46

1418 Kata

ALBY bersandar pada kursi kantor yang empuk dan menatap pemandangan langit pagi menjelang siang Jakarta dari jendela besar di ruangannya. Tidak dapat disangka dengung dan emosi semaki kuat minta diluapkan, meski Alby setengah mati menghilangkan dengan bekerja. Dia melirik meja yang berantakan, berserakan banyak proposal pengembangan proyek—rincian dana, deretan gelas bekas kopi, sampai rancangan revisi Proyek Tanjang Sopi yang belum bisa bergerak seinci pun karena sang penguasa masih ngambek dengan insiden pulang mendadak dirinya. Dengan posisi setengah membungkuk, dia memijit tulang hidung. Selama delapan hari terakhir otaknya memikirkan banyak hal, tetapi tak satu pun menemukan titik penyelesaian. Seperti benang kusut yang bertambah kusut. Dia menengadah ke langit-langit ruangan saat su

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN