Untuk sesaat, Jasmine merasa mengalami disorientasi akan keberadaannya saat ini. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit tinggi di hiasi kandelar kristal besar, saat ini membuatnya sadar, dimana ia berada. Matanya kemudian mengerjap sangat pelan, begitu pula napasnya yang naik turun mulai beraturan. Begitu mata itu memejam selama tiga detik, maka sesuatu yang ia coba tahan selama tidak sadarkan diri tadi kembali mendesak keluar. Matanya kembali basah, namun nyaris tidak ada isakan yang keluar. Sebuah usapan tangan lembut dan hangat di dekat sikunya membuat ia menggerakkan bola matanya ke siempunya tangan dan menemukan ada Rhein sedang menatapnya dengan senyuman getir. "Hei," Panggilnya lembut. Jasmine berusaha membalas senyuman itu tapi terasa berat. Ia tidak mampu untuk melak

