DI DALAM KANTOR. Raka berjalan masuk ke gedung megah itu, wajahnya penuh kesal. Langkahnya berhenti tepat di depan lift, hanya untuk menemukan papan bertuliskan besar-besar: “LIFT SEDANG DALAM PERBAIKAN!” “Aduuuuh! Ini lift kenapa harus rusak segala sih?!” gerutunya frustrasi, menepuk jidat. “Lantai 9, masa harus gue daki pake tangga darurat? Sial banget, dah!” Ia menghela napas panjang, pasrah. Tapi sebelum sempat melangkah, sebuah suara nyinyir terdengar dari belakang. “Ya udah lah, Bang. Terima aja nasib. Ribut mulu dari tadi, berisik tau nggak?” Raka menoleh pelan. Senyum tengilnya langsung muncul begitu melihat Melly berdiri tak jauh darinya. Gadis mungil itu tampak santai, ikut menatap tangga darurat dengan wajah pasrah. “Eh, Anak Kecil,” sahut Raka sambil pura-pura celin

