BAB 19

1580 Kata

Suasana ruang makan itu begitu mencekam. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Wajah semua orang yang duduk disana begitu tegang bercampur amarah dan rasa dipermalukan. Kecuali Anita. Dia dengan santai melahap dessert yang dihidangkan oleh pelayan dihadapannya. Tidak peduli denga aura tidak menyenangkan yang menekan disekelilingnya. "Kalian tidak makan?" Tanya Anita dengan nada ceria. Dan tentu saja tidak ada yang menjawabnya satupun. Pak Abraham sendiri memilih diam membiarkan Anita menghandle semuanya. Anita meletakkan sendoknya setelah suapan terakhir dessert yang sedari tadi dinikmatinya. Dia menyesap minumannya dan kemudian memberi instruksi pada pelayan untuk membereskan meja makan. Anita memandang semua orang yang duduk di depan meja makan itu satu per satu. Semuanya berwajah mas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN