“Tapi ini hanya selembar foto,” kilah Nara, mencoba untuk mempertahankan selembar agar tidak beralih tangan.
“Saya tidak bisa membiarkannya, seperti pada kontrak, Nona. Pak Devan memiliki posisi yang riskan dan itu bukan hal yang mudah untuk posisi saya. Tolong anda pahami itu.”
Nara terdiam. Berat hati tangannya turun lunglai. Julian segera mengantongi foto itu, setidaknya dia bersyukur, Julian lebih berhati karena tidak membakarnya seperti yang dilakukan Devan tadi.
Kopernya sudah diseret Julian dan dimasukkan ke dalam bagasi.
Nara semakin berat melangkah untuk memasuki mobil mahal itu.
Menarik napasnya kuat-kuat saat Julian menutup pintu mobil.
Bruk!
Gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat, tangannya saling menggenggam sembari hatinya berdoa, bahwa tidak akan ada apa pun setelah ini. Dia berusaha meyakinkan hatinya.
Saat mobil mulai melaju, ia melihat dari kaca spion pria bersafari tadi keluar dari rumahnya sambil membawa kantong plastik besar berisi barang-barang miliknya yang akan dimusnahkan.
Identitasnya sebagai Nara Anindita, staf administrasi yang jujur dan pekerja keras, baru saja dikemas ke dalam kantong sampah. Kini, ia hanyalah sebuah bayangan tanpa sejarah, menuju sebuah tempat di mana ia tidak akan lagi dipanggil dengan nama, melainkan sebagai aset pribadi sang penguasa DAL Land Global.
“Ayo keluar.”
Nara mengangguk kecil, begitu mobil sudah berhenti di dalam basement.
Nara sampai bingung, dia tidak tahu menahu sama sekali di mana dirinya berada sekarang. Benar-benar dia dikurung seperti burung.
Hanya mengikuti langkah lebar Julian dengan ketukan sepatu yang khas dengan hak, dia terseok-seok mencoba menyamakan langkahnya.
Sampai dia dan Julian berada di dalam lift.
Melihat Julian menempelkan kartu khusus, hingga layar kecil di sudut pintu lift muncul angka 67.
Tinggi sekali!
Dia merinding saat membayangkan ketinggian itu.
Lift privat itu bergerak tanpa suara, namun Nara bisa merasakan tekanan di telinganya saat angka digital di dinding lift melesat naik menuju angka 67.
Seolah aliran darahnya ikut tersedot, kepalanya merasa pusing.
Julian hanya berdiri di depannya, memunggungi Nara.
Ting!
Pintu berdenting pelan, terbuka langsung ke sebuah ruang terbuka yang luasnya mungkin menyamai seluruh blok di lingkungan kontrakannya.
Kaki Nara melangkah ragu. Matanya terus mengintai, mengingat interior lorong yang mereka lalui.
Julian menempelkan kartu akses masuk ke reader card. Membuka pintu.
Cklek.
Nara ragu-ragu mengikuti Julian masuk ke dalam.
Gasp!
Napasnya tertahan disertai keterkejutan luar biasa.
Lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengilap memantulkan bayangannya yang tampak kecil dan rapuh. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lampu kristal yang cahayanya lebih dingin daripada sinar matahari. Sejauh mata memandang, hanya ada kaca raksasa yang memperlihatkan kerlip lampu Jakarta yang tampak seperti tumpukan berlian tak terjangkau.
"Selamat datang di kediaman Pak Devan," suara Julian menggema di ruangan yang sunyi itu. "Segala sesuatu di sini dikendalikan oleh sistem suara dan sensor. Jangan pernah mencoba membuka pintu darurat atau jendela. Alarm akan langsung terhubung ke pos keamanan pusat."
Nara masih berusaha mencerna penjelasan Julian.
Julian membawanya menuju sebuah koridor panjang. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang tebal. Saat pintu terbuka, Nara tertegun. Itu adalah kamar tidur yang lebih besar dari rumahnya. Di tengahnya terdapat tempat tidur king-size dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap.
"Ini kamar kamu. Atau lebih tepatnya, tempat Anda menunggu Pak Devan," Julian meletakkan tas kain kecil milik Nara—satu-satunya barang yang tersisa—di atas kursi beludru.
Nara masih terdiam dalam kebisuannya.
Dadanya bergemuruh keras, merasa malu saat julian menuturkan posisi kehadirannya di sini.
Di atas tempat tidur, sudah tergeletak sebuah kotak hitam besar dengan pita satin.
"Pak Devan sudah memerintahkan segera mandi. Kenakan apa yang ada di dalam kotak itu. Beliau akan tiba dalam satu jam," imbuh Julian sebelum melangkah mundur dan menutup pintu dengan bunyi klik yang final.
Dia ditinggalkan sendirian di dalam kamar.
“Huuuf …” Nara menghembuskan napasnya perlahan dan panjang, berusaha menenangkan hatinya yang sedang khawatir dan takut.
Kali ini, dia benar-benar ditemani sunyi.
“Uhuk uhuk!” Dia terbatuk pelan. Mencoba menstabilkan deru napasnya sendiri, gadis itu masih merasakan debaran ketakutan di balik dadanya.
Nara mendekati tempat tidur itu dengan tangan gemetar. Ia membuka kotak hitam tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah gaun tidur slip dress dari bahan satin berwarna champagne yang sangat tipis. Bahannya terasa seperti air di jarinya, namun bagi Nara, kain itu terasa lebih berat daripada rantai besi. Gaun itu tidak dirancang untuk kenyamanan, itu dirancang untuk memudahkan akses bagi pemiliknya.
Dengan perasaan hancur, Nara melangkah ke kamar mandi yang seluruh dindingnya terbuat dari granit gelap. Ia berdiri di bawah shower, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya, namun rasa dingin di hatinya tidak kunjung hilang. Ia menggosok kulitnya berulang kali, seolah-olah ingin menghapus jejak tangan Devan yang tadi menyentuh dagunya, namun ia tahu itu sia-sia.
Meskipun sampai lecet, perasaan itu tetap ada. Hanya perih yang dirasakannya.
Satu jam kemudian, Nara berdiri di depan jendela kaca raksasa di kamarnya. Ia sudah mengenakan gaun tipis itu, yang memeluk lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang. Bahkan sengaja dia mengenakan bathrobe di luar gaun tipis. Ia memeluk dirinya sendiri, menatap jauh ke bawah, ke jalanan di mana orang-orang bebas berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Malam hari dengan lampu kelap-kelip. Dia tengah menyaksikan bintang tiruan. Tidak di atas, bertaburan di langit. Melainkan di bawah pandangannya. Daratan yang menjadi Ibu Kota.
Cklek!
Tiba-tiba, suara pintu terbuka memecah kesunyian.
Nara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Hanya saja, dia kembali kesulitan menghirup udara ketika menyadarinya.
Aroma parfum sandalwood yang tajam dan dominan itu merayap masuk perlahan ke dalam ruangan, memenuhi setiap sudut oksigen yang dihirupnya. Langkah sepatu pantofel yang tegas mendekat, berhenti tepat di belakangnya.
"Pemandangan yang indah, bukan?" Suara rendah Devan berbisik tepat di telinga Nara.
Nara tersentak saat merasakan tangan Devan mendarat di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga bersandar pada d**a bidang pria itu. Devan menatap pantulan Nara di kaca—gadis yang kini tampak seperti pajangan mewah yang ia beli untuk memuaskan hasratnya.
"Kenapa kau pakai handuk ini? Kalau aku enggak salah, aku sudah minta Julian menyiapkan."
Nara menunduk, merasa malu. “Aku pakai pakaian itu, hanya saja … dingin,” cicitnya.
“Buka.” Satu kata yang membuat Nara membeliak, tapi tatapan tajam Devan yang begitu dingin dan pekat seolah menjadi perintah mutlak.
Perlahan, tangan kurusnya bergetar ketika harus membuka ikatan tali bathrobe, hingga handuk kimono itu terjatuh di kakinya.
“Sempurna,” bisik Devan sembari membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara, menghirup aroma sabun yang baru saja digunakannya. "Kamu enggak perlu pasang wajah sedih. Kamu yang berhasil menyelamatkan ibumu. Anggap ini sebagai biaya sewa untuk nyawanya."
Nara memejamkan mata, membiarkan air mata satu tetes jatuh membasahi pipinya. Di lantai tertinggi gedung ini, ia baru saja menyadari satu hal. Di sangkar emas ini, tidak ada yang bisa mendengarnya berteriak.
Udara di dalam kamar itu terasa tipis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis dikonsumsi oleh kehadiran Devan Anggara. Nara masih berdiri mematung, di depan jendela kaca, punggungnya menempel pada d**a keras Devan. Dia bisa merasakan detak jantung pria itu—tenang, teratur, dan dingin—sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang semakin berdegup kencang seperti dentuman godam menggedor pintu beton raksasa.
"Sekarang," Devan membalikkan tubuh Nara agar menghadapnya, mata gelapnya berkilat penuh tuntutan. "Mari kita tunaikan apa yang ada di kontrakmu.”