Sejak hari di mana aku di bawa Axel pergi, dari desa Wongen. Kehidupanku beranjak berubah drastis dari sebelumnya. Axel yang sudah resmi menjadi suamiku sekaligus Ayah dari bayi yang sedang aku kandung. Memintaku secara baik-baik untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan psikiater. "Itu semua demi kebaikanmu, Sayang. Agar hatimu menjadi tenang dan damai tanpa ada rasa takut, trauma ataupun dendam yang tidak ada gunanya," bujuk Axel lembut agar istrinya tidak tersinggung dengan ucapannya. Aku yang masih diliputi dengan rasa bersalah dan malu kepada Axel, hanya bisa mengangguk menerima saran dari suamiku. "Aku sudah memasrahkan hidupku untukmu. Setelah kakiku sudah tidak berpijak di atas tanah desa Wongen, aku sudah menjadi Sheila istri dari Axel. Lagi pula, semua rasa dendam dan amarahk

