Part 08.

1015 Kata
Pulang kuliah, Jihan terlihat sedikit takut kalau- kalau ibunya akan bertanya tentang laki-laki yang tadi pagi menjemputnya. Jihan mengembuskan napas berkali-kali sebelum dia mengetuk pintu depan rumahnya. "Bismillah ... Semoga Ummi tidak tanya aneh-aneh tentang kak Alex." gumamnya lirih di depan pintu rumahnya. Beberapa detik kemudian, Jihan membuka pintu itu dan mengucapkan salam dengan pelan, tidak seperti biasanya, biasanya gadis itu selalu mengucapkan salam dengan keras. "Assalamualaikum ... Ummi..." ucap Jihan dengan nada lirih. Dia mengedarkan pandangan matanya melihat sekeliling ruangan yang nampak sepi. "Huft. Alhamdulillah..." lirihnya seraya mengusap-usap dadanya yang terasa lega karena tak ada ibunya di rumah. "Jihan...!" panggil Ummi yang baru saja datang dari pintu depan dengan membawa tas yang berisi penuh belanjaan. "Ha!" spontan Jihan terkejut. "Astagfirullah, Ummi. Ngagetin Jihan saja." protes Jihan pada Ibunya, karena gadis itu benar-benar terkejut. "Ngapain kamu celingukan di situ?" tanya Ibunya penasaran. "Em, itu, Mi. Jihan tadi lihat kecoa, pas kecoa itu mau Jihan pukul, eh ... Malah lari, hehe iya, kecoa." jawab Jihan bohong, gadis itu mencari alasan tentunya. Wanita dewasa itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat Jihan. Anak gadisnya yang satu ini memang manja dan sedikit aneh. Tidak seperti kakak laki-lakinya. "Oh iya Jihan, Ummi mau bicara sama kamu," ujar Ummi, kemudian wanita dewasa itu duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Jihan masih berdiri tegak di tempatnya, menatap sang ibu dengan perasaan takut, takut kalau Ummi menanyakan soal Alex, laki-laki yang tadi pagi datang ke rumah ini. "Jihan, kenapa kamu malah bengong di situ, sini duduk." Ummi memanggil Jihan. "Eh, i-iya Ummi." dengan sedikit takut, Jihan kini berjalan mendekati ibunya. Kemudian duduk di samping ibunya. "A-ada apa, Mi?" tanya Jihan dengan suara gemetar. 'Semoga saja Ummi tidak bertanya tentang kak Alex,' batin Jihan dalam hati. Bibirnya terus melafazkan doa karena takut. "Tadi pagi," "Tadi pagi kenapa, Mi?" potong Jihan. "Ummi belum selesai ngomong, Jihan." "Eh, hehe. Lanjutkan saja Mi." "Tadi pagi, Abah telepon Ummi, katanya besok kakak kamu mau pulang," "Hah! Yang bener Ummi, tapi Ummi tidak bohong, kan?" wajah Jihan terlihat bahagia saat mendengar kabar kepulangan kakaknya. Kakak laki-laki satu satunya yang dia miliki, sudah dua tahun ini tidak pulang ke Indonesia. "Tadi Abah telepon, katanya anak laki-laki Ummi mau pulang ke rumah, makanya Ummi sekarang belanja banyak, buat masak besok. Ummi kangen banget sama Adnan, Ummi mau masak makanan kesukaan dia," tutur Ummi Aisyah. "Jangan lupa masak makanan kesukaan Jihan juga, Mi. Jihan kangen banget sama Mas Adnan, sudah tidak sabar lagi menunggu besok." Jihan tersenyum bahagia mendengar kabar kalau kakaknya akan pulang. "Ummi mau ke dalam dulu." ujar Ummi Aisyah seraya bangkit dari tempat duduknya. Berjalan masuk ke dalam. Setelah melihat Ibunya melangkah pergi. Jihan mengembuskan napas lega. 'Alhamdulillah, Ummi tidak tanya soal kak Alex.' batin Jihan dalam hati. Kemudian gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam mengikuti ibunya. "Jihan," panggil wanita dewasa itu saat melihat Jihan berjalan di belakangnya. "Iya, Ummi?" sahutnya dengan cepat. Jihan berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Tangan kanannya memegang handle pintu. Kemudian Jihan menoleh ke arah ibunya. "Tadi pagi, ada laki-laki yang datang ke rumah, katanya dia teman kamu, apa kamu bisa jelasin itu ke Ummi?" Deg. Spontan Jihan terkejut, tas yang di bawanya kini jatuh ke lantai. Jihan pikir Umminya lupa tentang kedatangan Alex ke rumah ini tadi pagi, tapi ternyata dugaan Jihan salah. Kini Umminya meminta Jihan menjelaskan siapa temannya yang tadi pagi datang ke rumah. Tidak mungkin Jihan bilang itu Alex teman satu kampus dengannya. Bisa bisa Jihan tidak lagi di izinkan masuk kuliah oleh kedua orang tuanya. "Jihan, kenapa malah melamun?" ujar Ummi menatap Jihan dengan tatapan tajam tanda meminta jawaban atas pertanyaannya tadi. "Eh, ti - tidak, Mi. Jihan tadi tidak melamun," sanggah Jihan. "Ceritakan sama Ummi, laki-laki tadi pagi yang cari kamu itu, siapa?" tanya Ummi penasaran. "Tidak tahu, Mi." jawab Jihan singkat kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya agar bisa menghindari pertanyaan dari ibunya. "Maafin Jihan, Ummi, Jihan sudah berbohong sama Ummi." lirih Jihan seraya menutup pintu kamarnya. Kemudian gadis berhijab itu melangkah pelan menuju ke meja belajarnya, menaruh tas miliknya di atas meja. °°°°°°°° Di tempat lain. Alex sedang duduk sendirian di kursi yang ada di taman samping rumah Neneknya. Laki-laki muda itu terlihat murung karena tadi pagi tidak berhasil menjemput Jihan di rumahnya. Dan tadi siang saat pulang kuliah Jihan juga menolak untuk di antar pulang olehnya. "Lex?" panggil Oma seraya memegang pundak cucunya. "Wat is er met jou gebeurd? (Apa yang terjadi denganmu)?" tanya wanita dewasa itu lagi. Ikut bersedih saat melihat cucu kesayangannya berada di taman belakang sendirian dengan wajah murung. Alex masih diam tak menjawab pertanyaan sang Oma. "Katakan pada Oma, sayang." lanjut wanita dewasa itu lagi. Perlahan Alex mengangkat pandangan matanya, menatap sang Oma yang berdiri di sampingnya. "Jihan, Oma." gumam Alex. Wanita dewasa itu mengerutkan keningnya menatap Alex dengan penuh pertanyaan. "Jihan?" Alex mengangguk pelan. Masih dengan wajah murungnya. "Siapa Jihan?" tanya wanita dewasa itu penasaran dengan seseorang yang mempunyai nama Jihan. "Sepertinya Jihan menghindari Alex, Oma." ujar Alex. Perlahan wanita dewasa itu duduk di samping cucunya, memegang tangan kanan Alex dengan sayang. "Apa kau menyukai gadis itu?" Lagi- lagi Alex hanya mengangguk pelan. Masih dengan wajah tertekuk. "Lex, kalau kamu memang menyukainya, ajaklah dia ke rumah ini, Oma ingin mengenalnya." ujar Oma Rita seraya tersenyum. Wanita dewasa itu hanya ingin memastikan siapa gadis yang sudah membuat cucunya berubah menjadi seperti ini. "Goed, oma. Alex zal Jihan morgen in dit huis uitnodigen. Alex, ik hou van je, oma.(Baiklah, Oma. Alex akan mengajak Jihan ke rumah ini besok. Alex sayang Oma)" ujar Alex dengan senyum yang kembali ceria. "Goed, oma houdt van je geest,(Bagus, Oma menyukai semangatmu,)" "I love you, Oma. Alex sayang Oma." ucap Alex seraya memeluk Oma Rita dengan sayang." Tiba-tiba Oma Rita tertawa. "Seharusnya kamu mengatakan itu pada gadis itu, bukan pada Oma." goda Oma Rita di sela tawanya. "Ah, Oma. Besok akan Alex buktikan sama Oma," ucapnya seraya melepaskan pelukannya. Oma Rita menganggukkan kepalanya seraya tersenyum melihat cucu kesayangannya. 'Apapun itu, asal bisa membuatmu bahagia Alex.' batin wanita dewasa itu dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN