114

1156 Kata

"Terima kasih sudah datang Mutia ....." Lelaki itu berkata dengan lirih padaku, setiap dua puluh detik ia merintih, jemarinya yang hancur nyaris putus dari telapak tangannya. Sungguh tak tega hati ini menyaksikan penderitaan Mas Faisal meski tadinya aku sebal padanya. Ya Tuhan, andai aku tahu formula menghilangkan rasa sakit, niscaya akan kubantu ia untuk meredakan penderitaannya. "Aku datang menemani anak anak dan membawakan makanan, kau harus sembuh Mas," jawabku sambil menelan ludah. Andaipun ia sembuh, tangannya pasti cacat. Lelaki itu dulu kadang plin-plan, kadang juga begitu memegang prinsip dan martabatnya, ia tak mau anak anak meremehkannya sehingga ia tunaikan sumpahnya dengan cara menyakitkan. Sesuai dengan harapannya, ia akan sama sama akan punya kekurangan dengan Heri. "

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN