“Sama berati, di tempat saya juga begitu,” katanya, masih pake senyuman yang rasa-rasanya kalau gue nyeduh teh tawar bakalan berubah juga jadi teh manis. Setelah itu, kami sibuk dengan sumpit masing-masing. Untungnya, lidah gue ini bukan tipikal lidah yang pilih-pilih dan nyusahin. Gue masih bisa diajak ke warteg yang menu makanannya melokal dan merakyat. Di sisi lain, gue lidah gue juga enggak kaku kalau diajak makan sushi, ramyeon, steak, pizza, teoppoki, odeng, takoyaki, tomyam, and anything else. Gue adalah pemakan segala, kecuali makan temen sendiri. Tiba-tiba dering telepon terdengar memecah hening di antara kita berdua. Cielah. Gue masih santuy sampe akhirnya dia ngomong, “Kayanya punyamu, deh.” Seketika gue ngeh, kalau itu bunyi berasal dari handphone gue. Segera gue meraih be

