Salah Paham

1186 Kata
"Putri Kerajaan Van Vuur?" tanya seseorang yang mendengar hal itu. Putri Api dan Yaya menegang di tempat. Apalagi mengetahui siapa pemilik suara tersebut. "Jadi, kau seorang Putri?" tanya Pangeran Air yang membuat Putri Api refleks menoleh. "Iya!" jawab Putri Api lantang yang membuat Pangeran Air terkejut bukan main. "Benarkah?" tanya Pangeran Air masih tak percaya. "Benar." "Kau Putri dari kerajaan apa?" tanya Pangeran Air penasaran. "Kau tak perlu tahu," jawab Putri Api berlalu dari situ. Pangeran dibuat penasaran olehnya. Mata Pangeran Air mengarah pada Yaya yang menunduk dan membuang mukanya. "Apakah benar yang dibilang temanmu?" tanya Pangeran Air. "Benar, Tuan." "Putri kerajaan apa?" tanya Pangeran Air, tetapi Yaya malah menundukkan kepalanya, lalu juga berlalu dari situ meninggalkan Pangeran Air sendirian. "Baiklah, aku akan mencari tahunya sendiri," ucap Pangeran Air. Tidak ada pilihan lain. *** Pangeran Air termenung memikirkan Putri Api. Ia masih dibuat penasaran oleh gadis itu. Apakah benar jika ia adalah seorang putri kerajaan? Apakah ucapan gadis itu dapat dipercaya? "Mohon ampun, Pangeran. Apa yang sedang Pangeran pikirkan?" tanya Mark yang sejak tadi heran melihat Pangeran Air termenung. "Pricil adalah seorang Putri." "Ya iyalah, Pangeran. Dia kan wanita, kalau laki-laki Putra nam--" "Putri Kerajaan," potong Pangeran Air sebelum Mark melanjutkan ucapannya. "Hah, Putri Kerajaan? Apakah Pangeran serius?" "Ya." "Apakah Pangeran percaya akan hal itu?" "Entah." "Apakah dia tahu jika Pangeran adalah seorang Pangeran Kerajaan Van Water?" "Tidak." "Lalu, Pangeran tetap merahasiakan identitas Pangeran?" "Ya." Mark rasanya ingin protes mendengar respons Pangeran Air yang sangat singkat, tetapi Mark sadar diri, jika ia sedang berhadapan dengan Pangeran negerinya. "Mark," panggil Pangeran Air. "Hamba, Pangeran." "Cari tahu tentang Pricil. Dari negeri mana dia berasal." "Baik, Pangeran." "Ya sudah, aku mau latihan dulu," ucap Pangeran Air berjalan ke halaman belakang rumahnya. Ia ingin melihat kekuatannya kembali. Pangeran Air mencoba mengeluarkan air dari telapak tangannya, tetapi sumbu mata air saja tak tampak lagi di tangan pria itu. Kenapa air-nya mengering? Pangeran Air mencoba berkonsentrasi, lalu memunculkan kekuatannya kembali, tetapi bukan air yang keluar, melainkan sebuah percikan api yang menyala di tangan Pangeran Air. "Lagi dan lagi air-ku hilang," ucap Pangeran Air sedih. Ia tak benci api, tetapi Pangeran Air tentunya mencintai air, karena kekuatan kerajaannya. Pangeran Air mencoba memakai kekuatan api itu. Ia membakar bunga-bunga yang berjejer rapi di dalam pot bunga. Api itu langsung melenyapkan bunga itu, yang menimbulkan banyak asap. "Hei, apa yang kau lakukan!" ucap Putri Api yang baru saja datang dan terkejut melihat asap. Brush. Tanpa pikir panjang, Putri Api langsung memadamkan api itu dengan kedua tangannya. Pangeran Air terkejut akan hal itu. Apakah gadis itu berasal dari Negara Land Water? Putri Api menatap telapak tangannya. Air semakin banyak mengalir seperti mata air yang tak ada habis-habisnya. "Kenapa setiap hari, api ini semakin membesar?" "Sekarang aku tahu, kau berasal dari negeri mana dan kekuatan kau apa," ucap Pangeran Air. "Oh, ya? Apa menurutmu?" tanya Putri Api. "Kau pasti berasal dari Negeri Land Water. Mungkin putri Kerajaan Van Water 3,4,5, atau 7." Putri Api tercengang mendengar ucapan Pangeran Air. Bagaimana bisa pria itu menganggapnya berasal dari Negeri Air? Putri Api ingin rasanya terbahak dan menertawakan pria itu, tetapi Putri Api menahannya. Biarlah Pangeran Air belum mengetahui identitas aslinya, Putri Api bersyukur akan hal itu. Dalam hati Pangeran Air berkata, kenapa aku tidak pernah melihat gadis itu pada saat rapat kerajaan? Dan kenapa gadis itu seperti tidak mengenalku. Jika dia adalah Putri Negeri Air tentu dia tahu siapa aku. "Kau tidak mengenalku?" tanya Pangeran Air. "Kau Dafta, kan?" "Iya." "Ya udah. Emang kenapa? Nama kau bukan Dafta?" "Bukan itu maksudku, apakah kau tahu statusku apa?" "Kau mau bilang kau jomblo, kah? Butuh pendamping? Ingin aku jadi pendampingmu? Aduh, kita sekarang sedang di perkampungan. Ya aku tahu jika ini masih di Bumitan, dan kau boleh berlaku seperti rakyat Bumitan yang modern dan tidak kaku seperti di istana, tetapi kau harus tahu waktu dan tempat. Masa kau mengajakku berpacaran di sin--" Ucapan Putri Api terhenti, karena Pangeran Air meletakkan telunjuk tangannya di bibir gadis itu. Putri Api terdiam sembari menatap mata Pangeran Air yang menatapnya intens. "Bisakah kau berbicara pelan dan tidak berisik seperti itu? Kupingku sakit mendengarnya." Pangeran Air lantas pergi dari situ. "Yang ada kau yang memancingku duluan!" kesal Putri Api. *** "Masa pria sombong yang dingin itu nyangkanya aku berasal dari Negeri Air!" protes Putri Api masuk ke kamarnya. Yaya yang melihat kekesalan Putri Api segera menghampiri gadis itu. "Emang kenapa dia bisa beranggapan begitu, Tuan Putri?" "Dia melihatku memadamkan api dengan tanganku." Yaya terkejut mendengar itu. Air itu sepertinya sudah melekat dengan Putri Api. "Ehmm ... tapi, kenapa dia bisa langsung beranggapan Tuan Putri dari Negeri Air, ya? Sepertinya dia sudah mengenal Negeri Air. Apakah dia tinggal di sana?" "Entahlah. Aku tak memikirkan itu." "Mohon ampun, Tuan Putri. Hamba dibuat penasaran Tuan Dafta berasal dari mana. Soalnya hamba pernah melihatnya menghidupkan api dengan kedua tangannya." "APAAA?" Tentu saja Putri Api terkejut bukan main, karena api-nya saja sudah padam. Kenapa pria itu malah bisa menghidupkan api? Siapa dia sebenarnya. "Sepertinya dia berasal dari Negeri Vuur Land, Tuan Putri." Putri Api memijat pelipisnya pelan, lalu mengembuskan napas. "Iya, sih, aku pernah beranggapan seperti itu juga, tetapi kenapa aku tidak pernah melihatnya? Bukankah yang memiliki kekuatan api hanya orang-orang keturunan raja?" "Hamba juga dibuat bingung, Tuan Putri." "Tidak bisa dibiarkan. Aku harus menanyakan hal ini padanya langsung," ucap Putri Api lalu keluar kamarnya. "Tuan Putri mau ke mana?" Yaya langsung mengejar Putri Api yang sedang berjalan menuju kamar Pangeran Air. Tok ... tok ... tok "Buka pintunya!" suruh Putri Api. Tok ... tok ... tok "Hei, Tuan Dafta. Buka pintunya!" "Bisakah kau bersabar sebentar?" kesal Pangeran Air selepas membukakan pintu kamarnya. "Ah, sudah. Tidak usah basa-basi. Apakah kau berasal dari Negeri Vuurland?" tanya Putri Api langsung. "Ha?" Pangeran Air hanya bisa tercengang mendengar ucapan gadis itu. "Benarkan, kau pasti berasal dari Ngeri Vuurland! Jawab!" "Ti--" "Kau tidak bisa membohongiku!" "Ya." Akhirnya Pangeran Air mengiyakan saja, karena tak mau berdebat panjang lebar dengan Putri Api. "Selama ini kau ke mana saja? Kenapa aku tak pernah melihatmu?" tanya Putri Api yang menbuat dahi Pangeran Air berkerut. Kenapa semuanya tampak aneh. Gadis ini seolah-olah tinggal di Negeri Vuurland karena tidak pernah melihatku. Tetapi, bukannya dia berasal dari Negeri Land Water? Tetapi tetap saja jika aku tak pernah melihatnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sungguh Putri Api dan Pangeran Air butuh pencerahan. "Sudah kubilang, jujurlah dengan identitas asli kalian!" bentak sebuah suara yang membuat Pangeran Air dan Putri Api terkejut. "Em--Empu Eyang?" tanya mereka berdua ketika melihat Empu Eyang sudah berdiri di hadapan mereka dalam sekejap. "Jika kalian tidak jujur, kesalahpahaman ini tidak akan ada ujungnya!" "Mohon ampun, Yang Terhormat Empu Eyang." "Sudah, sekarang katakan yang sebenarnya!" suruh Empu Eyang yang sudah dibuat kesal oleh mereka. "Aku sebenarnya Putri Kerajaan Van Vuur." "Aku sebenarnya Pangeran Kerajaan Van Water." "APAA?!" teriak keduanya terkejut. *** Hai, sampai sini dulu, ya. Besok lanjut lagi. Semoga suka, ya. Maaf juga jika ceritanya masih stuck di situ-situ aja, karena emang perjalanan cerita ini panjang guys. Aku mau buat 60 episode bahkan lebih. Doain semoga bisa tamat, ya. Terima kasih yang udah mau baca. Salam, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN