Malam Pertama

1152 Kata
Beberapa saat berkutat di dapur pantry membuat sarapan sekaligus makan siang yang sudah terlewat. Bella membawa nampan berisikan omlete, roti panggang dan aneka selai ke kamar yang semua bahan sudah di fasilitasi oleh pihak hotel. Terlihat mulai ada pergerakan dari Gared yg mulai terusik oleh sinar matahari dari sela-sela korden. "Pagi honey, segera bangunlah ini sudah sangat siang bahkah kita melewatkan sarapan dan makan siang sekaligus," dengan lembut Bella membangunkan Gared. "Pagi honey." Suara serak khas orang bangun tidur terdengar sangat s*xy keluar dari mulut Gared mengecup sekilas bibir Bella yang seketika membuat pipinya merona. Pasalnya itu adalah kecupan pertamanya setelah resmi menjadi istri Gared. Setelah selesai ritual sarapan yang sudah kelewat siang bella mengajak Gared jalan-jalan ke pinggiran sungai Lunch yang memang terletak tidak jauh dari tempatnya menginap. Melalui sungai Lauch ini, mereka bisa melanjutkan perjalanan menelusuri gang-gang dengan jalan kaki, ataupun naik sampan sepanjang Rue de la Poissonnerie menuju “Little Vencie”, bagian paling romantis dari kota Colmar. "Bagaimana kalau kita naik sampan menyusuri sungi ini honey?" ajak Gared yang langsung di setujui oleh Bella "Baiklah honey, asal bersamamu kemana pun kau pergi aku akan ikut serta." Senyum bahagia terus menghiasi wajah Bella hari itu. Kota yang cantik ini, kerap dijuluki "La Petite Venise" atau "Little Venice", karena memiliki banyak kanal yang melintasi sungai Lauch di tengah kota Colmar. Kanal-kanal ini sampai sekarang masih dipergunakan sebagai salah satu sarana transportasi turis untuk melihat pemandangan. Layaknya Venesia, wisatawan dapat menyewa perahu untuk mengelilingi kanal yang ada di tengah kota dengan lama perjalanannya sendiri sekitar 30-35 menit. Kalau tak ingin menggunakan perahu, wisatawan dapat berjalan kaki untuk menelusuri jalan-jalan yang ada di kota ini. Deretan bangunan-bangunan tua dengan kondisi yang masih terawat baik akan menyambut lewat ciri khas bangunan Eropa klasik yang memiliki bentuk jendela dan pintu yang unik. Lelah seharian berkeliling kota Colmar Bella dan Gared memutuskan kembali ke penginapan untuk membersihkan diri kemudian lanjut pergi untuk makan malam romantis di pinggiran sungai lunch. "Tidak peduli apa yang kita lakukan, itu lebih menyenangkan ketika aku melakukannya denganmu." kata romantis keluar dari bibir Gared yang tidak pernah gagal membuat bella merona. "Kenapa kau selalu seromantis ini denganku?" tanya Bella "Karena aku mencintaimu, seperti penampilanmu malam ini," sambung kecupan ringan di tangan Bella yang telah resmi menjadi istrinya. Malam kedua setelah pernikahan mereka jalani dengan bahagia dan romantis selayaknya pengantin baru pada umumnya. Namun tiba-tiba di tengah perjalanan pulang menuju penginapan Gared mengajak pergi ke bar dengan alasan menemui rekan kerjanya. "Akhirnya kau bisa datang juga ke sini," Sambut salah satu teman Gared sambil bergelayut manja pada seorang pria yang di balas dengan ciuman panas dari pria itu. Sontak wajah terkejut Bella menyadarkan mereka. "Jangan terlalu agresif disini Jonas kau membuat gadis yang di bawa Gared ketakutan." "Baiklah sebaiknya kita cari tempat lain saja sayang, biarkan Gared di sini bersama gadisnya." Tawa mengejek keluar dari mulut pria yang bernama Jonas itu lalu beranjak pergi bersama pria yang dia panggil sayang. Di situ rasanya perutku semakin mual yang ingin muntah setelah melihat kedua pria saling b******u dan memanggil sayang. "Apa rekanmu masih belum datang honey?aku sudah tidak tahan berada di sini apa lagi melihat kedua pria tadi." "Mungkin sebentar lagi sampai, tadi saat perjalanan ke sini mereka juga sudah hampir sampai. Sebaiknya kau pesan minuman saja dulu honey untuk mengurangi rasa tidak nyamanmu dan aku minta maaf telah mengajakmu ke tempat ini," ujar Gared kemudian memesankan Istrinya segelas coktail dan satu gelas besar bir untuk Gared. Seumur hidup Bella belum pernah meminum alkohol yang bahkan baru mencium aromanya saja Bella sudah merasa mual dan pusing. Benar saja lima menit menunggu rekan-rekan Gared tiba di bar sekitar lima orang, tapi orang yang terakhir datang ini adalah orang yang sangat bella kenal. "Hallo Bella, kau ikut ke bar ini juga?" tanya pria yang tampak terkejut melihat kehadiran Bella. Terrnyata pria itu adalah Uncle Ronan pemilik toko roti tempat Bella bekerja. "Iya Uncle tiba-tiba Gared mengajakku ke sini setelah makan malam bersama tadi," jawab Bella yang masih heran sejak kapan gared menjadi rekan kerja dengan Uncle Ronan pemilik toko roti yang Bella sering panggil uncle. Asik-asik berbicara dengan teman-temannya Gared sedikit melupakan keberadaan Bella yang membuat wanita ini sedikit aneh dengan sikap Gared yang baru di rasakan. Bukan hanya itu Bella beberapa kali memergoki Uncle pemilik toko roti tempatnya bekerja melihat ke arah Gared di rasa aneh menurut Bella, seperti ada gairah tersembunyi di dalamnya. Bella menepis kecurigaan itu tidak ingin berpikir yang aneh-aneh tentang bosnya itu, toh selama ini Bella mengenalnya dengan sangat baik. Dua jam lebih melesat begitu cepat, Gared yang sudah sedikit mabuk berpamitan mengajak Bella pulang ke penginapan. Begitu masuk ke kamar Gared langsung menyergap Bella di balik pintu menghujani kecupan yang sedikit kasar menurut wanita itu. "Kau akan menjadi milikku malam ini Beb," gumam Gared di sela ci*mannya. "Beb,,?" pikir Bella bertanya-tanya karna selama ini Gared tidak pernah memanggilnya Beb. Tak ingin ambil pusing dengan panggilan Beb Bella yang pertama kali mendapatkan perlakuan seperti itu kuwalahan mengimbangi permainan Gared. Mendadak Bella kehabisan nafas karna Gared menyumpal bibirnya tanpa jeda. Gared melepas ci*mannya lalu turun ke leher jenjang yg mulus dengan tangan mulai menelusup di pakaian Bella. Kesempatan itu tidak Bella sia-siakan untuk meraup udara sebanyak-banyaknya namun seketika tercekat dengan sensasi yang Bella rasakan saat tangan Gared meremas kedua pay*daranya saling bergantian. Tak puas dengan hal itu Gared melepas pakaian Bella dan membuang penutup terakhir yanng menutupi kedua pay*daranya. Di situ terlihat jelas kedua gundukan yang lumayan besar sebesar kepalan tangan pria dewasa, putih mulus bulatan put*ing yang masih merah merona menandakan bahwa belum pernah terjamah sebelumnya, bahkan remasan tangan Gared tak cukup menutupi besar pay*dara bella yang selama ini wanita itu tutupi dengan pakaian longgar. Seakan sudah tersulut api gairah Gared langsung meraup put*ng Bella ke dalam mulutnya. "Ahh Gared,,emmptt" desahan Bella yang lolos dari bibirnya. Tangan Gared mulai turun ke bawah meraba bagian inti Bella yang di sambut desahan erotic dari bibir wanita itu. Dengan kasar Gared menjatuhkan Bella ke ranjang sambil melucuti semua pakain yang mereka kenakan. "Mungkin karna pengaruh alkohol Gared menjadi lebih kasar dan tidak dapat mengontrol gairahnya," pikir Bella dalam hati. Dan saat itu juga Bella di buat kaget oleh senjata laras panjang yang menyembul dari balik celana Gared. Tubuhnya meremang membayangkan senjata milik Gared memenuhi inti Bella yang sudah basah. Kembali bermain di bagian inti Bella dengan kedua jarinya dengan satu yang asik memlintir pu*ing Bella. "Ahhh gared aku sudah tidak tahan,aku ingin meledak sekarang juga," racau Bella menikmati kocokan jari-jari Gared di bagian intinya. Sesudah basah kuyup ulah jemari Gared kembali membungkam mulut Bella dan membisikkan sesuatu. "Aku akan membawamu merasakan nikmatnya surga Beb." Dengan tangan yang mulai memposisikan senjata laras panjangnya tepat di lubang inti Bella. Sekali dua kali Gared kesulitan menembus dinding inti Bella. untuk ketiga kalinya Gared mencoba yang langsung di sambut rintihan kesakitan dari Bella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN