Bab 30. Dia Bidadariku

1424 Kata

Aku menyisih demi menerima telepon dari Bapak. Aku tahu ini tak biasa, adi mungkin ada hal yang sangat mendesak hingga beliau menghubungiku saat ini. “Assalamualaikum, Pak.” “Waalaikumsalam, To. Ada Mbah Kung di sini. Mau ngomong sama kamu,” kata Bapak. Aku menghela napas dalam. Sudah sangat lama aku tidak berbicara dengan pria sepuh itu. Terakhir kali ketika beliau memintaku untuk ikut mengelola kebunnya. Namun, kira-kira apa yang akan Mbak Kung bicarakan saat ini? “Iya, Pak. Di mana Mbak Kung?” Bapak terdengar menyerahkan ponsel pada kakekku. Tak lama, suara bariton pria itu terdengar melempar salam. “Waalaikumsalam, Mbak Kung.” “To, piye kabarmu? Kenapa ndak balik-balik?” Aku membuang napas kasar mendengar pertanyaan Mbah Kung. Bukankah sudah jelas alasannya. Namun, aku yakin Ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN