Bab. 18

1826 Kata

Sunyi, kosong dan terasa tak berjiwa. Itulah yang dirasakan Satya saat ini. Lelaki itu mendongakkan kepalanya, menghalau tetesan air yang membayang di kedua pelupuk matanya. "Mas Adam, mana? maaf kamu siapa, Saya tidak kenal dengan Mas? Maaf bisakah kamu keluar, Saya tidak ingin ditunggu oleh laki-laki yang bukan mahram." Kerongkongan Satya tercekat. Bibirnya mengatup, dan lidahnya kelu. Lelaki itu terlihat menutup mulut dengan tangannya yang mengepal. Marissa tidak mengenalinya. "Rissa jangan bercanda. Ini Mas, suami, kamu. Bilang sama Mas, kalau kamu hanya bergurau." "Suster, tolong suruh keluar Mas, ini. Saya tidak kenal dengan dia. Dan tolong panggilkan mas Adam, dia calon suami Saya." perintah Rissa. Satya pun--tidak ada pilihan lain dan memilih menyeret langkah keluar ruang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN