Kemarahan Mama

1032 Kata
Terdengar langkah kaki berat. Pelan tapi pasti, langkah kaki itu seperti akan masuk ke dalam ruangan UKS ini. Aku menerka-nerka dalam hati. Siapa yang datang kesini lagi? Apakah kepala sekolah? Atau bahkan kepala program? Pak Sadadi? Aku yang sekarang tengah memejamkan mata. Berpura-pura tidur karena kalau tidak, satpam itu pasti akan bertanya-tanya tentang hal yang tidak aku ketahui. Itu karena aku yang kurang bergaul juga tidak begitu suka untuk banyak ditanya-tanya. Apalagi belum dekat, kan. Terdengar suara cewek seusiaku. Sepertinya aku kenal suara ini. Suara lucu yang selalu mampu membuatku tertawa setengah mati. Suara yang begitu unik, lucu dan juga membuat suasana hati menjadi lebih baik. Inkan. Teman sekelasku. Iyakah dia? Pelan-pelan aku mulai membuka mata. Dan … Benar saja. Ternyata itu dia. Si Inkan. Temanku yang sekarang paling dekat diantara teman-teman lain yang berteman denganku. Tubuhnya tinggi. Lebih tinggi dariku sekitar sepuluh sentimeter. Tidak gemuk, tapi berbadan ideal. Dan juga warna kulit kami sama. Sama-sama coklat atau kerap dipanggil sawo matang. Hari ini dia tampak mengenakan outfit seperti biasa. Jaket tipis berwarna hitam dengan bahan kain lembut. Dan juga celana Levis yang sedikit ketat. Tak lupa dengan hijab segi empat berwarna hitam polos itu. Juga masker hitam yang dia pakai. Sekarang, Inkan sudah duduk di sampingku. Mengusap-usap punggungku. Menatapku dengan tatapan kasihan. Ah … mungkin saja itu karena dialah temanku satu-satunya yang paling murah hati dan tidak sombong. Orangnya memang asik, juga ramah. Awal kenalan, kami benar-benar awkard. Sampai suatu hari, aku kelepasan tertawa terbahak-bahak. Tidak seperti diriku yang kemarin. Sangat berbeda. Aku, kerap memakai topeng pendiam juga pemalu. Karena aku takut kejadian menyakitkan semasa SMP terulang kembali. "Fan, gimana udah enakan?" Tanya Inkan, tangannya masih aktif mengusap-usap punggungku. Aku hanya mengangguk lemah. Lalu, beberapa saat kedepan kami canggung. Tidak, sedari tadi Inkan telah menanyakan banyak hal. Mungkin supaya suasana diantara kita tidak canggung. Tapi, aku malah tidak ada usaha sedikitpun untuk terlihat ingin berinteraksi pula dengannya. Tentu saja, akulah yang menjadi penyebab dari semakin suramnya suasana disini. Semakin canggung. Bahkan atmosfernya begitu terasa di seluruh tubuhku. Walaupun tubuh ini sedang rapuh renyah. Sekarang ini, hanya ada aku dan Inkan di ruang UKS. Entah kemana perginya pak satpam juga kakak-kakak PMR itu. Yang jelas, si pelaku sialan itu belum kembali juga. Padahal energiku sudah hampir habis. Aku butuh asupan. . . . Aku tidak tahu apakah Inkan benar-benar peduli atau hanya terpaksa bersikap baik begini padaku. Dan aku juga tidak mau berpikir terlalu jauh. Aku tidak ingin menyangka yang tidak-tidak tentangnya. Cukup lama kami berdiam-diaman. Sampai pada akhirnya suara langkah kaki kembali terdengar. Ternyata si pelaku sialan yang entah habis darimana. Terlihat kedua tangannya menggenggam botol kemasan Aqua juga sebuah roti kecil untuk mengganjal lambungku pagi ini. Dia, pria berumur ini tidak banyak omong. Hanya menyodorkan roti dan Aqua kepadaku. Lalu lekas pergi lagi. Entah, tidak tahu mau kemana. Akupun tidak peduli. "Fan, dimakan rotinya." Celetukan Inkan membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum kecil, mengangguk pelan. Lalu jari-jari kecilku lekas membuka plastik segel roti tersebut. Sementara Inkan membantu aku untuk membuka Aqua yang masih tersegel rapi. Cklek! Akhirnya, Aqua itu terbuka. Inkan segera menyodorkan Aqua itu padaku. Dan, aku mulai menyantap sarapan pengganjal lambung itu. Kini, makanan itu sudah tandas habis. Inkan pamit untuk kembali ke bengkel sekolah. Aku mengijinkannya dengan berat hati. Tentu saja, sebetulnya aku tidak ingin sendirian disini. Tapi, apalah dayaku. Aku tak mungkin, kan tega untuk menyuruhnya menemaniku sepanjang hari disini? Tentu akan sangat membosankan. Kini, aku benar-benar telah sendirian di ruangan asing ini. Sebelumnya aku bahkan tidak mengetahui kalau sekolah ini mempunyai ruangan UKS. Karena virus Corona, kami semua belajar dari rumah saja. PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh. Aku kembali membaringkan tubuhku. Kembali menutup mata dan berdoa agar semuanya baik-baik saja. Karena saat ini overthingkingku kambuh. Padahal, kepala ini terasa begitu berat. Tidak baik baik saja. "Ah …," lirihku sembari mencoba memiringkan posisiku menghadap ke arah pintu UKS. Aku tidak mungkin membelakanginya. Karena takut terjadi sesuatu buruk nantinya. Sudah terlelap sekitar satu jam lebih, tiba-tiba saja suara pria yang kerap memanggil namaku beberapa kali itu membuatku tersentak kaget. Mendadak terduduk. Karena dia menyentuh lenganku begitu saja. Padahal kita bukan mahrom …. "Fan, ada mamamu nih!" Ujarnya, sembari menyentuh tanganku. Benar saja. Mama dan adikku telah sampai rupanya. Segera aku mencoba untuk menyalami tangan ibuku. Tapi, terlihat sekali raut wajah marah, kesal, panik. Semua tercampur begitu saja. Untungnya, mamaku tetap memperbolehkan aku menyalami tangannya. Sepertinya ia tidak benar-benar begitu marah. Lebih condong ke arah panik. Aku tidak tahu perasaannya. Tapi, yang jelas aku dapat merasakan hanya dengan menatap wajahnya saja. Sementara adikku hanya diam. Dia masih kecil. Baru berusia tujuh tahun. Wajahnya yang cantik itu sedikit membuatku senang saat memandang wajah polosnya. Tentu saja tidak ada orang di dunia ini yang tidak senang saat melihat wajah yang rupawan, kan? "Kamu masih pakai topi?" Tanya mama yang tiba-tiba membuatku bergidik kaget. Sebetulnya aku bingung, haruskah aku jawab jujur atau …? Tapi, aku tahu mama pasti sebenarnya sudah tahu kebenarannya. Mungkin beliau hanya ingin memastikan atau bahkan menguji kejujuranku. Aku hafal betul watak mamaku. "Iya …," lirihku yang telah menghela napas beberapa kali. Kini aku mencoba duduk kembali. "Astaghfirullah! Ngapain, sih?! Ngapain coba kamu segala pakai topi kayak gitu! Kamu dengar mama ya. Mama itu melarang kamu bukan karena tidak ada sebab! Tapi karena ini! Ini yang mama takutkan! Terjadi, kan?!" Oceh mama panjang lebar menasehatiku. Anak bandel yang sangat sulit di atur. Itu karena kepribadianku yang sedari kecil sudah keras kepala. Walaupun aku penurut, tapi sejujurnya aku selalu memilih jalanku sendiri. Tidak benar-benar menuruti kemauan orang tuaku. Hanya saja, lebih sering sama. Jadi, aku terlihat seperti anak penurut tak berdaya. Sekarang, wajah mama tampak merah padam. Sepertinya mama benar-benar geram dengan tingkahku yang semakin besar semakin aneh. Tidak berkembang seperti anak pada umumnya. "Mana penabraknya?!" Suara mama meninggi lagi. Mendadak jantungku berdetak kencang tak karuan. Entah apa yang membuatku seperti ini. Tapi yang jelas aku sangat takut kalau mama akan menyalahkan sekolah ini. Aku akan malu sepanjang masa. Seumur hidup. Atau bahkan sampai pada saat di akhirat kelak. Merasa aku tidak berguna, karena pertanyaan kali ini pun terasa tak membuatku mengoceh untuk berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mamaku lekas pergi tentunya diekori adikku di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN