Satu hari kemudian... Waktu menunjukkan pukul lima sore. Udara sore itu terasa tenang, tapi d**a Sania justru bergemuruh. Setelah seharian Laura menunggu di rumah Ibu Alika Mamah mertuanya, akhirnya Sania, sepupunya, tiba—melangkah masuk ke halaman yang begitu luas dan megah. Begitu matanya menatap rumah besar bercat putih itu, langkahnya seketika terhenti. Pandangannya berkeliling, menyapu kolam renang biru jernih yang berkilau di bawah sinar matahari, taman hijau yang tertata rapi, hingga pilar-pilar tinggi yang menjulang di depan rumah. “Gila…” gumamnya lirih, kedua alisnya terangkat tinggi. “Ini rumah gede bangeeet. Dan semewah ini pula.” Matanya berkilat kagum—namun hanya sesaat. Tatapan itu perlahan berubah dingin. Senyum sinis mulai terlukis di sudut bibirnya. “Jadi… ini

