KANIA memberi polesan terakhir pada sketsa wajah sang kakak---Kiandra. Dia menegakkan posisi duduk dengan mata disipitkan, lalu mengangguk puas. "Bagus kan?" tanyanya sambil menoleh ke arah Kiandra, yang duduk di sebelahnya tanpa ekspresi. "Ini ... Kenapa bibir aku tebel banget gitu? Terus, di bawah mata aku kenapa hitam banget gitu? Kayaknya aku nggak punya mata panda deh! Terus---" "Hei!!!" Teriakan Kania membuat keduanya terdiam buat beberapa detik, lalu Kiandra tertawa sambil menutup mulut dengan satu tangan. Sementara Kania berusaha mengendurkan ketegangan otot wajahnya, melirik ke sembarang arah, canggung. "Gitu dong." Satu tangan Kiandra terulur ke puncak kepala Kania, mengusapnya dengan lembut. "Dari hari pertama aku di rumah sampai beberapa detik yang lalu, aku nggak

