DI RUMAH IBU ALIKA. Waktu menunjukkan pukul 07:00 malam. Laura duduk termenung di tepi ranjang kamarnya. Sunyi. Hanya suara isakannya yang sesekali pecah, mengisi ruang yang terasa begitu sesak. Pikirannya masih penuh dengan kata-kata dokter tadi siang—kata-kata yang bagai pisau menusuk jantungnya. “Hiks… hiks… sekarang aku sakit… dan aku nggak akan bisa hamil. Itu artinya… sampai kapanpun aku nggak akan pernah bisa memberikan Mas Gavin kebahagiaan.” batinnya bergetar, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Matanya menerawang kosong, menatap langit-langit kamar. “Lalu… untuk apa aku terus bertahan di samping Mas Gavin?” Tangannya mengepal di atas d**a, menahan sakit yang bukan hanya berasal dari tubuh, tapi juga dari hatinya. “Semuanya sia-sia. Hidup bersamaku cuma akan bu

