Malam itu, Cia benar-benar tidak bisa tidur. Ia masih terngiang-ngiang dengan apa yang Alvaro katakan di teras tadi. “Kalau aku jadi pacar kamu, kamu masih mau pergi?” Suara Alvaro terus berputar di kepalanya, membuat dadanya berdebar kencang. Ia masih tidak percaya bahwa akhirnya ia menerima tawaran itu, dan sekarang statusnya dengan Alvaro adalah sepasang kekasih. Cia menggulingkan tubuhnya di tempat tidur sambil menutupi wajah dengan bantal. Wajahnya panas, pipinya merona, dan hatinya benar-benar tidak karuan. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar atau tidak, tapi satu hal yang pasti—ia senang. Ia menyukai Alvaro sejak lama, dan sekarang pria itu adalah pacarnya, walaupun semuanya terjadi dalam situasi yang aneh. “Astaga, aku benar-benar pacarnya Al sekarang…” gumamnya pel

