KANIA susah payah berjalan menggunakan kruk menuju ke kamar Barry yang letaknya persis di belakang ruang latihan. Begitu berada di depan kamar Barry, Kania tidak langsung mengetuk. Dia berdiri, lalu mengeluarkan kalung. Kenapa Barry panik melihat benda ini? Ibu jari Kania mengusap lembut permukaan bandul. Apa Barry sesuatu tentang kalung ini? Setelah beberapa detik yang cukup Panjang, Kania mengetuk pintu sambil memanggil, "Barry." Butuh beberapa kali ketukan sampai Barry membuka pintu, mata cokelat Barry langsung tertuju pada kalung yang menggantung di tangan Kania, lalu menghela napas kasar. "Kenapa, Mbaknya?" Barry sengaja bersadar di pintu, sengaja memasang wajah kelelahan—tetapi Kania tahu pasti lelaki itu dalam kondisi prima. "Kita belum selesai bicara." Kania sudah bertekad berb

