Di dalam kamar, pintu baru saja tertutup ketika suara Barra langsung meninggi. “Aku bilang apa, Kirana? Kamu itu selalu bikin hidup saya makin berantakan!” seru Barra sambil melempar jas kerjanya ke sofa kecil di sudut ruangan. Rahangnya mengeras, matanya penuh kemarahan yang selama ini ia tahan. Kirana menahan napas, dadanya sesak. “Aku cuma nurut sama Nenek. Aku cuma—” “Ya! Itu dia masalahnya!” potong Barra cepat. “Kamu selalu ambil keputusan tanpa mikir dampaknya ke saya. Kamu bikin semua orang di kantor lihat saya kayak… Kayak anak kecil yang nggak bisa ngatur hidup sendiri!” Kirana menunduk. Tangan gemetar, tapi ia mencoba tetap tenang. “Aku nggak pernah niat bikin kamu malu.” “Tapi kamu ngelakuinnya. Setiap. Saat.” Kata-kata itu seperti tamparan. Hening beberapa detik. L

