37

919 Kata

MATAHARI sudah menggantung rendah di kaki langit ketika Laras melangkah melewati pintu rumah yang lima hari ini menjadi tempat tinggalnya. "Jalan-jalan atau mencari pekerjaan?" Ibu Nike mendadak muncul dari arah dapur—memakai daster batik kesayangan beliau membawa toples entah berisi apa. "Jalan-jalan. Menikmati hidup sejenak." Laras tersenyum seraya menghempaskan diri ke kursi ukir kayu jati. "Bebas dari komputer, angka, dan beberapa hal merepotkan lainnya." Untuk persekian detik Ibu Nike terdiam memandang Laras, kemudian berjalan menuju ruang tengah itu dan duduk di seberang Laras. "Ras, kalau terlalu susah untuk beradaptasi di sini ... Mama nggak masalah loh kamu kembali ke Jakarta." "Kembali ke Jakarta?" Laras tertawa kecil. "Apa bedanya sama di sini? Sama-sama nganggur. Ya. Aku mi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN