Bab. 1

1961 Kata
Bahwa bahagia dan duka itu datangnya satu paket. Kamu tidak akan merasakan bahagia sebelum tahu apa itu duka, dan jangan terlena akan rasa bahagia karena bisa jadi esok kau akan merasakan duka. (ChantyRomans) ~~~~~ Gelak tawa melingkupi sebuah suasana. Langit Surabaya biru cerah, serta kelip gemintang menjadi hiasannya.  Tepat malam ini acara yang sangat ditunggu-tunggu  oleh seorang lelaki berbadan tegap serta berparas rupawan, bibir merahnya merekah semringah, dan lengkungan senyum tak usai untuk tandas dari kedua sudut rahangnya. Hari ini ia akan membawa kedua orangtuanya untuk melamar sang pujaan hati. Menikah adalah impiannya, dan menikahi perempuan pemilik hatinya adalah cita-citanya. Siapa yang tidak berbahagia jika apa yang selama ini diidam-idamkan akan tercapai, senang dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. "Yakin lo sama keputusan itu Sat?" "Emang kenapa Li?" "Gue kok malah nggak yakin ya? Oke gene Sat, gue merasa aneh aja, Kirana yang lo ceritain belum ingin menikah sebelum punya karir dan ngebahagian orangtuanya, mendadak ingin cepat-cepat dilamar." Satya teringat kembali teringat perbincangannya dengan Ghaly sahabat nya saat dia menceritakan niatnya melamar Kirana. Bukan tanpa sebab Ghaly mengernyit heran dengan keputusan Satya. Lelaki itu pernah bercerita, bahwa Kirana, gadis yang dekat dengan Satya dari beberapa tahun lalu, pernah keberatan saat dulu Satya ingin mengkhitbahnya, dan kini mendadak dia yang meminta Satya untuk mempercepat pertunangan. Ghaly bukan tak percaya, hanya ada sedikit ragu dan janggal dalam hati lelaki itu. Meninggalkan angannya tentang obrolan bersama Ghaly yang lalu. Satya kembali fokus pada acara malam ini. "Satya Nayaka, saya terima lamaran kamu untuk putri saya Kirana. Semoga niat baik ini mendapat banyak berkah, dan niat suci kalian diberi jalan yang mudah." Wajah Satya berbinar cerah saat mendengar jawaban dari pak Handoko yang merupakan ayah dari perempuan yang selama ini diam-diam mencuri hatinya. Kirana namanya, Satya sudah jatuh hati sejak pertama beradu pandang dengan gadis dua puluh tiga tahun itu, dulu saat Kiran baru lulus dari bangku SMA. Dekat lebih dari tiga tahun, tapi tidak pernah ada ikrar untuk hubungan mereka. Satya sadar diri, jika pacaran itu sangat dilarang dalam Islam. Apalagi slemtingan sindiran dari Ghaly sahabatnya yang merupakan anak pemilik pesantren, dan sedikit banyak paham tentang hukum dalam Islam. Alasan kenapa Satya tak pernah menyebut Kirana adalah kekasihnya, lelaki itu hanya berjanji akan senantiasa menjaga rasa yang tumbuh subur dalam hati, hingga tiba saatnya Kirana halal baginya. "Saya berjanji akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan Kirana, Oom." ucapnya sungguh-sungguh di depan kedua orangtua Kirana dan juga orang tuanya sendiri. Kirana pun tersenyum bahagia, wajahnya merona mendengar janji yang diucapkan sang lelaki pujaan hati. Pembicaraan setelah musyawarah dan akhirnya telah disepakati kedua keluarga bahwa pernikahan Satya dan Kirana akan dilaksanakan sebulan lagi, tepat saat Kirana usai di wisuda. Kirana mengambil program kuliah di luar negeri dan tinggal di sana usai menuntaskan pendidikannya di bangku putih abu-abu. Jadi otomatis sejak Satya menyatakan rasa sukanya, lelaki itu hanya bertemu beberapa kali dengan Kiran. Komunikasi pun terbilang sangat jarang, dan Kiran hanya pulang ke Indonesia beberapa kali selama hampir tiga tahun berada di Belanda. "Mas, terima kasih ya," ucap Kiran. Gadis itu melendotkan kepalanya untuk bersandar pada pundak Satya. Usai acara, Kirana menarik Satya dan memilih duduk di teras depan untuk sekadar berbincang berdua. "Terima kasih untuk apa Ki?" "Untuk semua janji yang kamu tepati, melamarku secepatnya dan juga janji akan selalu membuatku bahagia," ucap Kirana tersenyum. Satya membalas dengan senyum tipisnya, ada sebersit rasa aneh yang menggelenyar dalam aliran darahnya, tapi entah apa itu? Satya tidak paham.  Lelaki itu merasa jika gerak-gerik serta cara berbicara dan gaya bahasa Kirana berubah drastis semenjak kepulangannya dari Belanda. "Iya Ki, tidak usah berterima kasih. Sebagai lelaki sudah menjadi tanggung jawabku untuk membahagiakan perempuan yang kupilih." Satya menangkup kedua pipi Kirana, berusaha meyakinkan dirinya sekali lagi, jika keputusan yang ia ambil malam ini adalah tepat. *** "Waaatuunnisaa-a shaduqaatihinna nihlatan fa-in thibna lakum 'an syai-in minhu nafsa fakuluuhu hanii-an marii-an (Dan janganlah kamu serahkan, kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu), yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu), dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. - (QS.4:5) "Sodaqollah hulladzim.." Gadis itu mengakhiri bacaan tartilnya ba'da subuh ini. Bertubuh mungil, kulit putih bersih, hidung bangir dan mata agak sipit. Terlahir dari keluarga sederhana tak menghalangi gadis bernama Marissa Attaya itu untuk tetap melaksanakan kewajiban sebagai muslimah sejati. Bola mata gadis berjilbab biru itu berbinar mengingat sebentar lagi adalah hari bahagianya. Hari dimana ia akan menjadi perempuan yang sempurna karena akan menyempurnakan separuh agamanya. Sang pujaan hati yang sudah lama dicintai dalam diamnya telah datang untuk mengkhitbah. Rabbi, adakah yang lebih membahagiakan dari ini? Bersua dengan jodoh dan akan segera mengakhiri status lajangnya. Adam Al-Faris lelaki yang sudah beberapa bulan bertaaruf dengan Rissa itu kini sudah resmi menjadi makhtuba atau tunangan dari gadis itu. Sudah terbayang dalam benak Rissa akan kehidupannya kelak setelah ikrar suci itu diucapkan oleh Adam calon suaminya. Menjadi istri yang berbakti, taat, serta shalih adalah cita-citanya sedari remaja. Membesarkan buah hati mereka dengan penuh kasih sayang serta limpahan cinta, mengikrarkan diri sepenuh hati sebagai istri dan ibu bagi mujahid kecilnya, mendidiknya hingga menjadi generasi ghurobah, penerus generasi Qur'ani. Ah, rasanya Rissa tak bisa berhenti mengulas senyum jika membayangkan itu semua. Dua hari lagi adalah hari sakralnya. Semua persiapan pun sudah dilakukan, dari menyiapkan baju untuk akad, undangan dan juga gedung untuk resepsi Adam dan Rissa. Sekitar 500 undangan juga sudah tersebar pada saudara, kerabat serta teman-teman mereka. Rapalan doa serta salawat menggaung dari bibir Rissa setiap kali selesai sujud "Rissa hari ini jangan kemana-mana ya Nak. Di rumah saja," titah bu Rumi ibunda Rissa. Gadis itu mengangguk patuh, Rissa paham betul kenapa dia tidak boleh keluar rumah menjelang hari pernikahannya. Dalam tradisi para orangtua atau istilahnya adalah dipingit, sang calon mempelai perempuan harus berdiam diri, tidak boleh menampakkan wajahnya diluar rumah, apalagi bertemu dengan calon suaminya. Rissa menurut saja, toh tidak ada salahnya melaksanakan tradisi, tetapi kadang yang membuat tradisi itu tercemari adalah, adanya suatu kepercayaan yang menjerumus pada hal di luar nalar manusia, dan itu hukumnya bisa menjadi Kufarat. Banyak yang mengatakan jika saat dipingit tapi memaksa untuk keluar rumah, maka akan ada hal sial yang menimpa. Rissa tidak percaya akan hal itu. Kufarat sendiri adalah, suatu kepercayaan yang dibumbui dengan hal ghaib, dan disebarkan dengan berlebihan. Itu jatuhnya syirik, karena percaya selain pada Kuasa Allah swt. *** Rinai gerimis menari-nari, menambah syahduh suasana malam hari ini. Lengkungan di bibir lelaki itu tidak bisa terhenti, saat membayangkan ia sudah berhasil mengikat gadis pujaan hatinya dalam sebuah hubungan yang serius. Tetapi tidak bisa dipungkiri jika ada ganjal yang menelusupi hati Satya, apalagi jika teringat obrolannya bersama Ghaly. Bertambah bingung serta bimbang diri Satya akan perubahan sikap Kirana. Lalu, pendapat bu Selvi--ibu Satya yang kemarin sempat menyayangkan, kenapa Kiran belum mau juga untuk berjilbab dan menutup auratnya. "Padahal Ibu ini penginnya punya mantu yang terjaga gitu auratnya, Sat. Kalau tubuhnya saja dijaga, Ibu yakin, hatinya juga pasti terjaga." pendapat bu Selvi waktu itu, terputar kembali dalam otak Satya. Dalam benak Satya juga terpikir kalau tidak sia-sia empat tahun merajut kasih bersama Kiran, meski tanpa ikrar apapun, tapi kini sebentar lagi gadis itu akan halal untuknya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Satya untuk meyakinkan hatinya jika Kirana lah memang gadis yang tepat untuknya. Sejak awal menjalin hubungan pun, Satya sudah bertekad akan membawanya ke jenjang yang serius, tidak ingin hanya sekadar main-main. Bayangkan saja, empat tahun, jika dia tidak bisa meminang Kirana, itu sama saja selama ini lelaki itu hanya jagain jodohnya orang saja. Begitu mungkin kira-kira pemikiran lelaki itu. Rasa bingung, heran yang mengecamuk dalam benak Satya, ditambah dengan rinai gerimis yang mengguyur tanah malam ini, menjadikan Satya kurang fokus dalam mengendarai mobilnya. Ditambah dengan gemuruh serta kilatan petir yang sesekali seperti hendak menyambar, menjadikan pandangan Satya agak sedikit mengabur. Braaaak...!! Ciiiiit..!!! Bunyi suara benda tertabrak beradu dengan decitan dari ban mobil akibat rem mendadak memenuhi jalanan yang terlihat lengang. "Astagfirullah, ya Allah." Satya baru sadar jika mobilnya menghantam sesuatu dari depan. Lelaki itu panik dan  melesat keluar dari mobil dengan cepat. Mata Satya tercengang menyaksikkan pemandangan yang ada di depannya.  Kerongkongannya terasa tercekat, sepersekian detik Satya tak bisa berkata apa-apa. Wajah kesakitan dengan penuh lumuran darah mulai dari kepala serta hidung oleh seseorang yang tak sengaja ia tabrak malam ini seakan melemahkan seluruh persendiannya. Lelaki itu terduduk lemas di sebelah tubuh yang terlihat kesakitan itu. "Ya Allah, Mas..bertahan. Kita ke rumah sakit secepatnya. Maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja." Satya terlihat gugup dan cemas, namun lebih takut lagi jika ia tidak akan sempat menyelamatkan lelaki yang ditabraknya itu. "Ris..sa." diantara deru napas yang tersengal, lelaki yang nampak kesakitan itu menyebut sebuah nama. Satya ingin mengangkatnya ke dalam mobil, tapi tangan lelaki itu menahannya. Diantara rasa kesakitan, Satya bisa melihat gelengan lemah darinya. "Saya sudah tidak kuat..." ucapnya dengan nada terputus-putus. "Rissa..saya mohon, jaga dia." lelaki itu menyerahkan sesuatu dari tangannya pada Satya. Sebuah cincin dalam kotak. "Jaga dan cintai Riss..a," kalimat terakhir yang Satya dengar dari mulut lelaki itu sebelum semuanya menjadi sunyi. Sejenak Satya diam mematung. Merasa apa yang dialaminya malam ini adalah sebuah mimpi buruk. Lelaki itu mengusap kasar wajahnya, ini adalah hari bahagia untuknya karena berhasil melamar Kirana menjadi tunangannya. Tetapi rupanya hari ini juga merupakan hari terburuk dalam sejarah kehidupannya. Satya menabrak seseorang hingga meninggal. Apa itu berarti dia sama saja dengan seorang pembunuh. "Rissa." tiba-tiba saja tanpa sadar mulut Satya  menyebutkan satu nama yang sempat ia dengar dari lelaki yang sudah menutup mata untuk selamanya itu. Siapa dia Rissa? Apa maksud dari lelaki itu dengan mengatakan bahwa ia harus menjaga serta mencintai gadis bernama Rissa itu. Satya paham, jika itu adalah amanah terakhir darinya. Tetapi lelaki itu tak yakin bisa menjalankan amanah dari seseorang yang telah ia renggut nyawanya itu. Bagimana hubungannya dengan Kirana yang tinggal selangkah lagi? ___ "Rissa, belum tidur Nak?" Rissa menoleh saat ada yang memanggilnya. Rupanya ibu Rumi. Entah kenapa hati Rissa malam ini merasa gelisah sekali, gigil malam ini terasa menusuk sampai ke tulang Marissa, cemas diam-diam telah menginvansi orak gadis itu, dan Rissa yang dilanda rasa tak tenang  memutuskan mencari angin sebentar dengan duduk di balai-balai depan rumah. "Belum ngantuk Bu," sahutnya berusaha menyembunyikan raut gelisah dari ibunya. "Lekas tidur Nak, calon pengantin tidak baik kalau begadang malam-malam, nanti pas duduk di pelaminan terlihat pucat." bu Rumi menasihati Rissa. Gadis itu hanya membalas dengan anggukan serta seulas senyum. Rissa meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja dekat ranjang kamarnya. Ponsel pemberian dari Adam yang selalu menemani serta menjadi sarana pengobat rindu jika gadis itu merindukan sosok pangeran hatinya. Detak jarum terdengar nyaring, mungkin karena ini sudah tengah malam, dan Rissa masih belum bisa terpejam juga. Pikirannya melayang pada sosok yang ia cintai--lelaki yang dengan kesungguhan hati akan mempersuntingnya, menjadikan dia ratu dalam hatinya. Entah kenapa sedari sore tadi dalam benak Rissa dipenuhi dengan wajah Adam. Hatinya berdesir mengingat lengkungan senyum Adam. Cemas dan gelisah sekali, tidak seperti biasanya. ___ Embun pagi masih memancar bening, dan seperti sang embun yang meninggalkan nuansa basah, dunia Rissa serasa runtuh saat ini juga. Pagi yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya, tiba-tiba saja menjadi duka untuknya. "Tidak Bu, ini tidak benar. Pasti ini hanya mimpi kan!? Rissa nggak percaya, semua pasti bohong. Kalian semua bercanda kan! Ini ngga lucu sama sekali!" entah sudah berapa banyak air yang menetes dari wajah cantik Rissa. Pagi-pagi sekali bu Dewi dan pak Fandi calon mertuanya datang mengabari jika semalam Adam mengalami kecelakaan. Luluh lantak rasanya dunia Rissa mendengarnya. Kedua calon mertuanya itu datang dengan jerit dan derai tangis. Hati gadis itu kini layaknya serpihan, akibat bom yang mematikan, hancur berkeping tak menyisakan apapun. Bagaimana bisa dalam sekejab kebahagian yang akan ia rasakan terenggut begitu saja. Rissa merasa goyah. Tubuhnya lemas, dan penglihatannya semakin memudar sesaat sebelum semuanya terasa gelap. #### Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN