KEMBALI LAGI KEPADA MELLY... “Tuhaaan! Kenapa sih, patah hati itu rasanya sakit banget?!” teriak Melly sambil terus menangis, tubuhnya gemetar, duduk di bangku taman kecil yang ada di halaman apartemen itu. “Kenapa, sih? Kenapa sih, Tuhan?” tangisnya pecah, suaranya lirih namun penuh luka. “Kenapa harus Anindya, sahabat gue sendiri, yang jadi saingan gue?!” suaranya pecah lagi, protesnya terdengar seperti jeritan hati yang putus asa. Tanpa ia sadari, Raka sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Lelaki itu menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis melihat tingkah laku Melly yang polos sekaligus menyayat hati. Ia pun melangkah pelan sambil mengangkat sesuatu di tangannya. “Nih, high heels kamu tadi jatuh, ketinggalan!” ucapnya ringan. “Hiks… hiks… B_Bang Raka?!!” Melly sont

