Ella melirik jam dinding di atas kulkas dapur. Jarum jam sudah menunjukkan lebih dari jam enam sore. Waktu yang sudah sangat terlambat untuk kepulangan Ardi, yang katanya tadi hanya datang untuk menghadiri rapat.
Kok mas Ardi masih belum pulang aja ya? Apa rapatnya molor? Apa terjadi perdebatan sengit dan alot selama rapat berlangsung?
Ella sama sekali tak bisa tenang melakukan kegiatan sepanjang siang dan sorenya. Karena kepikiran dengan keadaan Ardi, suaminya di sana.
Seharusnya aku ikut saja menemani dia tadi ya? Tapi kok kayak tidak pada tempatnya bagiku untuk hadir.
Gak etis rasanya bagi Ardi bawa-bawa istri saat sedang urusan resmi begini.
"Apa mas Ardi baik-baik saja di sana? Apa dia tidak lupa meminum obatnya tepat waktu? Apa dia kuat duduk lama untuk menghadiri rapat yang molor dengan segala tekanannya?"
"Apa dia gak pusing mendengar suara-suara yang pastinya bising? Gimana kalau tiba-tiba dia kumat lemesnya dan ngedrop lagi tekanan darahnya?" Ella sudah menggerutu sendiri menyuarakan kecemasan hatinya.
"Kamu pasti baik-baik saja kan mas Ardi?" Ella mencoba tetap tenang dengan menghalau kecemasannya sendiri.
Kegalauan Ella terus berlanjut sampai pada sesi memasak sorenya. Ella memang sengaja memasak sore ini, ingin membuatkan Chap Cay goreng spesial sebagai menu makan malam untuk Ardi. Menyambut kepulangan suami yang lelah bekerja dengan masakan istri, konsep yang sangat romantis bukan?
Tapi bisa tidak Ella merealisasikan apa yang ada di benaknya? Bisa donk!
Kalau cuma masakan China dengan bumbu yang tinggal iris dan main cemplung begitu saja Ella juga bisa. Seharusnya sih begitu, dan tidak ada masalah berarti bagi Ella untuk memasaknya.
Namun kenyataanya? Mungkin karena kegalauan kronis yang melanda dirinya sejak tadi. Membuat Ella sama sekali tak bisa fokus dalam memasak. Alhasil Ella salah mengenali lengkuas sebagai jahe. Ella juga salah memasukkan ketumbar yang dikiranya sebagai merica.
Jadinya rasa Chap Chay bikinan Ella menjadi tidak jelas. Lagi-lagi tidak layak untuk disajikan sebagai menu makan malam sang suami.
"Sudah biar saya saja yang masak, Nyah." Bi Ijah, sang asisten rumah tangga, merasa tak tega melihat Ella. Nyonya Pradana lagi-lagi gagal membuat menu masakan untuk suaminya.
"Bu Ella ini biasanya otaknya encer, tapi kenapa kok kalau soal masak-memasak benar-benar payah ya?" Batin Ijah bingung melihat kemampuan memasak Ella yang di bawah rata-rata sebagian besar wanita.
Ella membuang napas keras-keras karena kesal. Akan tetapi dia tidak menolak tawaran Ijah. Pasrah saja. Karena memang waktu sudah semakin malam, takutnya keburu Ardi pulang kantor sebelum masakannya siap.
"Bikinin sup daging sapi dengan bayam dan kacang merah saja, Bi." Ella menentukan menu makan malam untuk Ardi kepada Ijah
"Air kaldu dari rebusan dagingnya dibuang dulu nanti, cuci dulu sebelum dimasak lagi dan dikasih bumbu." Ella menjelaskan prosedur memasaknya.
"Baik, Nyah." Ijah menurut saja.
Ella tahu tentang prosedur dan cara memasak makanan rendah lemak begini, teorinya saja. Tapi untuk masalah praktek memasak dan meracik bumbu adalah perkara lain.
Entah mengapa Ella masih saja sulit membedakan macam-macam jenis dan bentuk bumbu dapur. Masih sulit pula memadukan bumbu untuk menjadi suatu kesatuan rasa yang enak. Belum dapat feelsnya kali ya.
Beberapa lama kemudian sup daging lezat bikinan Ijah sudah siap dan disajikan di atas meja makan. Tapi Ardi masih tetap belum datang juga.
Ella semakin galau dan khawatir saja jadinya, gak tenang banget rasanya. Semakin tidak tenang karena suaminya itu tak ada kabar dari tadi, sejak berangkat ke kantor. Ardi tidak membalas pesan atau panggilan sama sekali.
"Pasti ada yang tidak beres ini, gak mungkin kan rapat diteruskan sampai semalam ini? Ini kan rapat besar dewan direksi, bukan rapat internal dengan staff pilihan. Pasti masih ikut aturan jam kerja kantor kan?" Ella membatin gelisah.
Ella tak dapat menahan dirinya lagi untuk mengambil ponsel dan menghubungi nomer Ardi. berkali-kali Ella menelpon Ardi tapi tetap tak ada jawaban.
Kamu kemana si mas Ardi? Kamu gak pa-pa kan? Jangan bilang kalau kamu kenapa-napa.
Akhirnya karena saking cemasnya Ella mencari nomer ponsel Bambang dan menelponnya. Sebagai asisten pribadi Ardi, Bambang pasti tahu kan keadaan bosnya sekarang?
"Halo, Bambang?" Sapa Ella tak sabaran saat Bambang mengangkat panggilan telponnya di sana.
"I, Iya halo Bu Ella." Bambang menjawab sapaan Ella dengan sedikit ketakutan.
"Mampus dah, bininya nyariin, dan si pak bos masih belum bangun juga. Aku harus bilang apa coba?" batin Bambang menjerit panik.
"Mas Ardi mana, Mbang?" tanya Ella tanpa basa-basi.
"Ada, Bu."
"Ada dimana? kenapa dari tadi gak bisa dihubungi? kenapa juga belum pulang sampai jam segini?" Ella nyerocos saking khawatirnya.
"Ada di kantor, Bu. Pak Ardi lagi tiduran dan belum bangun sampai sekarang." Bambang bingung harus menjelaskan mulai dari mana?
"Tidur? Ngapain dia tidur disana? Ayo cepet bangunin dan anterin pulang. Biar nanti lanjut tidur di rumah saja." Ella gemas mendengar jawaban Bambang.
"Eeehm, kata Pak Mahes tadi disuruh nungguin pak Ardi bangun dulu baru boleh dibawa pulang." Bambang memberikan alasan kenapa tidak memulangkan Ardi.
"Tunggu-tunggu, mas Ardi tidur apa pingsan, Mbang?" Nada suara Ella makin curiga.
"Nah itulah Bu, saya gak tahu." Bambang mengakui ketidaktahuannya tentang perbedaan orang tidur dan pingsan.
"Astaga Bambang! Kenapa kamu gak bilang dari tadi?" Bentak Ella marah dan langsung menutup panggilan telponnya.
Ternyata beneran kekhawatiran Ella dari tadi berhubungan dengan keadaan Ardi. Ternyata benar Ardi tidak baik-baik saja.
Ella segera memerintahkan Ijah untuk membungkus sup dan nasi tim untuk Ardi dan meletakkannya di mobil. Kemudian Ella beranjak bersiap ke kamarnya, serta mengambil obat Ardi di sana.
Tak lama kemudian Ella sudah melaju membelah jalanan kota Surabaya dengan diantarkan oleh Pak Soleh, supir lain yang stand by di Pradana Mansion.
Semua fasilitas ini didapatkan Ella dan Ardi sebagai hadiah pernikahan mereka dari mama Kartika dan papa Erwin. Pradana Mansion dan seisinya, tak perlu lagi untuk membeli rumah baru. lhawong rumah ini saja kosong gak ada yang menempati setelah Linggar lulus kuliah.
Kemudian beberapa crew yang siap melayani segala kebutuhan mereka berdua. Ijah sebagai kepala pelayan yang sudah biasa mengurusi Ardi sejak kecil. Tugas utama Ijah hanya sebagai koki. Masih ada tiga orang maid lain yang mengurusi kebersihan dan segala hal di rumah. Dua orang sopir untuk mengantar Ella dan Ardi. Serta beberapa orang petugas keamanan.
Praktis hidup Ella berubah dari gadis sederhana yang tinggal di komplek perumahan biasa menjadi tuan putri yang tinggal di sebuah mansion mewah.
Ella hanya perlu menyebutkan jika ingin ini itu, pasti akan langsung ada dan tersedia di hadapannya. Seolah bagaikan sulap dan sim salabim saja. Tapi terasa sangat membosankan bagi Ella yang sudah terbiasa hidup mandiri.
Saat mobil Porsche Caiman yang ditumpangi Ella tiba di lobi kantor, Ella langsung turun dan bergegas setengah berlari ke arah lift dan menuju ke ruangan kantor Ardi di lantai tiga.
Begitu sampai di ruangan Ardi, Ella langsung memberondong masuk. Ruangan sedang tidak dikunci tentunya karena Bambang tahu Ella akan datang.
"Mana mas Ardi, Mbang?" tanya Ella langsung menanyai Bambang yang menyambutnya di area depan kantor, office room.
"Di kamar, Bu." Bambang mempersilahkan Ella masuk lebih dalam ke kamar pribadi Ardi.
Ella bergegas ke arah kamar Ardi. Disana didapatinya Ardi yang tengah terbaring di ranjangnya. Dengan sekujur tubuhnya yang terbungkus bed cover super tebal.
Ella langsung menghampiri Ardi, memeriksa keadaan suaminya itu secara menyeluruh. Meletakkan telapak tangan di dahinya serta mengecek detak nadi dari arteri radialis di tangan Ardi.
Syukurlah sudah tak terlalu panas dan tensinya juga tak terlalu drop meski masih rendah. Ella juga melakukan pemeriksaan GCS untuk mamastikan nilai kesadaran Ardi. (GCS adalah pemeriksaan kesadaran meliputi tiga aspek. Yaitu eye, verbal dan movement).
Ella membuang napas lega saat mendapati Ardi cuma tertidur saja. Syukurlah dia tidak pingsan seperti yang ditakutkan Ella disepanjang perjalanan tadi.
"Mas Ardi kenapa bisa sampai begini, Mbang?" Ella mulai menghampiri dan menginterogasi Bambang setelah memastikan keadaan Ardi tidak lagi berbahaya.
Bambang diam saja, tak sanggup untuk menjawab.
"Bukannya tadi aku sudah titip pesen sama kamu dengan detail dan panjang kali lebar? Jangan bilang kamu lupa! Kamu pasti lupa kan?" Ella sudah sangat kesal dan marah kepada asisten Ardi yang tidak kompeten ini.
Gemes banget sama si dodol Bambang ini. Pengen pecat dia saja rasanya, tapi entah kenapa Ardi masih sabar menghadapi segala blunder yang disebabkan oleh Bambang ini.
Kenapa asisten dodol begini gak dibuang ke Kutub Utara sih?