Benar saja, begitu sampai di rumah Bella sudah di sambut suami tercinta yang sedari tadi menunggu sembari menyiapkan masakan untuk makan malam nanti.
"Pantas saja kau tak membalas pesanku, ternyata kau sedang asik memasak tanpa menungguku pulang honey."
Dengan wajah yang di buat-buat kesal Bella merajuk namun dalam hatinya sangat bersyukur mendapatkan suami seperti Gared.
Pasalnya Gared telah lebih dulu berbelanja untuk kebutuhan mereka sehari-hari.
Setelah membersihkan diri Bella ikut berkutat didapur membantu suaminya memasak.
Makan malam yang romantis berlangsung cukup singkat karna keduanya sama-sama dilelahkan oleh pekerjaan yang menguras tenaga seharian.
Tak ada lain lagi yang mereka lakukan setelah itu selain ingin segera tertelap di ranjang yang empuk dan terbangun di esok harinya.
Kejutan di Hari ke enam pernikahan
Ternyata setelah semua kembali ke pekerjaan masing-masing Bella dan Gared semakin sedikit memiliki waktu bersama, kadang bahkan mereka tak sempat untuk makan malam bersama karna Gared yang lebih sering pulang larut dalam bekerja. Setiap hari Bella makan malam dan tidur lebih awal tanpa suami di sampingnya, karna memang Gared berpesan agar jangan menunggunya saat akan pulang larut.
"Tubuhku rasanya sakit semua akhir-akhir ini karna pengunjung yang membludak saat musim liburan tiba," Keluh Bella yang kelelahan melayani banyak pengujung wisatawan yang mulai berdatangan di musim liburan ini.
Pagi menjelang Bella bangun mendapati suami tercintanya yang sudah tidak ada di sampingnya padahal semalam Bella merasa suaminya sudah pulang dan naik ke ranjang dan tidur di sampingnya.
Lalu Bella mencoba keluar memastikan keberadaan suaminya.
Namun semua ruangan sudah di telusuri tak ada satupun tanda-tanda keberadaan suaminya.
"Sesibuk itukah dirimu honey."
Sambil meneguk segelas air didapur meratapi kepergian suaminya tanpa berpamitan dulu.
Tak ingin kalut dalam kekecewaan Bella mencoba menghubungi suaminya.
"Honey, apa kau sudah pergi bekerja sepagi ini?" pesan terkirim yang sesaat kemudian langsung di balas oleh Gared.
"Iya Honey maafkan aku, aku pergi terlalu pagi karna ada urusan mendadak dan aku tidak ingin menggangu tidurmu yang masih lelap maka dari itu aku tidak membangunkanmu," jelas Gared
"Untuk permintaan maaf aku sudah buatkan s**u dan sarapan untukmu di meja Honey," lanjut Gared yang dengan segera Bella buka penutup makanan di atas meja yang belum Bella sentuh dari tadi.
"Baiklah aku maafkanmu Honey, sebagai balasannya aku akan memakan habis masakanmu," ancam Bella sebagai candaan.
Dalam keadaan tubuh yang kurang baik Bella memaksakan diri untuk tetap pergi bekerja.
"Wajahmu pucat sekali hari ini Bell, sepertinya kau sedang kurang sehat," tutur Alice yang khawatir melihat wajah pucat sahabatnya.
"Sebenarnya aku sedikit kurang sehat hari ini," ujar Bella lemas karna rasa pusing di kepalanya yang tidak kunjung membaik.
"Sebaiknya kau pulang saja, minum obat dan istirahat saja di rumah aku khawatir kesehatanmu memburuk jika kau paksakan bekerja," ujar Alice yang akhirnya disetujui oleh Bella
Seperti sudah suratan dari atas langit, lagi-lagi Bella hampir terjatuh di belokan dekat rumah akibat tak sengaja menabrak pria yang di kenalnya yaitu Jacob.
"Apa kau baik-baik saja nona? kau terlihat sangat pucat sekali," tanya Jacob khawatir melihat keadaan Bella.
Semenjak perkenalan singkat di jalan waktu itu Bella semakin akrab dengan Tuan dan Nyonya Dobson, bahkan Bella mengundang mereka di hari pernikahannya.
Namun berbeda dengan Jacob, Bella lebih memilih menjaga jarak dengannya, karna sifat cemburu Gared berlebihan bila berurusan dengan Jacob, karna dari itu Bella tidak begitu akrab dengan Jacob tapi untuk menghormati kedekatannya dengan Tuan Nyonya Dobson Bella juga ikut mengundang Jacob di hari pernikahannya.
"Tidak apa-apa aku hanya sedikit pusing tadi, maaf aku permisi pulang," pamit Bella menghindari percakapan dengan Jacob Karna Bella merasa aneh setiap kali bersentuhan dengan pria itu, tubuhnya tiba-tiba meremang mendamba sentuhan yang lebih dari pria itu yang selalu bersikap lembut padanya.
"Mungkin ini pengaruh kesehatanku yang memburuk hingga tubuhku menjadi eror hanya karna di sentuh pria selain suamiku," gumam Bella
Namun bila di pikir-pikir lagi semenjak pulang ke rumah Gared, suaminya itu belum sekalipun menjamah dirinya sedikitpun.
Suaminya selalu pulang larut dalam keadaan lelah lalu tertidur lebih cepat, selalu seperti itu setiap hari.
Dengan sekuat tenaga akhirnya Bella sampai di rumah, namun dia melihat mobil Gared terparkir di pinggir jalan dekat rumah.
"Apa mungkin Gared juga pulang lebih awal ya?" gumam Bella dalam hati.
Membuka pintu depan yang sudah tidak terkunci menandakan memang sudah ada orang di dalam.
Mata Bella tertuju di rak sepatu dekat pintu terdapat sepasang sepatu yang Bella yakini itu buka milik suaminya.
Belum usai dengan rasa penasarannya perihal pemilik sepatu itu Bella di kejutkan dengan suara racauan dan desahan yang berasal dari kamarnya.
"Sh*t Beby Oh,terus ini terlalu nik*m*t Beby." suara seorang pria meracau kenikm*tan.
Perlahan mendekati pintu yang ternyata tidak di tutup dengan rapat, melalui sedikit celah itu Bella melihat suaminya sedang Berc*nta dengan seorang pria dan parahnya lagi pria itu adalah Uncle Ronan pemilik toko roti tempat Bella bekerja.
Dengan amarah yang sudah melampaui batas Bella mendobrak pintu kamar yang sontak membuat orang di dalamnya terkejut.
"Hal gila apa yang sedang kalian lakukan di sini?," Amuk Bella meminta penjelasan.
Masih dengan ekspresi terkejutnya Gared dan Uncle Ronan di sampingnya gelagapan menjawab pertanyaan Bella.
"Tunggu dulu Honey aku akan jelas semua, tenanglah dulu," bujuk Gared pada Bella yang mulai tak terkontrol mengobrak-abrik semua barang yang ada di kamar.
Menatap nanar kedua pria yg ada di hadapannya, hanya dapat terdiam dan menangis mencerna penjelasan dari mereka berdua.
"Sebenarnya kita berdua adalah sepasang kekasih jauh sebelum aku mengenalmu Honey."
Kepala yang sedari tadi pusing kini semakin berdenyut kencang mencengkram otaknya yang hampir meledak.
"'Kita adalah sepasang kekasih', 'Kita adalah sepasang kekasih'." kalimat itu terus berulang-ulang berdengung di kepala wanita itu hingga akhirnya tubuhnya lemas, jatuh tak sadarkan diri.
Dalam tidurnya Bella bermimpi bertemu dengan kedua orangtuanya.
Mereka merentangkan kedua tangan menyambut Putri tercintanya dalam pelukan.
"Bangunlah nak jangan bersedih, di masa depan kau akan menemukan pria yang akan tulus mencintaimu," ucap Ibu Bella lembut sambil membelai lembut rambut putrinya.
Di saat itu pula Bella merasakan belaian di kepalaanya.
"Belaian Ibu terasa sangat nyata," batin Bella dalam hati namun sedetik kemudian Bella sadar bahwa Ibunya telah tiada.
"Lalu siapa orang membelai rambutnya?" batin bella bertanya-tanya
Perlahan membuka mata yang langsung di sambut silaunya lampu Bella mencari sosok yang sedang membelai rambutnya.
"Akhirnya kau sadari juga nak," ucap Nyonya Dobson yang disambut perasaan lega dari sahabatnya Alice.
Indra penglihatan Bella menyusuri ruang itu yang ternyata ia sedang berada di rumah sakit, disitu Bella tidak melihat keberadaan sosok Gared menungguinya melainkan Tuan dan Nyonya Dobson, Alice dan bahkan Jacob yang ikut andil ada di dalam ruangan itu.
Tangis Bella kembali pecah mengingat kembali kejadian sebelum dirinya pingsan.
"A-alice,ternyata Gared adalah seorang gay Alice, tolong aku Alice... aku tidak mampu menanggung ini semua." Tangis sesenggukan Bella yang terasa miris bagi orang yang melihatnya.
"Tinggalkan saja pria seperti itu," sahut pria yang selama ini Bella hindari dengan wajah merah padam.