Sudah berakhir

1350 Kata
Bella menatap nanar melihat sepucuk kertas yg menandakan dirinya telah menjadi seorang janda. Bagaimana mungkin pernikahan yang dia impikan berakhir menyedihkan dengan status janda yang baru saja dia sandang. Lelaki yang selama setahun dia pacari ternyata seorang gay. Dengan perlakuan lembut dan romantis Bella kira dia benar-benar di cintainya, namun itu hanya untuk menutupi hal menyimpangnya di depan umum. Keduanya kaki kini terasa lemas untuk melangkah pulang karena harus segera angkat kaki dari rumah yang sebenarnya milik Gared. Entah harus kemana dia mencari tempat tinggal baru, sedangkan dia tak punya cukup banyak uang untuk menyewa rumah. Sebenarnya Gared sudah memberi wanita itu uang kompensasi atas perceraiannya alih-alih untuk biaya hidup Bella kedepan, namun jika dia menerima uang kompensasi itu malah hanya menambah rasa sakit dan rasa hina dalam dirinya. Sebagian besar tabungannya sudah dia gunakan untuk membuat pesta pernikahannya dengan Gared seminggu yg lalu, kini mungkin hanya tersisa untuk biaya hidup sebulan ke depan. Sedangkan rumah lama yang dulu dia sewa sudah ada yang menempati beberapa hari yang lalu. Gared memberi Bella waktu tiga hari untuk membereskan barang-barang lalu pergi, sedangkan saat ini mantan suaminya itu memilih tinggal bersama pacar gay nya itu. Setelah ketahuan akan perilaku menyimpangnya itu kini mereka lebih berani terang-terangan dengan hubungan mereka. Bahkan saat menandatangani surat cerai siang tadi pacar lelaki Gared ikut menemani dan memperlihatkan kemesraannya di depan Bella. "Maaf beb membuatmu menunggu lama," ucap lembut Gared pada kekasihnya "Tidak masalah beb aku akan sabar menunggu sampai semua urusanmu selesai," timpal kekasih Gared. Sekuat tenaga Bella menahan gemuruh di d**a lalu pergi meninggalkan mereka. "Dasar tua bangka sialan, musnahlah kalian dari muka bumi ini!" umpat Bella menangis sesenggukan setelah keluar meninggalkan mereka. Sepanjang jalan menuju rumah Gared semua orang memandang iba terhadap wanita itu dan ada pula yang mentertawakannya. Bagaimana mungkin Bella tidak mengetahui tabiat pacarnya bahkan bisa sampai menikah? Justru hampir semua orang di sekitarnya mengetahui akan hal itu. Maklum saja Bella selama ini terlalu tertutup akan dunia luar, apa lagi setelah mendapat perlakuan lembut dan romantis dari Gared semakin membuatnya tidak tertarik akan dunia luar. Bella hanya akan pergi bekerja dari pagi hingga sore, lalu pulang berdiam diri di rumah. Dia tipe wanita yang jarang bepergian atau sekedar nongkrong di bar. Bahkan wanita itu baru pertama kali masuk bar saat bersama Gared. Sungguh polos dan naif sekali!! Pikiran Bella melayang jauh saat pertama kalinya dia masuk ke Bar bersama Gared. "Gared, apa sebaiknya kita pergi dari sini saja? aku tidak nyaman melihat pemandang di sini," keluh Bella yang baru beberapa menit memasuki Bar. "Baiklah honey kalau itu keinginan mu, aku tidak akan memaksamu untuk berlama- lama di sini, dan maaf kalau kau tidak merasa nyaman honey, Bagaimana kalau kita pergi nonton film saja?" usul Gared sebagai ganti pergi dari Bar, meskipun dalam hati Gared enggan meninggalkan tempat itu, sebab pria itu sedang menunggu seseorang yang sangat spesial juga di hatinya, tanpa Bella ketahui. Baru keluar beberapa meter dari Bar, secara tidak sengaja Bella bertemu orang yang sangat dia kenal. "Hallo uncle, kemana kau akan pergi malam-malam begini?" tanya Bella pada pria yang di panggilnya uncle yang sedang berjalan rombongan bersama sepasang suami istri dan seorang pemuda yang berpenampilan culun. "Hallo Bella, aku hanya jalan-jalan santai saja setelah makan malam bersama teman-temanku ini," jawab pria itu sambil melirik Gared yang berada di sebelah Bella. "Perkenalkan ini Tuan dan Nyonya Dobson mereka pemasok bahan-bahan untuk toko Roti kita yang di hasilkan dari kebun mereka sendiri, Dan pemuda berkacamata ini adalah Jacob keponakan Tuan dan Nyonya Dobson yang juga pemasok daging terbaik untuk isian Roti kita," JelasUncle pemilik toko roti tempat Bella bekerja. Seolah tau pria yang Bella panggil uncle itu mempertanyakan siapa yg berada di sampingnya. "Senang bertemu anda Tuan dan Nyonya, Perkenalkan juga ini Gared kekasihku, dan Gared kenalkan ini Uncle pemilik toko roti tempatku bekerja dan rekan kerjanya." Setelah perkenalan singkat itu Bella berpamitan untuk pergi melanjutkan menonton film bersama Gared. Gared adalah kekasih yang sangat baik menurut Bella, dan terlihat sangat mencintai wanita itu, dia tidak pernah sekalipun marah dan beradu argumen dengan Bella. Selalu mengalah dan memenuhi keinginan wanita itu dan satu lagi Gared tidak pernah mengajak bercinta Bella dengan alasan tidak ingin merusak Bella yang murni, dan hanya ingin memiliki Bella seutuhnya saat sudah menikah nanti. Namun ternyata di balik dalih itu ternyata Gared tidak memiliki hasrat dengan Bella. Bahkan saat berciuman dengan wanita itu Gared memiliki fantasi sendiri dalam fikirannya. "Sungguh gila kauGared!" umpat Bella tersadar dari lamunannya, mengingat kembali saat beradegan panas dengan Gared yang malah membayangkan berc*inta dengan pria lain. "Orang-orang tidak akan percaya bahwa aku seorang janda tapi masih perawan," gerutu Bella dalam hati yang kesel dengan nasib hidupnya yang tanpa sadar air mata sudah membanjiri pipi wanita itu kembali. Saat ingin menyebrang di jalan tanpa sengaja Bella menabrak seorang pria yang pernah di lihatnya yang otomatis membuat Bella limbung dan hampir terjatuh. Dengan sigap pria yang ternyata bernama Jacob itu menangkap tubuh Bella yang tanpa sengaja malah menyentuh buah d*da wanita itu. "M-maaf m-maaf Nona aku tidak sengaja, aku hanya ingin menolongmu agar tidak terjatuh," ujar Jacob merasa tidak enak. "Iya tidak apa-apa lupakan saja, aku juga minta maaf telah menabrakmu," ucap Bella memutus percakapan yang terasa canggung lalu segera pergi. Namun ada gelenjar aneh dalam diri Bella, dia meremang saat pria itu tanpa sengaja menyentuh buah d*danya. Pria itu adalah Jacob, sosok yang beberapa minggu terakhir ini Bella hindari, sebab Gared merasa cemburu dengan kedekatan kami. Sesampainya di rumah Bella segera bergegas mengemas semua barang- barang miliknya. Melirik ke arah meja dimana terdapat foto pernikahannya bersama Gared menimbulkan amarah dan rasa sedih Bella kembali. Dengan rasa amarah dan sedih bercampur menjadi satu wanita itu membanting semua barang yang berhubungan dengan pernikahannya. Kesadaran yang masih tersisa Bella bergegas membakar semua sisa-sisa kenangan Bella bersama Gared. Dimulai dari mereka kenal, pacaran hingga menikah. Berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangisi lagi pria yang sudah menipunya dan membuat hidupnya hancur sehancur-hancurnya. Melihat cincin pernikahan pemberian Gared masih melingkar di jari manisnya, dengan kasar melepasnya lalu membuangnya ke toilet. "Musnahlah kalian semua dari hidupku, aku akan menjadi Bella yang baru di esok hari," gumam Bella yang mulai memiliki kepercayaan diri untuk bangkit. Wanita itu meringkuk tertidur seperti anak kucing, dengan mata sembab yang sudah lelah menangis seharian, Bella tertidur di sisa-sisa airmatanya yang terus mengalir. Di pagi harinya Bella kembali ke toko roti tempatnya bekerja, mengambil barang miliknya di loker dan berpamitan dengan rekan-rekannya. " Aku ikut sedih atas kejadian yang menimpamu Bella," ucap Alice sambil menangis melepas kepergian sahabatnya itu. "Terimakasih Alice selama ini kau sudah menjadi teman terbaikku, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi," pamit Bella pada Alice dan teman kerjanya yang lain. Sejak awal menginjakkan kaki di kota ini Alice lah orang pertama yang Bella kenal yang akhirnya menjadi sahabat dekat. Dan Alice pula lah yang mengajak Bella bekerja di toko roti yang sama di mana Alice bekerja. Besok Bella berencana ingin pergi jauh dari kota ini mencari tempat baru dan mengadu nasib di sana, dan disisi lain wanita itu tidak ingin ada bayang-bayang mantan suaminya lagi di masa depan. Sebelum pergi jauh meninggalkan kota Colmar yang indah ini Alice mengajak Bella pergi bersama untuk terakhir kalinya. "Nanti malam aku traktir kau makam malam sebelum kita berpisah besok," ucap Alice sambil menitikan airmata. Malam pun tiba, sesuai janjinya Alice mengajak Bella jalan-jalan dan makan malam, lanjut pergi ke tempat hiburan seni yang di tampilkan oleh warga lokal, untuk menghibur rasa sedih Bella. Melihat ada dua kursi kosong Bella dan Alice segera menempatinya tanpa melihat siapa orang yang ada di sebelahnya. "Selamat malam Nona, kita memang di takdirkan untuk selalu bertemu," ucap pria itu tersenyum, duduk di kursi samping Bella. Sontak membuat kedua wanita itu menoleh, dan terkejut ternyata pria di sampingnya adalah Jacob. "Dunia ini memang sempit, kita selalu bertemu dimana pun aku pergi," ujar Bella sedikit heran. "Sepertinya kita di takdirkan untuk bersama di masa depan," ucap Jacob berbinar dengan rona merah di pipinya seperti gadis yang sedang jatuh cinta. "Semoga mimpimu dikabulkan," jawab Bella kesal dan risih dengan celoteh pria culun di sampingnya, yang di anggap menggelikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN