12. kini

1019 Kata
Kini aku terduduk di atas sajadah sambil melafalkan doa dan terus-menerus mengadu kepada Allah, tentang kiranya apa yang harus aku lakukan. Jelas perceraian bukanlah solusi dari masalah ini. Masih ada cara lain. Jika diturutkan dan aku terbawa emosi tentulah diri ini pasti akan minta cerai dalam bulan ini juga, tapi ini bukan tentang diriku saja tapi juga tentang ketiga anakku. Tentang hubunganku dengan Mas Faisal dan rasa cinta yang sudah terlanjur berakar kuat selama 24 tahun. Apakah aku sebagai istri pertama yang juga punya hak harus mengalah demi Rima, Apakah aku harus kehilangan suamiku karena wanita itu. Jika kami sudah punya peran dan tugas masing-masing serta tidak saling mengganggu, lalu apa yang salah dengan semua itu. Apakah ini tentang ego kami yang ingin memiliki satu orang suami hanya untuk dirinya saja? Di mana-mana sifat wanita akan sama. Hanya mau suaminya untuk dirinya sendiri dan tidak mau berbagi. Inginnya aku berbicara dengan rima dari hati ke hati, serta ingin tahu alasan mengapa dia mau menjadikan suamiku sebagai miliknya, mau menjadi istri kedua dan tidak pernah diprioritaskan. Suamiku bahkan tidak pernah melewatkan satu malam pun untuk tidak pulang, jadi di waktu yang mana mereka berjumpa? Pertanyaan di dalam benakku itu butuh jawaban dan jawabannya hanya ada pada istri kedua Mas Faisal. Disaat aku tenggelam dalam doa dan pemikiranku di saat yang bersamaan juga suara gagang pintu terputar dan dari luar sana Mas Faisal datang. Dia yang baru dari masjid terlihat melipat sajadah lalu duduk di pinggir ranjang. "Gimana Mas, apakah akan pergi ke rumah sakit lagi?" tanyaku dengan perasan berdebar. "Ya, aku harus merawat putra aku. Aku yakin terima kelelahan sepanjang hari ditambah ada beberapa laporan yang harus dia kerjakan." Hatiku kecut mendengar suamiku memperdulikan tentang pekerjaan istri keduanya. Aku penasaran yang ingin tahu bagaimana cara dia membahasakan cinta dan perhatiannya kepada Rima. Aku tahu waktu di antara mereka sangat sedikit lalu bagaimana mereka bisa saling mencintai dan mempercayai selama 18 tahun. "Apakah kau akan menjaga Reno lalu membiarkan dia bekerja?" "Ya. Dia adalah supervisor dan penanggung jawab pelaksana." "Jabatannya penting ya ...." "Yah, sama pentingnya dengan perananmu yang telah menjaga anak-anak kita serta mencintaiku selama ini?" Jujur saja aku merasa kecil hati meski Mas Faisal berusaha untuk menghibur diriku dengan kata-katanya yang menyejukkan. Memang di dunia ini ada beberapa jenis istri, ada yang istri yang hanya diam di rumah merapikan isi rumah lalu menjaga anak-anak dengan baik serta melayani suami, di sisi lain ada juga istri yang bekerja mandiri serta menghasilkan uang tapi masih bisa melakukan tugasnya melayani suami dan anak. wanita dengan semua peranannya harusnya diutamakan dan dibahagiakan. Mungkin selama 20 tahun lebih Aku terjebak dalam ego dan keinginan untuk selalu ditemani suami, mungkin ada hal-hal kurang di dalam diriku yang tidak bisa digantikan oleh orang lain selain Rima, mungkin ada sesuatu yang tidak bisa kulakukan dan itu bisa Rima lakukan sehingga suamiku mengaguminya dan mencintainya dengan tulus. "Inikah alasanmu begitu mempertahankannya selain karena dia memang pacar pertamamu?" "Ya." Hampir berkaca-kaca bola mata ini mendengar jawabannya, tapi aku lebih suka kejujuran yang pahit, dibandingkan dengan kebohongan yang dibungkus dengan rasa manis lalu membuat diriku melayang dan terhempas kembali ke atas bebatuan yang runcing. Aku sakit tapi aku suka karena suamiku jujur dengan semua perasaan dan kronologi peristiwa yang selama ini terjadi. "Boleh aku tahu bagaimana kau mengatur waktumu dengan wanita itu?" "Apakah kau yakin ingin tahu hal itu dan yakin bisa mendengarnya dengan benar!". "Aku harus tahu." "Ada beberapa hari libur dan cuti yang aku gunakan untuk menghabiskan waktu dengannya. Di sela-sela waktu makan siang kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan menjemput anak kami." Sakit hati ini mendengarnya, cemburu diriku terbakar dari aku dengan kobaran api yang begitu besar karena suamiku pandai sekali memanfaatkan waktu untuk bisa menjalin hubungan dengan istrinya. Tapi seperti komitmenku yang semula bahwa aku tidak akan menghakimi atau marah... maka aku hanya bisa diam saja. "Kalau begitu berkemas lah karena kau harus pergi ...."Aku berusaha untuk menatap matanya sambil berusaha menyunggingkan senyum padahal hatiku benar-benar sakit dan senyum yang aku lebarkan ini hanya bentuk bahwa aku berpura-pura tegar. Demi apa semua itu tanda tanya demi agar dia semakin merasa bersalah dan memilih diriku dibandingkan istrinya. Tapi aku tahu dia tidak akan pernah memilih. "Terima kasih atas pengertianmu mutiara... Aku sangat berhutang budi atas kebaikanmu." "Sama sama." Aku bantu dia untuk memulihkan kemeja lalu melihat Dia merapikan dirinya aku membantunya untuk memakai jaket. Ketika kami saling berhadapan, suamiku memandang wajahku sementara diri ini tertunduk tidak mau membalas tatapannya. Dia kemudian menyentuh pipiku lalu mengangkat dagu ini agar tatapan kami saling bertautan. Melihat air mataku yang jatuh Mas Faisal hanya bisa mencium kening ini lalu memutuskan untuk pergi. "Maafkan aku Mutiara ...aku pergi ya..." Sejauh-jauhnya suamiku pergi untuk melakukan tugas di pekerjaannya atau kemanapun dia ingin berpamitan padaku, baru kali ini aku merasa benar-benar berat melepaskannya. Aku terduduk di ranjang sambil menahan sedu sedan yang ingin keluar dari bibirku. Sementara dari luar terdengar suara mobil suamiku yang mulai dinyalakan dan perlahan-lahan meninggalkan pekarangan. Ya Allah, sesak sekali d**a ini. Andai bisa memilih dan memutar waktu mungkin tak akan kubiarkan satu detik pun dia lengah dari pemantauanku. Aku tidak akan membiarkan dia sampai tergoda atau jadi milik orang lain. Andai aku lebih peka dan paham tentang dirinya. Suamiku, yang aku kenal sebulan di saat pertemuan tidak sengaja kami di sebuah bazar, lalu secara kebetulan orang tua kami menjodohkan kami, dia langsung melamarku tanpa menunggu waktu lama. Tidak kusangka di sisi lain, dia memendam cinta untuk mantan kekasihnya. Tak kusangka, akhirnya begini jadinya hubungan kami menjadi sebuah kerumitan. Tring ... Sebuah pesan masuk ke ponselku, itu dari nomor yang tidak dikenal dan tidak pernah aku ketahui sebelumnya. (Mbak, kita harus bicara, Aku ingin bicara dari hati ke hati denganmu agar tidak terjadi konflik lagi diantara kita. Aku juga minta maaf atas apa yang terjadi pada anakmu.) Tidak ditulis nama pun aku sudah tahu kalau itu dari rima. (Tidak apa apa, aku juga minta maaf atas sikap anakku.) (Aku ingin kita bertemu.) (Dimana?) (Di rumah sakit saja besok.) (Baik, aku juga ingin kita bicara dan saling jujur.) Aku menjawab sambil membayangkan pertemuan besok serta apa saja yang harus dikatakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN