“Keluar.” Devan mengulurkan tangannya untuk Nara. Nara semakin marah dengan sikap Devan, dia enggan untuk meraih tangan pria itu, namun … saat ini Devan memiliki kekuatan yang mendominasi. Jari lentiknya segera meraih tangan Devan. Kaki berbalut stiletto hitam semaki kontras dengan kulit putihnya. Nara hanya bisa menahan diri. Dia masih tidak nyaman dengan keadaannya. Devan dan Nara melangkah anggun memasuki gedung dengan disambut resepsionis yang tersenyum lebar, apalagi saat undangan di ponsel Devan terpindai oleh mesin. “Selamat datang Tuan dan Nona.” Pertemuan itu diadakan di sebuah cigar lounge privat yang tersembunyi di bawah gedung perkantoran mewah. Ruangan itu dipenuhi aroma tembakau mahal, wiski tua, dan percakapan tentang saham serta akuisisi perusahaan. Saat Devan masuk

