Khawatir

1016 Kata

Putri Api perlahan membuka matanya. Cahaya remang-remang langsung menyambutnya. Putri Api melebarkan matanya, melihat sekeliling yang tampak gelap. Di mana ia sekarang? Tangan dan kakinya tiba-tiba susah digerakkan, karena ada tali yang mengikatnya erat. Putri Api meronta. Mulutnya pun tak bisa mengeluarkan suara, karena ditutup oleh sebuah kain. Putri Api beralih menatap laki-laki di sampingnya. Itu ... Pangeran Air. Ia masih terlelap tak berdaya dengan luka lebam di sekujur badannya. Putri Api sedikit lega, karena ia tidak sendirian di sini. Ia hanya perlu menunggu pria itu bangun, lalu nanti mereka akan memikirkan jalan keluarnya. Putri Api mencoba menyenggol lengan Pangeran Air, agar pria itu terbangun. Berkali-kali dicobanya, akhirnya Pangeran Air perlahan membuka kelopak matanya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN