Sepotong roti dan telur juga segelas air menjadi menu makan yang diberikan oleh Morgan. Setelah kejadian semalam di mana Morgan memaksanya untuk pulang hingga kecelakaan tunggal itu, mereka pulang menaiki taksi dengan penampilan yang kacau.
Hari sudah beranjak siang, dan tampaknya dua orang yang masih bergumul panas di atas ranjang itu tak berniat berhenti. Siapa yang mengira kamar utama di apartemen Morgan, ternyata terhubung dengan ruang lain yang hanya dipisahkan oleh kaca dua arah.
“Benar-benar, bajingan.”
Senyum aneh di wajah penuh peluh itu menatapnya, masih menggerakkan tubuh memuaskan hasrat pada wanita yang Liz ingat ada dalam foto.
Perutnya bergejolak, sambil menutup mulut, ia berlari menuju kamar mandi di dalam kamar.
Kembali Liz mengeluarkan cairan di dalam perutnya, untuk ketiga kali dalam sehari ini ia memuntahkan makanan yang sempat masuk ke perutnya. Sensasi mual kembali dirasa, membuatnya terduduk di kloset walau yang tersisa hanya cairan bening.
Desahan di dalam kamar terdengar semakin kencang, seakan tidak lelah meski dua jam telah berlalu.
Kemudian dalam kondisi lemas, Liz keluar dari toilet. Mengabaikan kenikmatan penuh dosa yang tengah Morgan lakukan, ia memilih duduk sambil menggigit sepotong roti untuk sekadar mengisi kembali tenaganya.
Kamar sengaja dikunci dari luar, makanan di antar setiap empat jam sekali. Ponsel dan tasnya tertinggal di dalam mobil, tidak ada cara untuk melarikan diri.
“Lagi?! Sayang, apa kamu tidak lelah?!”
Seruan panik wanita itu terdengar. Liz melirik sekilas, mendapati Morgan tengah menarik rambut panjang si wanita dan membuatnya meringis.
“Sakit! Ada apa denganmu?!”
“Diam!! Kamu hanya perlu melebarkan kakimu, apa yang perlu dicemaskan? Biaya hidupmu saja aku tanggung! Jadi, puaskan aku lagi!”
Setelah itu, ruangan dipenuhi teriakan penuh kesakitan, tak ada lagi kenikmatan di sana. Hanya ada amarah. Tiba pada saat roti dan air habis, Liz berdiri. Namun, sensasi aneh dirasa membuatnya mengurungkan niat untuk mendekat.
Tubuhnya serasa panas, bernapas pun terasa sulit. Liz menyalakan air conditioner, berharap dapat mengurangi peluh dari sensasi aneh tubuhnya.
Teriakan wanita itu tak lagi terdengar, Morgan sudah berdiri dengan sepotong handuk di pinggang, memandang lurus ke arah kamar utama. Merasa ada yang aneh, Liz bergegas pergi ke kamar mandi.
Sensasi dingin air yang keluar dari shower, membasahi tubuh. Sedikit mengurangi panas tubuhnya. Liz menoleh, kala pintu diketuk.
“Keluarlah,” kata Morgan. “Percuma saja, menyiram dengan air dingin tidak akan menghilangkan panasnya. Keluar saja, biar aku bantu.”
Sudah Liz tebak, pria itu pasti mencampur sesuatu di dalam makanan dan minumannya. Ia menggeram, amarah sudah tak dapat dibendung.
“Enyahlah! Dasar menjijikkan!” hardiknya.
Tidak ada sahutan, tapi gagang pintu masih terus bergerak. Morgan masih berusaha untuk masuk.
“Jangan sok jual mahal, memangnya apa lagi yang kamu punya? Harga diri? Bukannya sudah lama kamu membuangnya?”
Morgan kembali bersuara. “Kekuasaan papamu dan keegoisanmu, telah membuat hidup orang lain hancur. Apa kamu lupa dengan balerina yang menghilang itu?”
Liz membeku, perkataan Morgan seolah membawanya kembali ke masa-masa kelam.
“Siapa yang menurutmu punya andil besar dalam hal itu? Jangan naif, hanya tinggal menunggu waktu sampai dunia tahu apa yang telah kalian lakukan.”
Tubuh kurus Liz gemetar, ketakutan yang dirasa lebih dari dinginnya air. Di tengah kegundahan, pintu terbuka. Morgan menyambut dengan senyuman aneh, tampak memperhatikan penampilannya yang berantakan.
Pria itu mendekat, lalu menariknya keluar dari sana. Tangan kasar Morgan menyentuh wajah dingin Liz, membelainya sambil mengendus-endus leher.
“Cukup diam dan nikmati,” bisik Morgan.
Aroma parfum cukup menyengat tercampur keringat membuat Liz tersadar, sensasi mual kembali muncul. Sampai gejolak tak tertahankan, membuat ia memuntahkan makan siangnya tadi.
Cairan berbau asam mengotori bathrobe yang Morgan kenakan, dia tampak membeku, seketika gairahnya tergantikan oleh rasa jijik.
“Berani sekali_! Sial, ini bau!”
Morgan melepas baju mandinya, dan melempar asal. Kemudian menarik Liz paksa menuju ranjang, tapi Liz lebih dulu terjatuh tepat di ambang pintu yang terbuka lebar. Tubuhnya terlalu lemah.
Ia membiarkan Morgan melampiaskan amarahnya dengan memberikan tamparan demi tamparan di wajah.
Sedikit perlawanan tak berarti diberikan.
“Perempuan tidak tahu diri! Berapa pria itu membayarmu! Sampai kamu berani kurang ajar pada suamimu?!”
Morgan tertawa bak orang kesetanan. “Kalian pikir aku tidak tahu, kalian sering bertemu diam-diam, 'kan? Apa? Apa rencana kalian?!”
Di sela rasa pening dan telinga berdenging yang mulai dirasa, Liz melirik ke arah lemari kaca.
Di mana sebuah kamera tersembunyi di sudut tempat. Tubuhnya mulai mati rasa, saat mata mulai terpejam, pintu utama terbuka. Sosok yang dinanti, muncul bagai kekasih hati.
“Akhirnya,” bisik Liz. “Kamu datang,” lanjutnya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
***
Seorang suster diam-diam meliriknya, usai mengganti perban di kepala Liz yang masih tak sadarkan diri. Sudah lebih dari empat jam, sejak Riens membawa Liz ke rumah sakit. Namun, perempuan itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
“Kami akan mengecek kondisinya lagi nanti, untuk saat ini karena pengaruh obat, pasien masih belum sadar.”
Penjelasan dokter tak membuat Riens mengalihkan pandangan, Jeff yang baru tiba hanya tersenyum canggung. “Terima kasih, dok.”
Selepas kepergian dokter dan suster, bergegas Jeff mendekat. Turut memperhatikan wajah Liz dengan saksama, lalu melirik ke arah Riens.
“Kukira hari itu terakhir kalinya kalian berhubungan,” gumam Jeff. “Apa ini? Jangan bilang kalian diam-diam berkencan, huh?”
Riens mendelik. “Berhenti meracau, dan pergi saja.”
“Hei, itu keterlaluan. Setelah meninggalkanku sendirian untuk membereskan sampah-sampah itu, lalu tiba-tiba saja menghubungi dan memintaku datang di tengah-tengah pesta!”
Jeff mengatur napas setelah bicara tanpa jeda. “Tidak tahukah berapa sulitnya mendapat hari libur?”
Melihat Riens yang mengabaikan membuat Jeff menghela napas. “Obat perangsang. Pria itu memberinya obat perangsang dengan dosis tinggi.”
Riens menoleh, pantas saja suhu tubuh Liz saat itu terasa panas, dan perempuan itu tak berhenti meracau sesekali melenguh. Bila dia terlambat sedikit saja ...
Pandangannya bergulir, memandang kembali pada tubuh tak berdaya Liz. Bila dia terlambat sedikit saja, apa perempuan itu masih bisa melihat dunia sama seperti sebelumnya?
“Hei, Riens.” Jeff memanggil nyaris berbisik, dia tampak ragu. “Kamu melakukan sampai sejauh ini, bahkan tanpa tuan Mackenzie tahu. Apa perempuan itu sangat berarti untukmu?”
Berarti untuknya? Seseorang yang bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri? Rasanya Riens ingin tertawa, walau kini hanya kegetiran yang dirasa.
“Mauku buat mulutmu itu berhenti berfungsi?” Dia melirik tajam melalui ekor matanya, dan kembali memandang Liz. “Aku hanya benci ketika semua menjadi kacau,” bisiknya.
Jemari lentik yang terpasang infus itu bergerak perlahan, kemudian mata sayu menyapa mereka.
“Sudah sadar?!” seru Jeff panik.
Bergegas menekan tombol di samping tempat tidur pasien.
Riens berdiri, ketika dokter langsung memeriksa. Perempuan itu tampak linglung, tapi masih tetap tenang sampai dokter selesai memeriksa.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pasien masih lemah karena pengaruh obat. Tidak perlu dirawat inap, tapi untuk jaga-jaga sebaiknya tunggu hingga benar-benar pulih.”
“Sungguh?! Apa tidak perlu pemeriksaan lanjutan? Bagaimana bisa otaknya tidak bermasalah?! Lihat! Wajahnya saja babak belur seperti itu! Dia_”
Riens mendorong wajah Jeff menjauh, dalam satu tarikan di wajah dengan satu genggaman tangan, lalu yang terdengar hanya gumaman tak jelas Jeff. Kini Riens yang berdiri berhadapan dengan dokter yang tersenyum kaku.
“Kapan dia boleh pulang?” tanyanya sambil menatap Liz.
“Apa? Ah, pasien sudah boleh pulang setelah cairan infusnya habis.”
Kemudian pandangan Riens beralih ke arah dokter. “Dan kapan itu?”
“Ti—tidak lama! Akan ada suster yang memeriksanya setiap sejam sekali,” papar dokter. “Saya permisi,” lanjutnya terburu-buru keluar dari ruangan.
Di sisi lain, Jeff berhasil lolos dari cengkeraman kuat tangan Riens di wajahnya. “Aku hampir saja mati, sialan!”
“Tapi tidak, 'kan?” balas Riens datar.
“Apa_!”
“Ada sebuah kamera tersembunyi yang kuletakkan di kamar utama,” potong Liz. “Jadikan itu bukti,” lanjutnya sambil menatap Riens.
Jeff melirik bergantian ke arah Riens dan Liz, saat keduanya memilih bungkam. “Masalah itu biar aku yang urus, sebelum itu. Perkenalkan, namaku_”
“Keberatan? Bukannya kamu bilang penawaranmu masih berlaku?” potong Liz lagi tanpa mengalihkan pandangan.
***
“Dia sadar ada kamera, tapi membiarkan dirinya habis dipukuli seperti itu?”
Jeff masih tak percaya, kini dirinya dan Riens tengah berada di taman rumah sakit. Setelah kedatangan Wira yang membuat Jeff kelimpungan.
Namun, Riens tampak tenang menghisap sebatang rokok ke sekian sambil memandang langit yang mulai gelap. Pikirannya berkecamuk, sesuatu yang belum pernah terjadi karena isi kepalanya tidak pernah sepenuh ini.
“Hei, Riens. Aku rasa ada yang tidak beres, sebaiknya kita mundur dan susun ulang semua rencana, dan_”
Riens berdiri, melempar puntung rokok lalu menginjaknya. “Tidak, ini sudah terlalu jauh.”
Dia mendongak, memandang hamparan langit dengan perasaan hampa. Sesuatu yang biasa untuknya, tapi kini ada rasa gundah yang mencoba merangkak naik dari sudut hatinya yang gelap.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Jeff.
Riens membeku sesaat. “Kenapa?”
“Hanya saja, ini tidak seperti dirimu. Sejak kapan seorang Riens Mackenzie, mau direpotkan oleh seseorang sampai rela terjun langsung di luar misi?”
Riens menoleh, tidak ada ekspresi berarti di wajahnya. “Hentikan omong kosongmu,” ujarnya lalu pergi.
Meninggalkan Jeff yang memandang datar, sudut bibirnya tertarik ke atas. “Ya, seperti inilah dirimu.”