BAB 11

1360 Kata

Ruangan itu masih hening. Anita masih setia meresapi rasa nyeri yang menyerang dadanya. Dia tidak tahu mengapa dia bisa merasakan sakit. Padahal dia yakin dia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada seniornya itu. Dia mencuri pandang ke arah Evan. Pemuda itu masih tetap diam. Menunggu perintah diberikan kepadanya. Anita mengamati Evan dalam diam. Dia masih tetap tampan seperti dulu. Garis wajahnya tegas dengan sorot mata yang tajam dipadu dengan rambut hitam yang tersisir rapi. Setelan kemeja berwarna gelap yang dikenakannya menambah kesan maskulin pada tubuh atletisnya itu. Tidak diragukan lagi, dia lelaki tertampan yang pernah dikenal Anita. “Evan..” Panggil Anita kembali memecah keheningan. “Ya, Nyonya.” Jawab Evan masih dengan keformalannya. Anita hanya ingin Evan sedikit lebih sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN