A_40

1508 Kata
Irish berlari menuju kamarnya, dengan derai air mata. Maksud hati, ingin mengutarakan perasaan cinta pada Alandra, malah mencurahkan isi hatinya tentang mimpi-mimpi buruk itu. Setelah mengetuk pintu, Lin membukanya. Ia cukup terkejut, karena sang putri wajahnya sembab. “Putri, ada apa?” Irish memeluknya erat-erat. “Lin, aku mencintainya sejak lama. Demi agar bisa melihat wajahnya setiap hari, aku menyamar sebagai rakyat miskin. Setiap pagi, pasti Alandra berkeliling membagikan roti pada peminta-minta, di saat itulah aku bisa melihat wajahnya yang menawan. Namun lebih dari itu, aku tertarik pada kedermawanannya.” Lin membimbingnya untuk duduk. “Minumlah dulu, Putri.” Lin menyodorkan teh padanya. “Bahkan saat ia berubah buruk rupa, aku masih mencintainya,” imbuh Irish. Lin, tertegun. Ia adalah saksi hidup sang putri, sangat hapal apa saja yang telah dialami gadis itu, namun ia tidak pernah tahu soal perasaan Irish pada Alandra. “Tenanglah Putri, jika kalian berjodoh pasti tak akan ke mana.” Irish tersenyum getir. “Kau tahu kan aku dijodohkan oleh ayahku dengan seseorang di negeri seberang. Itu membuatku semakin tidak mungkin memiliki Alandra.” Lin hanya diam. “Maka dari itulah yang aku bisa lakukan adalah untuk tetap dekat dengannya, salah satunya dengan meminta bantuannya tadi.” “Bantuan apa?” “Menyelidiki siapa pelaku yang membunuh ibu kandungku.” “Tapi Tuan Putri, itu sangat sulit. Bagaimana Alandra bisa mencarinya? sedangkan ia saja di sini termasuk orang baru.” Irish menghela napas panjang. “Tadinya aku sengaja melakukan itu untuk mengulur waktunya, agar tidak pergi dari sini. Namun sepertinya ada kendala lain karena pada saat Kami berbicara, ia sepertinya keberatan karena harus melanjutkan perjalanan. Jadi aku tidak bisa memaksa.” “Lalu bagaimana, jika seperti itu?” “kita lihat saja besok, bagaimana jawabannya. Aku penasaran, karena ia bilang akan menanyakan terlebih dahulu pada Zahn dan paman Oenix. Jika setuju, maka mereka mulai penyelidikan, walau sebenarnya lebih kepada, agar mereka tetap di sini.” Lin tersenyum dan mengulurkan tangan memegang bahu Sang Putri. “Apa pun itu, yang terbaik untukmu. kebahagiaanmu juga kebahagiaanku.” “Terima kasih, Lin kau sangat baik. Ini sudah waktunya istirahat. Mari kita bertukar pakaian kembali,” ucap Irish kemudian. Lin mengangguk. ~~~ Cuaca sejak pagi tidak mendukung. Bukan sekedar kabut atau rintik hujan, melainkan air turun begitu deras dari langit membasahi permukaan tanah. Membuat air menggenang di berbagai tempat. “Pangeran, kita tidak mungkin melakukan perjalanan dengan kondisi hujan deras. Selain baju yang basah, juga medan yang dilalui tidak mudah. Kita tunda saja ya,” ucap Zahn saat tiba-tiba Alandra ingin mencari Dayan saat itu juga Walau pun alasan utamanya bukanlah itu, namun kenyataannya jika sudah hujan seperti itu tidak mungkin dipaksakan. “Perjalanan ke mana?” tanya Oenix, yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Baik Alandra maupun Zahn terkejut, dan menatap ke arahnya. Oenix jalan mendekat, memasuki kamar mereka. “Aku memimpikan hal buruk tentang Dayan. Jadi, aku ingin mencarinya sekarang juga,” ujar Alandra. “Hujan dan petir, terbiasa kita lewati. Namun, bagaimana jika ditunda terlebih dahulu, pangeran?” Kali ini Oenix yang meminta. Alandra dan Zahn saling memandang dengan raut wajah bertanya tanya. “Kenapa Paman?” “Kalian tahu, aku bekerja di area gudang. Di sana, aku mendengar desas desus tentang ancaman seseorang terhadap kerajaan ini. Dan memang, makin kesini banyak sekali teka-teki yang harus dipecahkan, sepertinya kita yang harus mengungkapkannya. Jadi bagaimana jika kita tetap di sini sampai masalah selesai. Karena aku berpikir jika kita diam saja sesuatu hal yang buruk terjadi,” terang Oenix panjang lebar. Seketika bayangan Irish, menari-nari di kepala. Kalimat dari gadis itu pun membuatnya terus berpikir. Alandra masih terdiam. Oenix pun mulai mengajak keduanya untuk duduk berbincang. “Sepertinya kalian pun menyadari apa yang aku rasakan. Jadi, mencari Dayan dan guru bela diri ditunda dulu, kalian bersabar ya,” imbuh Oenix. Tanpa sadar, bibir Alandra melengkung. Sesak di dadanya tiba-tiba hilang. Mungkin, ini lah yang ia inginkan sejak semalam, yaitu tetap di sini untuk membantu sang putri. “Maaf Paman, semalam pangeran meragu saat tuan Putri meminta bantuannya, itu semata demi kita. Pangeran tidak ingin melibatkan diri kita atas urusan orang lain, sementara kita masih banyak urusan yang lebih penting. maka saat Tuan Putri meminta bantuan, ia menolaknya dan juga minta maaf karena melibatkan kita lebih jauh,” terang Zahn mewakili isi hati Alandra. Oenix mengangguk paham seraya menepuk bahunya. “Maka jika kami setuju, apa yang menjadi halanganmu saat ini?” Kembali Oenix bertanya. Menatap keduanya bergiliran. “Benarkah apa yang Paman katakan? apakah benar setuju?” tanya Alandra meyakinkan. “Tentu saja. Ini kan menolong, termasuk kebajikan. Dan yang kita bantu adalah kerajaan bukan sesuatu yang kecil.” “Iya, Paman. Terima kasih.” “Baik, jelaskan apa yang kau tahu?” tanya Oenix. Alandra pun menceritakan tentang obrolannya bersama Irish. ~~~ Hujan telah reda, hanya sisa tetesan dari dedaunan. Atas izin Oenix. Alandra mencoba menemui Irish. Ia meminta bantuan pelayan, agar bisa bertemu dengan gadis itu. “Tuan putri, tengah belajar memanah bersama Lin di padang dekat peternakan istana,” ucap pelayan. “Baik, terima kasih.” Alandra bergegas pergi menuju tempat tersebut dengan berlari. Padahal jaraknya cukup jauh dari istana. Sejenak ia melupakan mimpi buruknya tentang Dayan dan mencoba berpikir positif bahwa mimpi hanya bunga tidur, dan pasti Dayan baik-baik saja. Ia merasa harus menyelesaikan masalah satu persatu. Setelah sampai di padang rumput. Ia menyapu pandangan, mencari sosok yang dicarinya. Di samping sana, terdapat tempat untuk bermain panah, Alandra pun menemukan Irish tengah memegang busur. Rambutnya yang panjang cokelat bergelombang, tampak indah terkena angin, membuat Alandra terpukau. Ia terus menatap wajah cantik Irish, tanpa mengedip sedetik pun. ‘Apakah kamu nyata? Dirimu begitu cantik,' batinnya. Ia kembali berlari dan kini jaraknya telah dekat. Irish sadar akan kehadiran Alandra, dan menghentikan gerakannya. “Kau di sini?” tanya Irish, ia cukup khawatir karena napas Alandra terengah-engah. “Ya. Bisa kita bicara?” Alandra balik bertanya. Irish mengangguk. “Lin, tinggalkan kami ya. Kau istirahat saja.” Lin membungkuk hormat. “Baik, putri.” Kemudian Alandra dan Irish duduk di kursi kayu. “Minumlah!” Irish menyodorkan minuman yang dibawanya dari istana. “Pasti ada hal yang begitu penting sehingga kau harus menemuiku, sampai berlari seperti ini,” ucap Irish. Alandra menunduk sambil tersenyum. “Benar. Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu, tadi Paman mengatakan sesuatu tentang hal yang mencurigakan. Maka kami pun sepakat untuk tetap di sini, sampai masalah selesai. Intinya, kami akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. ini juga sekaligus membantumu juga, Nona. Bagaimana?” Netra kuning Irish berkaca-kaca karena terharu, ia tanpa sadar berhambur memeluk Alandra. “Terima kasih, kau memang baik seperti dulu.” Kalimat itu, mengundang pertanyaan bagi Alandra. “Ucapanmu, seolah kita sudah lama kenal. Kau pernah mengatakan hal lain saat aku terluka, dengan mengatakan bahwa aku telah terluka terkena goresan pedang di telapak tangan dua kali. Bagaimana kau tahu itu?” ucap Alandra. Irish melepaskan pelukan mereka, dan menatap lekat-lekat kedua mata biru lelaki itu. “Sebenarnya, aku bisa saja jujur sejak awal. Tapi, aku ingin kau cari tahu sendiri. Sepertinya, itu mengasyikkan.” Mata Alandra membulat. Terkejut atas penuturannya sekaligus gemas dengan kejahilan gadis itu. “Kau banyak rahasia, Nona! Jika itu maumu, baiklah. Aku akan cari tahu sendiri.” Irish tertawa kecil mendengarnya. Kini, mereka sama-sama menatap ke arah depan, membiarkan angin sejuk menyapu wajah mereka. “Alandra, sebenarnya semalam aku ingin mengatakan sesuatu yang tak kalah penting,” ucap Irish. “Tentang apa itu?” kemudian Gadis itu menoleh kearahnya, dan kembali menatap dalam-dalam wajah tampan itu. “Ini mengenai perasaanku. Aku mencintaimu.” Alandra membeku seketika, ia yakin tidak salah mendengar kalimat itu dari bibir merah Irish. Senyum terkembang di Alandra. “Benarkah Yang kau ucapkan itu?” Irish menganggukkan kepala dengan cepat, lalu ikut tersenyum lebar. Lelaki itu pun menjulurkan tangan dan memencet hidung mancung milik Irish. “Siapa sangka kita memiliki perasaan yang sama. Tapi sayang, kita berbeda Kasta rasanya tidak mungkin dapat bersatu,” ucap Alandra pesimis. Senyum yang tadi merekah di bibir gadis itu, seketika mendung. “Aku tidak mengerti mengapa harus ada kasta. siapa yang menciptakan itu? aku yakin cinta tidak memandangnya.” “Tapi Nona, kita Kau harus berpikir logis. Jika sampai orang tuamu tahu tentang perasaan kita, mungkin aku akan diusir dari sini dan kau akan dihukum. Diriku terluka tidak apa-apa, tapi aku tidak ingin kau menderita.” Mata kuning iris meredup, dan hatinya merasa hangat dengan ucapan Alandra. Sedetik kemudian, Irish ingat akan keinginan sang ayah tentang perjodohannya dengan seseorang, pilihan raja Irlan. “Alandra. Aku akan meyakinkan ayahku tentang ini, beri aku waktunya. Dan selama itu, tolong tetap di sini, jangan pergi,” pinta Irish. Alandra tersentuh dengan apa yang akan dilakukan gadis itu. Ia pun mengusap kepala Irish dengan penuh kelembutan. “Tapi jangan terlalu memaksakan, kau harus tetap patuh pada ayahmu. Jika kita tidak berjodoh, aku yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku,” cetus Alandra. Irish menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya. “Pokoknya, selama aku masih hidup dan mampu. Aku akan terus memperjuangkan mu, Alandra.” Keduanya saling melempar senyuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN