Lampu di ruang tamu berganti menjadi cahay temaram membiaskan bayangan Devan yang terpaku di sisi Nara. Ia menatap lengannya yang kini terkunci oleh pelukan erat Nara. Wanita itu meringkuk, napasnya pendek-pendek menahan gejolak nyeri di perutnya, namun ia menjadikan lengan Devan sebagai tumpuan seolah pria itu adalah satu-satunya tiang sandaran yang tersisa. "Kenapa kamu pulang?" suara Nara nyaris tak terdengar, serak dan payah. Matanya yang sayu menatap Devan tanpa kilat ketakutan yang biasanya selalu ada di sana. Penyakit seolah mencabut duri-duri pertahanannya. Devan mendengus, jemarinya tanpa sadar merapikan anak rambut yang menempel di dahi Nara yang berkeringat dingin. "Ini rumahku. Setiap sudutnya milikku, termasuk siapa pun yang ada di dalamnya." Nara hanya menyunggingkan s

