Sebuah Janji

1145 Kata
Zivana mulai menata kembali kehidupannya yang baru, tanpa sosok suami. Ia resmi bercerai dengan Fandi beberapa bulan lalu. Hak asuh anak tentu saja jatuh padanya. Ia pun tak akan menghalangi lelaki itu untuk mengunjungi anak mereka. Bagaimanapun, Evalia adalah buah hati yang masih membutuhkan sosok ayahnya, meski sudah tak lagi bersama. Kewajiban untuk menafkahi pun menjadi tanggung jawab Fandi pada putrinya. Fandi sangat kecewa ketika akhirnya Zivana tetap pada keputusannya untuk bercerai. Bahkan, gugatan sudah masuk ke pengadilan dan Fandi hanya bisa pasrah menerima panggilan sidang perceraiannya. Seperti biasa, sikap yang selalu lari dari masalah membuat lelaki itu tak pernah hadir dalam persidangan. Ia seakan menghindar, tetapi justru hal tersebut memudahkan jalannya sidang dengan mempercepat keputusan untuk mereka berpisah. Ketuk palu sudah resmi dijatuhkan. Itu artinya kini Zivana sudah resmi berstatus janda. Ia merasa lega sekaligus takut saat dirinya resmi menyandang status tersebut, karena tak akan mudah menjalani single parent yang untuk pertama kalinya ia alami dalam hidup. Pandangan orang pada statusnya pun akan berubah, tak akan lagi sama seperti saat ia begelar istri, karena bagaimanapun janda selalu dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Keberadaan Syam sebagai ayah yang bijak, membuat Zivana lebih kuat menjalani kesendiriannya kini. Ia tak takut melangkahkan kaki untuk mengisi hari-hari yang tentu akan berbeda. Tak lagi sama seperti saat ada suami yang mendampingi. Kehadiran seorang anak menjadi tanggung jawab lebih untuknya sebagai ibu. Ia pun tak bisa selamanya mengandalkan kedua orang tua dalam membantu kebutuhan hidup mereka ke depan. Kita memang tak pernah tahu seperti apa takdir akan membawa pada titian langkah menuju impian yang selalu diperjuangkan. Seperti itu kehidupan yang tengah Zivana jalani. Sejak perceraiannya, Fandi tak pernah sekalipun datang ke rumah. Setidaknya untuk melihat keadaan Evalia saja tak pernah dilakukan lelaki itu. Menanyakan kabar pada kakak iparnya, mereka hanya menjawab jika Fandi tak pernah pulang ke rumah. Zivana hanya bisa pasrah. Fandi tak bertanggung jawab terhadap putrinya. Beruntung Syam dan Sari begitu menyayangi Evalia. Meski bukan cucu pertama bagi mereka, tetapi cinta kasih keduanya begitu besar pada bayi cantik itu. Pernah merasakan kekecewaan akan cinta ternyata masih meninggalkan trauma berikut luka yang menyeretnya dalam masa kini. Namun, kehadiran seorang lelaki masa lalu, tiba-tiba membuat ia tersadar akan satu hal. Ia masih membutuhkan cinta. Lelaki tampan yang siapa pun perempuan akan terpikat saat melihatnya, dengan pesona yang ia tebar kemana-mana, mampu membuat Zivana terjatuh dalam sebuah janji yang menggetarkan hati, melelehkan air mata bahagia setelah sekian lama tertahan dan terkungkung bersama derita. Kembali jiwa yang hampa itu tersiram kesejukan dan kedamaian yang membawa pada sebuah harapan tentang masa depan. Zivana jatuh cinta lagi untuk kedua kali. Bram Ariesta. Teman semasa SMA-nya itu tiba-tiba datang setelah pertemuan yang tak disengaja beberapa minggu silam di sebuah toko perhiasan. Ketika itu Bram tengah mengantarkan ibunya yang hendak membeli beberapa perhiasan, sementara Zivana pun tengah memilihkan sepasang anting untuk putrinya. Mereka sekilas terlibat obrolan tentang masa sekolah, ngobrol tentang hal-hal lucu yang pernah mereka lewati, lalu mereka berpisah di sana dengan janji lelaki itu yang akan bertandang ke rumah. Zivana tak menyangka, kehadiran Bram ke rumahnya ternyata menjadi babak baru kehidupannya kembali dimulai dalam sebuah bahtera rumah tangga. Bram yang sudah berstatus duda beranak satu, seketika melamarnya untuk membangun kembali pernikahan yang pernah mengalami kegagalan. Janji yang diutarakan di hadapan kedua orang tua mampu membuat perempuan itu luluh dan masuk dalam kubangan cinta yang ditawarkan. Zivana merasa harinya lebih berwarna semenjak kehadiran Bram. Cinta. Ya, kini Zivana telah membuka hatinya untuk lelaki itu. Meskipun dulu ia tak memiliki perasaan apa pun pada Bram, tetapi entah kenapa, kini ia mulai terpikat dengan semua yang ada pada diri duda tampan dan kaya itu. Bukan hal kedua yang ia lihat, karena ternyata kekayaan tak bisa menjamin kebahagiaan. Tentu saja, ketampanannya mampu menghipnotis dan memunculkan getar-getar aneh dalam d**a. Ditambah dengan sikap yang mampu mengambil hati keluarga, menghadirkan hal-hal indah dalam hari-hari perempuan itu, membuat Zivana jatuh cinta. Seperti itulah cinta. Tak tahu akan datang dan berlabuh pada siapa. Ia tak bisa memilih, rasa itu hadir begitu saja dalam hati, dan bersemayam makin tumbuh tanpa ia sirami. Zivana pun memantapkan kembali hatinya yang rapuh dan bergelimang kecewa, mencoba memberi kesempatan pada Bram untuk mengobati luka dan menjadikan hidupnya indah bak di taman surga. "Aku janji, akan membahagiakan kamu, Zi. Mungkin kau anggap janji ini hanya manis di bibir, tapi kau akan melihat pembuktiannya nanti saat kita sudah menjalani hidup berumah tangga," ucap Bram saat mengemukakan perasaannya pada Zivana, di sore beranjak senja. "Aku memang belum bisa percaya sepenuhnya pada apa yang kau janjikan dan ucapkan itu, Bram, tapi aku akan berusaha meyakinkan hati untuk menerimamu." "Itu sudah lebih dari cukup untukku, Zi. Aku harap, setelah ini kau akan melihat usahaku untuk bisa membuatmu bahagia." Zivana hanya mengulum senyum. Sesungguhnya ia pun merasakan jika hatinya lebih lapang saat ini. Ia hanya berharap, semesta mendukung keputusannya untuk kembali memulai sebuah babak baru bersama Bram. Semoga dengan cinta yang tumbuh, dapat membuat mimpi untuk mendapat kebahagiaan itu tercapai. _ Pernikahan pun digelar sederhana. Sebagai perempuan yang sudah merasakan pernikahan sebelumnya, ia ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan saja di lingkungan keluarga. Bram setuju. Ia pun tak mempermasalahkan pesta dan hal lain, karena itu pun bukan yang pertama baginya. Ia mengikuti keinginan Zivana sekaligus menawarkan surga yang sudah ia suguhkan sejak awal mereka menjalin hubungan. Sebagai orang tua, Syam dan Sari hanya bisa mendukung keputusan putrinya. Mendoakan kebahagiaan dan arti sebuah pernikahan yang belum pernah dirasakan Zivana selama menjalaninya dengan Fandi. Mereka hanya meminta Bram untuk tetap tinggal di rumah, karena ia belum bisa melepaskan anak dan cucu setelah apa yang terjadi. Lelaki itu pun setuju. Tak ada perlawanan apa pun atas keinginan Zivana terhadap Bram. Hanya beberapa hari setelah menikah, mereka tinggal di rumah orang tua Bram yang masih satu wilayah. Hingga bisa memungkinkan untuk pasangan itu sering mengunjungi Laksmi dan Teguh, orang tua Bram. Lelaki itu memenuhi janjinya. Awal pernikahan layaknya pasangan pengantin baru begitu dirasakan Zivana. Kehadiran Bram laksana mata air di tengah gurun pasir. Segala hal begitu indah dirasakan. Bisa memenuhi setiap keinginan tanpa bantahan. Bahkan, keromantisan yang belum pernah dirasakan dalam pernikahan terdahulu, hampir setiap waktu menjadi warna yang mengharukan. Zivana makin jatuh cinta. Melesak dalam kubangan rasa yang dipersembahkan Bram untuknya. Hingga lahir buah cinta mereka yang pertama. Seorang bayi perempuan cantik rupawan, mirip seperti ayahnya. Mereka menikmati kebahagiaan sebagai orang tua, memiliki anak yang begitu diharapkan menjadi pelengkap dalam hidup. Sejatinya sebuah pernikahan adalah gerbang awal membangun hubungan sakral yang langsung diikrarkan janji langsung dengan Allah. membuka rumah tangga bahagia bersama anak-anak yang merupakan amanah yang senantiasa barus dijaga oleh kedua orang tua. Hal itu yang menjadi warna dalam kehidupan Zivana kini. Sikap Bram sebagai suami sekaligus ayah terlihat jelas dan bertanggung jawab. Perempuan itu seolah menemukan kembali gairah hidupnya sebagai istri juga ibu bagi dia putrinya. Janji yang Bram ucapkan di awal hubungan mereka terbukti. Namun, semua terkuak kala pernikahan mereka mulai berjalan seiring waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN