“Iya, Mas Gavin… Laura mau menebus semua kesalahan Laura kemarin.” ucap Laura dengan suara lirih tapi tegas. “Kalau malam ini Mas mau… Laura sudah siap, kok.” tambahnya, meski jelas terlihat betapa gugupnya ia. Namun ketakutan kehilangan Gavin membuatnya akhirnya berani merelakan segalanya, termasuk juga dengan keperawanannya. “Ka… kamu beneran, Sayang? Kamu sudah siap ngelayanin Mas?” Gavin seketika menatapnya dengan mata berbinar, senyum merekah penuh bahagia. “Iya, Mas Gavin. Laura sudah siap.” jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Senyuman itu membuat hati Gavin bergetar. “Iya, Sayang…” Gavin mengusap lembut rambutnya, jemarinya penuh kasih sayang. “Tapi, Mas Gavin…” Laura tiba-tiba menunduk, ragu. “Kenapa, Sayang?” “Pernikahan kita ini kan… cuma pernikahan pura-pura?” bis

