup itu bersamanya. Di dalam rumahnya. Ah…ya, benar. Dia sangat…tertarik kepada Ryu. Mungkin karena sifat Ryu yang sangat ramah. Mungkin karena kehadiran Ryu membuat hari-harinya jadi lebih berwarna. Mungkin karena Ryu dan dirinya bisa diibaratkan seperti…cahaya matahari yang menerangi dan menghangatkan sebuah ruangan yang dingin dan berdebu. Ya sudah, deh. Ayo kita pertaruhkan. Lanjut…atau tidak sama sekali. Soyoon pun menatap Ryu dengan serius. Lekat. Sukses membuat Ryu jadi mengerjap dan menatap Soyoon dengan mata bulatnya yang lucu. “Kenapa, Soyoon?” Soyoon mencoba untuk tetap tenang. Setelah itu, dia pun membuka suara. “Itu…” Napas Soyoon tertahan. “Maukah kau…memakan sup ini…bersamaku? Aku punya kimchi juga, di dalam kulkas.” Soyoon bisa melihat Ryu yang langsung membulatkan matanya. Pria itu tampak kaget; dia terdiam sebentar. Ini jelas-jelas merupakan sebuah undangan masuk. Keheningan itu membuat degup jantung Soyoon menggila. Ludahnya mendadak terasa kering. Ia tersiksa. Akan tetapi, tiga detik kemudian…tiba-tiba Ryu tersenyum. Pria itu memberikan Soyoon sebuah tatapan yang sangat lembut. Hingga akhirnya, pria itu pun menjawab: “Tentu saja.” ****** Ternyata, usaha Soyoon membuahkan hasil. Malam itu, mereka makan bersama di dalam unit apartemen Soyoon. Sup buatan Ryu sangat enak; ada potongan ayam, wortel, dan kentang di dalamnya. Mereka makan sambil mengobrol dan tertawa bersama. Malam itu, ternyata Ryu sendiri belum makan sehingga perutnya berbunyi di depan Soyoon. Hal itu membuat Soyoon tertawa lepas. Sudah lama sekali…sejak ia tertawa dari hati seperti itu. Ujung-ujungnya, Soyoon jadi mengambilkan semangkuk nasi untuk Ryu; Ryu menerimanya seraya menggaruk tengkuknya malu-malu. Pipinya agak memerah dan itu lucu sekali. Dia pun makan dengan lahap…dan akhirnya dia mengaku bahwa sebenarnya dia masih belajar memasak. Dia berani memberikan sup itu kepada Soyoon setelah benar-benar memastikan bahwa sup itu terasa enak atau setidaknya pantas untuk dimakan. Hal itu tentu semakin membuat hati Soyoon tersentuh. Akhirnya, dengan impulsif, Soyoon pun menawarkan dirinya untuk menjadi tester pertama setiap masakan Ryu. Ryu, pria manis yang polos itu, jelas terlihat gembira. Dia langsung bersemangat dan berkata bahwa dia akan berusaha dengan keras. “Mulai sekarang, aku akan memberikanmu berbagai jenis makanan buatanku. Berikan tanggapanmu, ya!” Begitu katanya. Sejak malam itu, hubungan Soyoon dan Ryu jadi semakin dekat. Ryu jadi sering datang ke apartemen Soyoon, mampir di malam hari hanya untuk mengobrol, memakan cookie sambil meminum cokelat panas, makan malam bersama, dan menonton film horror. Hari demi hari, waktu bersama Ryu menjadi sesuatu yang terasa…familier. Sesuatu yang sangat istimewa di mata Soyoon. Padahal, mereka belum terlalu lama kenal. Jadi…begini rasanya menghabiskan musim dingin bersama seseorang. Berbagi kehangatan dengan seseorang. Duduk di sofa dengan berbagi selimut yang sama, menonton film dan terkadang kaget bersama akibat adegan twist yang tak disangka-sangka, lalu tertawa terbahak-bahak. Kadang-kadang, Soyoon tertidur di tengah-tengah film dan bersandar di bahu Ryu. Ryu pun sering menginap di apartemen Soyoon; tidur di sofa ruang tamu Soyoon. Soyoon pernah terpikir untuk mengajak Ryu tidur bersama di kamarnya, tetapi dia berubah pikiran. Bukankah itu terlalu cepat? Nanti dia jadi terdengar seperti orang m***m. Akan tetapi, entah mengapa…setiap kali Soyoon bertanya kapan ia bisa gantian mampir atau menginap di apartemen Ryu, pria itu selalu menolaknya. Tidak, bukan penolakan yang keras. Lebih seperti…menolak karena malu. Penolakan halus dengan alasan, “Nanti, ya. Setelah apartemenku terlihat lebih bagus daripada sekarang. Setidaknya lebih nyaman untuk menerima tamu. Aku malu padamu, soalnya.” Walau Soyoon memaksanya dengan berkata tidak apa-apa, Ryu tetap menolak. Kadang-kadang, dia menolak sambil menggaruk tengkuknya karena malu; kadang-kadang juga, dia akan menolak Soyoon sambil memberikan rayuan seperti: ‘Aku takut kalau kau datang ke apartemenku, nanti aku jadi berpikiran mesum.’ Alhasil, pipi Soyoon jadi semerah delima. Gadis itu lantas memukuli d**a Ryu—jengkel karena dibuat salah tingkah—dan Ryu tertawa lepas. Well, musim dingin tahun ini rasanya… …luar biasa. Seperti hari ini. Suatu malam di akhir bulan Januari, di mana suhu masih sangat rendah, kehangatan yang Ryu berikan seolah-olah menepis seluruh rasa dingin itu. Bukan hanya tubuh Soyoon yang menjadi hangat, melainkan juga hatinya. Jadi, malam ini…Ryu juga datang ke apartemen Soyoon. Menonton film bersama Soyoon. Sebenarnya, tubuh Soyoon pegal-pegal semua karena pekerjaannya hari ini banyak sekali. Namun, kehadiran Ryu di apartemennya telah menjadi sesuatu yang biasa terjadi akhir-akhir ini; dia juga tak mau menolak kehadiran Ryu. Di tengah-tengah kebekuan dan kekosongan hidupnya, Ryu hadir bak permata yang bersinar. Soyoon, orang kantoran yang lelah, merasa rumahnya mulai ‘diisi’. Ryu menoleh kepada Soyoon yang duduk di sebelahnya. Soyoon menonton film bersamanya, tetapi mata gadis itu tampak begitu lelah. Ryu bisa melihat kantung matanya. Ryu tersenyum. Pria itu mulai meraih Soyoon, lalu menyandarkan kepala gadis itu pada bahu sebelah kirinya. “Sini. Bersandar di bahuku saja kalau lelah.” Mata Soyoon melebar. Pipinya merona. Ia langsung menoleh kepada Ryu—kepalanya masih bersandar pada bahu Ryu—dan berkata, “Kelihatan, ya?” Ryu ikut menatap Soyoon, membuat jarak wajah mereka jadi dekat sekali. Dekat…sampai Soyoon bisa mendengar dan merasakan napas Ryu. Ryu tertawa kecil. Lembut sekali. Penuh kasih sayang. “Iyaaa, Soyoon. Matamu terlihat lelah. Aku sudah menyuruhmu tidur sejak tadi, tetapi kau tak mau.” Ryu mencolek hidung Soyoon pelan. Soyoon mengerucutkan bibirnya. Ngambek. “Aku belum mengantuk kok.” Belum mengantuk, soalnya kau ada di sini… “Kalau begitu, mau kubuatkan sesuatu? Kopi hangat, misalnya,” ujar Ryu. Dia tersenyum dengan sangat…manis. “Kau punya stok kopi, ‘kan, di dapur?” Mata Soyoon membulat. Kok…Ryu…tahu? Soalnya, selama ini Soyoonlah yang menyiapkan minuman untuk mereka berdua…dan itu bukan kopi! Kalau Ryu makan malam di sini pun, biasanya Soyoon akan melarang Ryu membantunya menyiapkan makanan. Paling-paling, Ryu hanya membantunya mencuci piring. Itu pun, cuci piringnya berdua. But then again, Ryu sering tidur di apartemennya. Itu tidak mengherankan. “Kok tahu?” tanya Soyoon, impulsif. “Kau suka menggeledah dapurku, ya?” Ryu tertawa kencang. Lah??? Beberapa detik kemudian, Ryu berhenti tertawa. Pria itu mulai menoleh kepada Soyoon, tersenyum simpul…dan menatap Soyoon dengan begitu dalam. Tatapannya tak bisa diartikan. Dia seolah-olah sedang mencari sesuatu di kedua bola mata Soyoon. Menyelami dunia di balik bola mata itu, menembus hingga ke jiwa Soyoon. Hingga kemudian, dengan suara lirihnya…dia pun menjawab. “Aku memperhatikan banyak hal, Soyoon…” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN