Pada suatu malam di tahun 2016 suara tepuk tangan riuh dan seruan heboh membahana di peralatan parkir sebuah kampus begitu sebuah band indie itu selesai membawakan lagu ketiga mereka. Cassie merasakan ia menikmati malam even itu lebih baik dari yang ia bayangkan sebelumnya. Pria yang ada di sebelahnya itu memang menunjukkan jika ia menyukai band itu dengan ikut bernyanyi pada setiap lirik.
“Dari mana Bapak tahu band ini?” tanya Cassie di atas bahu Sang Manajer Perusahaan Minuman Bersoda itu.
“Karena aku menonton mereka setiap kali mereka manggung di acara atau pergelaran dengan persahaanku sebagai sponsor.” Kepalanya sekarang mengangguk-angguk mengikuti irama lagu keempat.
Cassie akhirnya paham, namun ia juga menyadari satu hal. “Jadi Bapak selalu meminta seorang staf perempuan untuk menemani Bapak setiap acara atau pergelaran itu berlangsung?”
Dengan cepat ia menoleh ke samping. Ekspresinya berubah shock. “Astaga, Cassie. Kamu kira aku pria seperti apa? Aku telah menikah.” Ia memamerkan cincinnya tepat di depan wajah Cassie. Membuat gadis itu harus menjauhkan wajahnya dari tangan itu.
Setelah tangan itu diturunkan Cassie kembali bertanya, “Kalau begitu kenapa Bapak memilih untuk saya untuk menemani? Teman saya yang datang hari itu jauh lebih cantik...”
Sang itu dengan segera menggeleng. “Aku tidak ingin mendapat masalah dengan pemuda yang juga datang denganmu hari itu.”
Cassie menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Sekarang Sang Manajer itulah yang terdengar tidak percaya. “Jadi kamu sama sekali tidak menyadarinya?” Pria itu mendengus. “Aku bisa melihatnya dengan sangat baik, Cassie. Atau mungkin karena kamu terlalu muda jadi tidak menyadari banyak hal yang terjadi di sekitarmu?”
Cassie memilih untuk tidak menanggapi lebih jauh.
Setelah itu mereka kembali menikmati lagu yang sedang dimainkan itu. Sebuah pop ballad yang berbeda dari lagu sebelumnya. Cassie mengedarkan pandangannya dan menyadari lebih banyak penonton yang tertarik dengan lagu ini daripada ketiga lagu sebelumnya. Pria yang ditemani Cassie setengah harian ini bahkan lebih menghayati dengan bibirnya yang mengikuti lirik.
Tidak berapa lama kemudian Cassie berjengit karena tiba-tiba Sang Manajer merogoh saku celananya. Layar ponsel langsung menempel di telinganya. Cassie mengawasi semua itu semua dengan dahi mengerut. Namun begitu si pria berbalik dan menyeruak di antara kerumunan, Cassie dengan segera mengikuti.
“Ada apa, Pak? Sesuatu yang terjadi?” Setelah pria itu mengembalikan ponsel dalam saku celananya.
Namun Sang Manajer mengedarkan pandangannya di atas kepala Cassie sebelum berhenti pada satu titik dan menyeringai. Ia akhirnya kembali pada Cassie yang masih kebingungan. “Yep, sesuatu terjadi di pabrik dan aku harus kembali secepatnya.” Ekspresi pria itu melembut. “Nikmati malam ini, Cassie. Dan jangan lupakan aku.” Setelah itu pria itu berbalik badan dan berlari ke arah yang lain..
***
Beberapa tahun kemudian Cassie yang berusia dua puluh lima tahun sekarang tengah berjalan bersisian dengan pria itu – Fadli dengan tangannya yang sekali lagi terselip dalam lengannya. Kali ini tidak ada cincin di jari manis pria itu. Mereka tengah meninggalkan parkiran dan menuju gedung pesta pernikahan kedua temannya itu.
Sepajang jalan Cassie berusaha menundukkan kepalanya. Walau ia tahu akan ada yang mengenalinya pada akhirnya, namun ia merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya
“Tegakkan kepalamu, Cassie. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun.” Begitu Fadli menyadari apa yang tengah ia lakukan ketika ia sudah sangat dekat dengan meja penerima tamu.
Fadli meremas tangannya yang ada di lengan pria itu sebelum menulis nama mereka berdua di buku tamu. Pria itu tertawa menyadari apa yang menjadi ucapan terimasih itu sebelum menyerahkannya pada Cassie. Gadis itu tertawa kecil sebelum memasukkannya ke dalam tas tangannya.
Pestanya terlihat meriah dengan banyak tamu undangan. Cassie akhirnya memberanikan diri untuk mengedarkan pandangan. Ia melihat sekelompok mantan teman seangkatannya di kampus mengenalinya dan secara terang-terangan menudingkan jari telunjuk ke arah keduanya dengan mulut menganga.
“Oh, ini bahkan jauh lebih menarik daripada yang kuharapkan,” komentar Fadli entah kenapa terdengar benar-benar geli.
Keduanya mengambil barisan untuk menyalami mempelai. Begitu mereka akhirnya sampai di depan kedua mempelai, Cassie tidak terkejut ketika keduanya memberi mereka pandangan terkesima.
“Pak Fadli?” Si Mempelai Pria dengan mata membelalak. Ketika kedua pria itu saling bersalaman itulah kali pertama tangan Cassie terlepas dari lengan Fadli. Si Mempelai Wanita memberi Cassie pandangan penuh arti sebelum mereka berpelukan erat. Cassie membalasnya dengan kikuk.
“Jadi kalian...” Si Mempelai Pria menatap mereka bergantian
Cassie mencoba menggeleng, tapi tidak jadi karena Fadli sudah meraih tangannya dan menautkan jemarinya ke sana. “Yep!”
Si Mempelai Pria berdecak. “Selamat atas menjadi yang ketiga, Cass.”
Cassie melotot saat itu juga sehingga membuat kedua mempelai itu terbahak. Masih dengan kedua tangan bertaut mereka menuruni panggung.
“Itu tadi tidak perlu,” geram Cassie berusaha melepas tangannya, tapi tidak bisa. Fadli sekarang mengayun-ayunkannya dengan cepat di antara mereka.
“Apa? Apa kamu ingin mengakui kalau kamu masih single di sebuah acara pernikahan setelah kamu telah terlihat menghadirinya dengan seorang pria? Itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri.”
Cassie menarik napas tajam. Tidak punya apapun sebagai bantahan.
Sekarang mereka ikut mengantri di salah satu buffet yang menyediakan hidangan. Fadli tampak senang dengan makanan yang disajikan dan Cassie malah kehilangan selera makan.
“Cassie!”
Cassie menatap ke arah asal suara yang memanggil namanya itu. Itu adalah Sang Sekretaris Even kampusnya hari itu Ia terlihat bersama dengan kelompok yang Cassie kembali sebagai geng Sang Ketua Even. Sang Sekretaris tentu saja mencuri lirik ke arah Fadli sebelum kembali padanya. Cassie melirik ke arah Fadli sejenak sebelum pria itu mengedikkan bahu.
“Aku tidak akan jauh-jauh. Pergilah bersosialisasi sana. Kamu membutuhkannya.”
Cassie lalu membiarkan dirinya menuju ke arah kelompok itu.
“Astaga, Cassie. Dengan Pak Fadli?!” Sang Sekretaris Even dengan tangannya berada di siku Cassie. Ekspresi terkejutnya berlebihan. Para pria dalam kelompok itu menyeringai ke arahnya
“Surprise!” ucap Cassie berusaha bercanda.
“Aku tahu ada sesuatu pada kalian hari itu.” Sang Sekretaris Even masih sama hebohnya.
“Dan pada empat tahun yang lalu itu ia masih berstatus suami orang,” sambar salah satu pria yang ada di sana. Seringai yang ia tunjukkan membuat seseorang ingin menonjok wajahnya.
“Tapi sekarang sudah tidak, kan?” Sang Sekretaris Even akhirnya bisa menari hati Cassie. Karena sebelumnya Cassie ingin sekali menonjoknya juga.
“Dan Pak Ghaniy ada di sini juga. Aku baru saja bertemu dengannya.” Cassie menoleh dan mendapati Sang Ketua Even juga hadir. Ia tampak lebih tua sekarang dan entah kenapa masih sama menyebalkannya. Karena Cassie masih tidak menanggapi, ia menambahkan. “Apa? Aku kira kalian juga dekat?”
Cassie memutar bola matanya. “Jadi apa kamu masih marah soal itu?” Walau informasi Ghaniy hadir di pesta ini juga lebih menarik perhatiannya.
Pria congkak itu mengedikkan bahu sekali. “Hanya masih penasaran kenapa beliau begitu menyukaimu pada waktu itu...”
“Dan kamu masih menyimpan pertanyaan itu selama empat tahun?” potong Cassie cepat. Apa kamu yakin hormon estrogenmu tidak terlalu tinggi beberapa tahun belakangan ini?” Pertanyaan Cassie menyebabkan dengus geli dan tawa tertahan dari kelompok itu.
Sang Ketua Even mendelik ke arahnya. Namun Cassie sudah tidak ada niat untuk memperpanjang percakapan dengan kelompok itu jadi ia mengucap pamit dan pergi.
Ballroom itu cukup luas sehingga Cassie harus mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari Fadli, tapi tidak menemukannya di manapun. Ia malah menemukan Ghaniy dan itu membuatnya menghentikan langkah. Begitu ia memastikan jika pria itu sendirian, Cassie baru memantapkan hati untuk menghampirinya.
Ghaniy menyadari kehadirannya bahkan ketika ia masih berjarak dua langkah darinya. Pria itu memberinya senyum miring. Ada piring berisi potongan kue yang Cassie kenali sebagai tiramisu di tangannya.
“Hai, Cassie. Kamu terlihat cantik,” kata pria itu sebagai salam begitu Cassie berada di hadapannya.
“Pak Ghaniy...”
“Malam itu ketika aku perform di Long Dock, tiba-tiba kamu menghilang hingga acara itu selesai. Dan hari ini kamu datang dengan pria yang...”
“...Mas dan Fadli dan saya tidak punya hubungan apa-apa!” Cassie dengan cepat dan entah kenapa ia merasa belakang tenggorokannya sakit.
Ghaniy mendengus, menunduk memandang piring di tangannya.
“Beliau hanya mengajak saya pergi bersama...”
Ghaniy memotong perkataan Cassie dengan menggeleng. “Kamu tidak perlu menjelaskan apapun tentang pria yang melingkarkan...”
“Tidak. Karena saya tdiak ingin Pak Ghaniy salah paham!” seru Cassie dan kali ini ia melangkah lebih dekat. “Kami berdua tidak punya hubungan apapun...”
***