Jasmine mendengus mendengar ucapan Rhein barusan. Dalam hati ia bersorak namun ia tahu kenyataan yang pedih menamparnya dengan jelas ucapan pemuda itu tidak akan pernah menjadi nyata, tidak selama masih ada July disampingnya. Namun jika July berniat memutuskan pergi, Jasmine yakin, ia pasti akan tergoda ajakan itu. Dasar murahan! Jasmine berusaha menepis ingatan lama saat ibunya dulu menyebutnya perebut suami orang. Padahal ia tidak sama sekali melakukan hal yang ibunya tuduhkan. Namun, membayangkan dirinya mengharapkan Rhein terlepas dari July, bukankah membuat ia sama persis dengan tuduhan itu? "Ih, malah begitu. Bukannya kamu harusnya senang?" Tanya Rhein dari tempat duduknya. Jasmine berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda itu. Lama-lama melihat Rhein wajahnya bisa ber

