CHAPTER 06 - MY VITAMIN

2880 Kata
Kita hidup didalam hutan rimba berselimut tekhnologi, kita fikir kita pemenang tapi angin bisa dengan mudahnya menggoyahkan yang kita bangun. Jadi semua pilihan ada pada diri kita sendiri, mau terlihat kuat atau berusaha kuat? - CHI -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Beberapa foto yang diberikan oleh seorang penguntit bayaran profesional tergeletak diatas meja. Foto-foto lama itu mengancam posisi Alexander diperusahaan. Ia mendapatkannya pagi tadi. Alexander yang berperawakan lelaki prancis dengan sorot mata biru itu mengusap wajahnya. Rasa dingin salju yang tadi menemaninya di sepanjang jalan langsung meleleh saat Personal Asisstant-nya mengabari ancaman tersebut. Wajahnya dengan Nora berada disana. Sejak mereka berpacaran hingga sekarang Nora sudah dengan lelaki lain yang terlihat jauh lebih muda dari Alex. Keluarga Basile yang terkenal dengan kekayaan dan kehormatannya tidak akan berat hati menendang Alex dari posisinya sekarang. Banyak saudaranya yang rela melakukan apapun bahkan pekerjaan kotor seperti ini. Pemerasan dan ancaman. Begitu pula dengan rumor yang akan mempengatuhi banyak hal didalam hidup Alex termasuk perusahaannya. Alex harus mencari solusi dari segalanya. Terlebih saingan Alex bahkan diketahui hanya seorang murid tari yang dapat beasiswa penuh. Alexander tak mungkin bisa membiarkan wajahnya diinjak didalam artikel yang pasti akan mengolok-oloknya. Matanya menerawang ke pemandagan kota Paris dengan langit gelap dan salju yang bertebaran dimana-mana. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Benjamin keluar dari ATM center. Ia berusaha dengan keras mengontrol wajahnya didepan Nora agar tak mengkhawatirkan kekasihnya. Yang benar saja, Jamin masih merasa marah pada Nora namun kemana ia harus pergi dengan uang sakunya yang hanya cukup untuk makan. Uang keperluan kuliah tak bisa cair begitu saja. Ia harus mengurus ini dan itu untuk mendapatkan uang tambahan dari beasiswanya untuk menyewa tempat tinggal. Mereka pun melangkah bersama. Cuaca semakin dingin sekarang ini. Nora merapatkan tubuhnya dilengan Jamin. "Min-ah ... mungkin kita bisa tinggal bersama untuk sementara waktu?" Jamin tidak tahu harus menjawab apa, ia bahkan tak bisa menurunkan syalnya yang menutupi setengah wajahnya yang sangat merah jika ia buka. Walau cuaca dingin begini namun pipi Jamin teraa sangat panas sekarang apalagi mendengar tawaran Nora. Harga dirinya sebagai pria seakan terjun bebas tanpa parasut. "Semester depan kau baru bisa mendapatkan beasiswamu lagi bukan? Jadi fokuslah untuk pementasanmu." Nora menghentikan langkahnya dan menghadap didepan Jamin. Tangan Nora mengusap pundak lelaki dengan mantel kulit yang berbulu itu penuh afeksi. Ia tahu harusnya ia tak merasa senang tapi jujur, Nora membayangkan untuk kembali tinggal bersama kekasih yang selalu manis padanya. "Aku sangat senang jika kita bisa tinggal bersama walaupun hanya beberapa hari. Apa kau tidak merasakan hal itu?" Wajah Nora seketika meruntuhkan semua amarah, sedih, gengsi yang bersarang didalam diri Benjamin. Jamin menarik tubuh Nora kedalam pelukannya. "Mercie Honey tapi berjanji padaku satu hal". "Apa itu?". "Jangan memasak makanan korea, jika kau ingin makan itu, kita bisa ke kedai mie langganan kita". "Kata Seul Ji masakanku sangat lezat dan aku ingin kau merasakannya," Nora masih berusaha meluluhkan hati kekasihnya. Pelukannya pelan-pelan dilepas. Jamin menangkup kedua pipi Nora, mengelusnya dengan ibu jarinya. Ia menggeleng pelan, "Bukan salahmu, atau rasa masakanmu tapi semua hanya tentang aku yang tak bisa". Nora memperhatikan bahwa Jamin memang jujur, bukan salahnya saat itu, "Cerita padaku jika kau membutuhkannya," Nora berusaha mempercayainya. "Pasti, tidak perlu ada yang dikhawatirkan." "Ayo kita pulang," kata Nora kembali berada disamping Jamin, berkata demikian, ia teringat bagaimana pertama kali dirinya tinggal dengan Alex. Ia sama persis seperti Jamin, ragu dan takut namun Nora tak akan melakukan yang Alex lakukan pada Jamin jadi ia percaya Jamin akan baik=baik saja tinggal dengannya. Ia tahu tak seharusnya ia senang namun memiliki Benjamin disisinya adalah hal yang tak pernah ia duga. Mereka pun berjalan bersama menuju mobil yang terisi barang-barang Jamin yang dikeluarkan pemilik gedung. . . Saat Jamin mandi, Nora menyempatkan diir untuk pergi ke toko didekat apartementnya untuk membeli beberapa cemilan Ia berhenti pada rak yang berisi kebutuhan dan alat mandi. Matanya melihat sepasang sikat gigi yang menunjukkan bahwa itu untuk pasangan. satu berwarna hitam dengan list keemasan, satu lagi berwarna emas dengan list hitam. Tanpa ragu ia mengambilnya satu pasang lengkap dengan dua gelas couple juga. Nora membayar semua belanjaannya dan saat ia keluar, Jamin berdiri menunggunya. Lelaki itu terlihat tampan, coat lurus berwarna hitam melekat ditubuhnya. Walau bukan dari merk mahal tapi apapun yang Jamin pakai, ia tetap terlihat sangat mempesona. Pasti banyak perempuan yang meliriknya dengan kagum. Nora melangkah mendekat pada Jamin yang langsung tersenyum padanya. "Kenapa kau berada disini? Mandimu cepat sekali" Nora melihat sedikit keringat didahi Jamin, "kau berlari?" Jamin mengangguk, ia mempercepat mandinya saat tadi Nora berteriak akan pergi untuk berbelanja dan berlari kemari, rambutnya saja masih basah. "aku tidak suka melihat perempuan membawa barang berat begitu," ia menyambar dua kantung penuh belanjaan Nora. Mereka pun berjalan kembali menuju gedung apartement. Sesampainya, Jamin membantu Nora merapihkan semuanya. "Kenapa kau belanja banyak sekali?", tidak hanya camilan, namun Jamin juga merapihkan minuman beralkohol, soda, cereal dan langkahnya terhenti saat melihat gelas dan sikat gigi yang berpasangan. Otomatis Jamin menoleh pada Nora yang sedang merapihkan tempat tidur. Jamin menghampiri Nora dan memeluknya, ia menciumi pipi Nora. Rasa jengkelnya benar-benar surut hanya karena sepasang sikat gigi itu. "Haha ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?", kata Nora sembari menahan bibir Jamin dengan tangannya. "Aku terlalu lama sibuk dan sebenarnya aku marah padamu padahal kau tidak tahu bahwa aku benci masakan Korea didalam rumah. Aku benar-benar bodoh," Jamin kembali menciumi pipi Nora, membuat Nora merasa sedikit geli dan tertawa. "Aku maafkan jika tak kau ulangi. Kau harus bilang padaku, agar aku tahu perasaanmu," Nora menarik kecil kaus Jamin, ia benar-benar merasa bodoh saat itu. Jamin mengangguk, tangannya mengusap punggung Nora dengan penuh rasa bersalah, "kau terlihat seperti ibu peri sekarang", dan aku seperti lelaki lusuh tanpa sepasang sendal, menyedihkan.kata Jamin sembari menikmati wajah cantik wanita didepan matanya. Mata coklatnya yagng terang, bulu mata Nora yang panjang dan lentik. Garis wajahnya yang sempurna. Jamin tak bisa lebih bersyukur lagi dari sekarang. "Hahaha kau pun angel penyelamatku." "Penyelamat? Kapan aku menyelamatimu?" Jamin terkejut, bagaimana mungkin wanita didepannya tak berfikir bahwa sekarang dan seterusnya ia hanya akan menyusahkan Nora dengan numpang disini. Nora menunjuk ujung bibirnya, "disini ... kau pernah mengobati lukaku dan", Nora menyentuh bibir Jamin dengan telunjuknya, "aku berterima kasih disini." Nora tak pernah menikmati rasa malu yang ternyata masih ia miliki jika berinteraksi dengan Benjamin. Ia tidak terlalu tuakan untuk merasakan hal ini semua? Aliran darah Jamin langsung deras seperti sungai untuk arum jeram yang mengejutkan. Ia meraih telunjuk Nora dari bibirnya lalu menarik tangan Nora agar merengkuh tengkuknya agar ia dengan mudah melumat bibir Nora dengan begitu penuh keinginan.. Mereka memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut kedua bibir yang saling melumasi dan memagutkan kedua lidah mereka ala french kiss yang kecil dan lembut. Lidah Jamin aktif memoles bibir Nora yang terasa semakin penuh. Setelah beberapa saat, keduanya menjauhkan wajah mereka. Detak jantung mereka sudah tidak karuan namun belum ada satu hari mereka akan tinggal bersama. Keduanya mencoba menahan diri, menempelkan kening mereka berdekatan. "Lanjutkan pekerjaanmu lagi", kata Nora dengan canggung, tangannya menepuk d**a Jamin pelan. Jamin mengangguk dengan pipinya yang bersemu. Ia melangkah keluar dari kamar dan kembali menata belanjaan. Sedangkan Nora berusaha fokus mengganti sprei karena Jamin akan tidur disini malam ini. Nora menghembuskan nafasnya. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Hari-hari berjalan seperti biasa. Keduanya bangun pada waktu yang berbeda. Jamin bangun sangat pagi, sedangkan Nora bangun disaat Jamin sudah tak ada karena Nora bisa agak siang datang ke Kampus untuk melatih. Lelaki itu selalu meninggalkan roti panggang untuk sang kekasih. Jika Nora pulang sore atau petang. Jamin akan pulang malam. Ia tetap latihan entah dimana, Nora tidak tahu. . . Hari yang ditunggu semua orang untuk menikmati pertunjukkan The Nutcracker akan tiba.Siapapun begitu antusias, akan ada badzar yang diselenggerakan untuk meramaikan acara ini. terutama para pementas dan staff yang terlibat. Nora mengerti bahwa setiap pementasan terasa seakan penari berada diatas seutas tali yang tipis. Ingin berhenti tapi takut jatuh, ingin jalan ke depan juga takut tertiup angin, ingin melepaskan semua ini juga tak mungkin. Mereka hidup dan bernafas dengan gerakan itu semua. Namun Nora tidak bisa menolerir peraturan yang dilanggar. Ia sekarang sedang berusaha menelfon Benjamin. "Jika kau tidak pulang, aku akan marah padamu!", sudah tiga hari ini Nora selalu marah karena melihat Jamin yang tak menuruti perkataannya atau Seul Ji untuk tak latihan berlebihan ketika pentas sudah dekat. Setelah jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Lelaki itu masuk dengan jaket tebal yang sudah basah. Ia terlihat sangat kedinginan. Nora langsung beranjak dari kasur dan beralih ke kamar mandi. Ia menyiapkan air hangat. Jamin membuka mantel, topi dan bootsnya. Ia menggigil. Namun melihat Nora menatapnya dengan tajam sembari keluar dari kamar mandi membuatnya merasa sesuatu terasa panas. "Mandi!" bentak Nora. Jamin melakukan semua perintah Nora, mulai dari mandi, memakai pakaian hangat dan sekarang makan cream soup panas yang membantunya menaikkan suhu tubuhnya. Nora merebuskan air dengan beberapa rempah-rempah. Rasanya hangat begitu Jamin menyesapnya. Namun tak ada omelan seperti tiga hari ini, wanita itu hanya memberi satu kata perintah. Nora mengambil piring kotor didepan Jamin dan mencucinya di westafel. "Honey," suara husky Benjamin terdengar. "Diam... aku tidak ingin mendengar suaramu malam ini hingga besok." Jamin mengatupkan bibirnya. Ia sudah biasa seperti ini namun melihat reaksi Nora sungguh membuatnya bingung. Apa yang salah? Jika ia hanya ingin yang terbaik. Kecemasan membuatnya tak bisa hanya diam menunggu hari esok tiba. Nora tidur memunggungi Jamin yang masih terjaga hingga larut malam. Terasa bahwa dirinya gugup karena selalu gerak kesana kemari. Tiba-tiba Nora memeluknya, membawa kepala Jamin bersandar diatas dadanya. Tangan Nora mengusap kepala Jamin dan kakinya melingkar ditubuh Jamin. "Apa begini nyaman?", tanya Nora memastikan dengan berbisik didalam gelap kamar mereka. Hanya ada cahaya rembulan dari celah jendela yang masuk kedalam. Jamin langsung mengeratkan pelukannya. Ternyata ini yang sedaritadi ia butuhkan. Mungkin dari dulu. Ia teringat bagaimana Neneknya memeluknya namun begitu abu-abu. Jadi ini pertama kali baginya seseorang menenagkannya. Setetes air mata mengalir dan mendarat dikulit Nora, "kau menangis?" "Tidak", Jamin menahan Nora untuk tak melongoknya walau percuma, penerangan ini sangat minim. Nora pun paham, ia mengecup kening Jamin. "Kau sangat hebat Min-ah, maafkan aku karena terlalu khawatir", bisik Nora, "sebagai gantinya, apa kau mau bermain?" Jamin berusaha melihat wajah Nora yang berada dibawah tubuhnya. Wanita itu tersenyum dan mengalungkan tangannya diatas pundak Jamin. "Mungkin dengan ini, kau bisa tidur nyenyak", kata Nora. Jamin langsung menyerang bibir Nora dengan tepat seperti ada medan maghnet menariknya. Sebenarnya setelah ia tinggal disini, Jamin begitu berjuang menahan hasratnya. Ia tak bisa memulai tanpa Nora yang meminta karena ia baru saja pindah dan merasa seperti tak tahu diri. Namun itu yang Nora rasakan pula. Ia tak ingin meminta lebih dulu karena takut Jamin merasa bahwa Nora memiliki niat lain selain membantunya. Nora tak ingin disalahkan lagi atas adiksinya pada s*x. Ditengah rasa cemas Jamin, ia melampiaskannya pada permainan malam ini. Nora mencengkram bahu Jamin saat lelaki itu memasukkan miliknya dengan tekanan yang sangat kuat. Jamin membuka kaki Nora sangat lebar. Memendam dirinya dengan begitu dalam. "Min-ah, argh," tangan Nora meremas rambut Jamin, ia mencoba menahan desakan yang Benjamin berikan. Malam ini tak seperti yang biasanya walau Nora akui, ia menikmatinya dengan baik. "Nikmati saja ... aku tidak bisa menahan lagi Nora, tubuhmu saja menyetujuinya," Jamin menyeringai sembari menatap bagaimana Nora berekspresi sangat cantik dan juga mempesona dibawahnya. Ia mengangkat kepalanya dengan mata yang menutup, mulutnya terkadang terbuka untuk melepaskan erangannya. Tempo yang dihasilkan tak bisa dihitung seberapa cepat atau pelan. Jamin memimpin permainan kali ini dan membuat Nora berada dibawah kendalinya. Nora menyukai hal ini, ia menyukai bagaimana Jamin mengeluarkan sifat dominan padanya. Benjamin menciumin belakang tubuh Nora sembari menyudutkan Nora dan berbisik bagaimana ia menginginkan tubuh Nora seakan dirinya tak memiliki rasa puas. Tangannya juga aktif bergeriliya pada tubuh sintal Nora. Wanita itu terus mengeluh, menghasilkan nada yang indah dengan suaranya yang agak serak. Nora menggigit bibirnya sendiri saat Jamin sedang memuaskan diri mereka dengan dua buah manis ditubuh Nora. Mulut Jamin bermain dengan pintar tak hanya dibibir Nora tapi ditempat yang lain. Jamin merasa seperti melahap madu dari sarangnya, manis dan ditambah wine yang memabukkan. Nora adalah paket lengkap baginya. Jamin tak pernah menyangka bahwa ia sanggup melakukan ini semua pada Nora. Keduanya tentu sudah tak memakai sehelai benangpun sekarang. Mengekspos kelebihan tubuh masing-masing sehingga tak tahu kapan hasrat ini akan memintanya berhenti. Malam yang dingin terasa penuh bintang dikamar ini. Ranjang menjadi saksi bahwa permainan keduanya tak berhenti begitu saja. "Kau terasa sangat kencang honey", bisik Jamin, bibirnya kembali menghisap leher Nora, "aku ingin tahu siapa diantara kita yang kalah." Nora langsung membuka matanya, ia khawatir Jamin akan melakukan hal yang menyeramkan seperti Alex. Nora memang tidak mudah o*****e dengan Alex walau lelaki itu memiliki ukuran lebih besar dari Jamin, itu kenapa tak jarang ia berpura-pura agar Alex tidak menyakitinya walau terkadang ia rela ditampar, dijambak, diberikan hal yang Nora tak pernah harapkan demi o*****e, Namun anehnya sekarang Nora selalu klimaks hanya dengan mendengar ucapan Jamin. Bagaimana Jamin memperlakukannya, ada hal yang bangun didalam diri Nora yang tak pernah bisa ia tolak dan tahan. Jamin memperlakukannya istimewa dengan semua pujian yang ia dengar, rasa terima kasih yang selalu Jamin berikan. Sekencang apapun pria itu bermain, ia akan menatap dalam pada kedua mata Nora. Ia selalu memastikan perasaan Nora, itu yang Nora inginkan walau memang terdengar kekanakkan. Nora melepaskan Jamin, mendorongnya hingga ia terduduk, lalu Nora berada diatas pangkuan Benjamin. Ia mengambil alih Jamin kedalam dirinya lagi dan bergerak naik turun membuat Jamin membelalak dengan permainannya. Belum lagi dengan pemandangan wanita berambut coklat yang disibak ke belakang dengan begitu menawan. Rasanya seperti Jamin dihisap kedalam lubang hitam disuatu samudra yang tersembunyi. Ia mendangahkan wajahnya begitu Nora memompa dan memutar milik Jamin didalam tubuhnya. Tenaga Nora beda dari sebelumnya.Jamin menikmatinya tanpa diberikan jeda sedikitpun padahal tadi ia ingat kalau Nora seperti sudah tidak berdaya. Jamin menumpu pada sikunya, "honey .. aku akan sampai." Nora tetap tak berhenti sampai Jamin keluar dan membiarkan dirinya meledak didalam tubuh Nora. Ia menghisap habis semua yang tersisa dan membuat Benjamin terkulai lemas. Menatap Nora saja dia tidak sanggup lagi. Nora menyeka bibirnya, Benjamin terasa sangat lezat, "tidurlah dan besok setelah pentas kau harus membayar hutangmu padaku karena aku belum melepasnya". "Apa? Kau belum melepasnya padahal kau sehebat tadi?". Nora mengangguk. Ia belum merasakan klimaks jika ia yang mendominasi permainan seperti tadi namun Jamin membutuhkannya dan Nora rela memberikannya. Ia ingin besok Benjamin dalam performa terbaiknya. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Deretan kursi sudah penuh, setidaknya kurang dari lima ratus orang berbondong-bondong untuk menyaksikan pementasan ballet dari penari yang merupakan perwakilan dari beberapa club dan juga universitas ternama. Pentas balet merupakan hal yang diagungkan dan masih dibudidayakan di Kota yang penuh dengan romantisme ini. Mulai dari anak-anak, mereka bermimpi berada diatas panggung suatu hari nanti. Hingga orang tua yang menikmati dengan penuh ketekunan dan terkadang obsesi sehingga pujian dan kritikan menjadi dua hal yang berlomba pada masa ini. Sudah lima belas menit berlalu dan lampu diaula mulai meredup. Lampu sorot menyala ke arah sebuah panggung yang masih tertutup tirai berbahan beludru berwarna merah yang terhampar dan membuat orang-orang mulai menantikan kemunculan cerita dari baliknya. Tepuk tangan mulai terdengar saat seorang pria dengan wajah pucat dan berjenggot pirang itu menyusuri jalan setapak untuk menempati sebuah tempat dimana ia akan menjadi seorang konduktor untuk orkestra yang mengiringi cerita "The Nutcracker" pada malam yang indah dan juga dingin ini. Musik mulai mengalun dan seketika suara penonton tertelan oleh ritme dan juga nada yang dihasilkan oleh para pemain orkestra. Suara biola, piano dan alat musik lainnya bersatu padu menghasilkan suara yang begitu nyaman dan sekaligus mendebarkan para penonton. Musik yang akan mengingatkan bahwa liburan akan tiba, natal akan segera disemarakkan, tahun baru pun akan disambut dengan penuh suka cita. Salju berhamburan dan kain perca maupun rajutan menjadi hal yang sangat istimewa. Anak kecil yang biasanya menangis uring tak tahu waktu dan tempat seketika diam seperti disihir oleh para pengiring yang mengikuti setiap gerakan tangan dari sang konduktor profesional. Musik yang semakin tinggi itu mulai mengiringi pembukaan tirai sebagai tanda bahwa pementasan akan dimulai dengan stage dimana beberapa rumah yang diselimuti salju berada diatas panggung. Penari latar mulai muncul satu persatu dengan jubah dan juga gaun panjang. Para lelaki mengenakan baju kebangsaan dengan topi tinggi yang akan mereka lepas untuk memberikan salam. Semuanya terlihat bahagia menyambut malam dimana akan diadakan sebuah pesta dansa. Lalu tirai tertutup dan para penonton kembali menikmati musik sebagai pergantian latar. Tak lama, hanya memakan waktu satu atau dua menit. Latar baru pun terlihat. Para penari sudah berpasangan karena sedang menikmati pesta malam didalam cerita. Mereka berdansa dan juga tersenyum dengan riang. Seorang wanita cantik bernama Aurora muncul sebagai salah satu penari yang ikut meramaikan pesta dansa, ia sebagai Clara, peran utama dicerita ini. Penonton menikmati pertunjukan tarian ala spanyol dengan musik riang dan juga menyenangkan. Membuat sekeliling terasa ceria. Aurora memiliki solo performance pula pada sesi ini. Aurora seorang perempuan berkebangsaan Turkey. Ia begitu cantik dengan tubuh sempurna ala balerina. Sedikit berotot karena itulah ia bisa bergerak dengan profesional. Senyumnya terlihat begitu tulus menikmati pesta dansa. Didalam cerita, Clara memiliki saudara lelaki yaitu Frederick. Mereka menari bersama hingga akhirnya Paman mereka datang dengan kotak begitu besar. . . Dibelakang panggung, Benjamin menghela nafas panjangnya. Ia sudah siap dengan pentas ini, ia menundukkan kepalanya untuk menenangkan gemuruh yang ada didalam dadanya. Teringat bagaimana semalam Nora memberikan vitamin terhebat untuknya. Benjamin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Kira-kira bagaimana penampilan Benjamin didalam pertunjukan The Nutrcracker? Apakah Nora Clark akan puas dengan apa yang Benjamin berikan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN