Sementara Raka dan Melly di perjalanan. Setengah jam kemudian, setelah ketegangan sedikit mereda... “Eh, lu ngapain sih, dari tadi?” Raka akhirnya buka suara, menoleh sekilas dengan senyum geli. “Kenapa tiba-tiba ganti seragam kerja lu sama seragam lain? Terus... malam-malam begini, lu dandan tebel banget? Ngapain, coba?” Melly langsung mendengus kesal, meliriknya tajam. “Udah, deh! Abang fokus nyetir aja! Jangan banyak tanya!” sahutnya ketus, tangan tetap sibuk merias wajahnya dengan bedak dan lipstik. Raka justru terkekeh. “Gue cuma heran aja liatnya,” ucapnya santai, matanya menyorot wajah gadis itu dari ujung mata. “Malam-malam kayak gini, makeup tebel-tebel—” Kata-katanya mendadak terhenti. Napasnya tercekat, matanya membelalak tanpa sadar. Bibirnya ikut kaku menelan ludah, beg

