Devan menatap ponselnya, datar. Lalu beralih menatap Nara. Tidak ada interupsi yang bisa mengubahnya untuk berbelas kasihan. Melihat Nara memohon dengan air mata, ekspresi wajahnya yang sedih dan takut malah membuatnya terasa lebih menikmati. Arogansi dari sikap otoriternya adalah sebuah kunci untuknya. Emosi yang menggerogoti ekspresi wanita itu semakin menambah rasa puas pada Devan. “A--aku minta maaf,” bisik Nara, suaranya lebih lirih daripada embusan napasnya yang kasar, menunjukkan perubahan emosinya. Suaranya bahkan pecah oleh isak tangis. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penyerahan total yang diinginkan oleh Devan. “Aku … aku akan memakai apa pun. Hitam, satin, bahkan heels tujuh sentimeter itu, aku akan melakukan semuanya. Tolong, tolong selamatkan Ibuku.”

