BAB 2 -KAKA KELAS PART 2

1125 Kata
Mirza akhirnya sudah bertemu dengan Fika, dia diantar temen kantornya Novy, tp Novy ga bisa ikut ke rumah papanya Fika karena dia harus kerja lagi, sepertinya Novy teman baiknya Fika di jkt, tanpa berlama2 Mirza dan Fika berangkat dengan motornya Mirza untuk ke rumah alm papa Fika, selama perjalanan Mirza benar2 deg degan, rasa campur aduk, senang, sedih, khawatir semua rasa dia rasakan. "Za kita ke arah Jampang ya?" ditengah perjalanan Fika membuka pembicaraan diantara kesedihannya. "kok Jampang ka? Sukabumi?" Mirza penuh heran menjawab "iya za, kan papaku sekarang tinggal di Jampang sama istri barunya, ini aja aku dikabarin sama anak sambungnya za" kata Fika menjelaskan. "hooo aku kira masih di kampung ka" jawab Mirza. "nggk, papa kan cerai sama mama 2 thn lalu terus nikah lagi sama orang Jampang" jelas Fika menceritakan kenapa papanya bisa ada di Jampang. Sebenarnya Sukabumi jauh banget dan beda arah dari kampungnya Mirza tapi karena sudah bersedia mengantar Fika jadi Mirza tidak masalah, lagian dia juga memang sudah libur kuliah juga. Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 dan mereka baru setengah perjalanan, sekarang mereka sudah masuk ke daerah Sukabumi kota. "ka istirahat dulu sebentar ya, aku pegel, boleh ga?" tanya Mirza sambil meminta izin ke Fika "iya za, gpp aku juga pegel, lagian kata a Hanan bapak juga udh dibawa dari rs dan udh dikubur" jawab Fika lemas. Kemudian Mirza memberhentikan motornya disebuah warung pinggir jalan, disana mereka istirahat membeli minum dan makan yang disediakan. Disela-sela istirahat Mirza mencoba bertanya ke Fika soal bagaimana kronologi papanya Fika meninggal. Dari penjelasan Fika dia dihubungi oleh a Hanan yang mana dia ini adalah (kaka tiri Fika) anak sambungnya papa Fika dari istrinya yg baru, Hanan ini menghubungi Fika kalo ayahnya sedang di rawat di RS dan kritis katanya di gigit ular tanah, ular yang beracun ketika pergi ke sawah, karena jarak desa ke rs agak jauh jadi pertolongan agak lambat, dan ketika sampai rs hanya sempat beberapa jam saja kemudian papanya Fika menghembuskan nafas terakhirnya, waktu itu Hanan juga minta biaya ke Fika untuk biaya ambulan untuk membawa mayit ayahnya ke rumahnya, alasan Hanan karena dia ga ada biaya karena memang sebenarnya mereka bukan keluarga yang mampu, kerja papanya Fika aja hanya seorang petani dikampung dan Fika yang memang sedang bekerja akhirnya memberi uang ke Hanan untuk biaya administrasi di RS. Setelah mendapat cerita Mirza hanya bisa memberi semangat dan bela sungkawa atas kejadian yg mendadak itu. Setelah istirahat sekitar 15 menit dan cerita tentang kematian papanya Fika akhirnya mereka melanjutkan perjalanan lagi, Sekarang mereka mulai memasuki jalanan menuju Jampang yang dikelilingi hutan, perjalanan kira2 membutuhkan 3 jam lagi sampai ke rumah papanya Fika. selama perjalanan melewati jalur hutan Fika mulai memeluk tubuh Mirza selain karena takut waktu juga sudah mulai malam. Mirza sih disini keenakan karena ya ini memang yg dia harapkan. "itu za, belok ke kiri masuk ke simpangan yg itu" kata Fika sambil menunjuk ketika mereka melihat simpangan jalan menuju rumah papanya Fika. "wih makin lebat aja ka ya hutannya, kakak yakin disana jalannya trus itu hutan banget loh ka,?" Mirza mencoba meyakinkan Fika. "yakin za, aku pernah 2 kali kesini, ini emang sudah malam tapi gimana lagi za? tolonglah" jawab Fika penuh kesedihan. "okelah ka, pegangan soalnya jalannya jelek kayaknya" jawab Mirza mantap, mereka akhirnya mulai masuk ke simpangan yg ditunjuk Fika, sebenarnya itu lebih seperti hutan belantara yg ada jalannya aja, jalannya pun sudah seperti jalur offroad, jelek sekali, kiri kanan hanya pohon2 besar yang menemani, suara motor Mirza memecah kebisingan di malam itu ditengah hutan. Mirza sebenarnya takut, tapi mau bagaimana lagi tinggal sedikit lagi sampai kalo menurut tuturan Fika. Setelah hampir satu jam menempuh perjalan berat membelah jalanan hutan, melewati tanjakan, bukit, ladang dan Sungai kecil dengan jembatan seadanya dari kayu-kayu yang disusun, akhirnya mereka sampai di pintu masuk kampung yang bahkan Mirza aja tidak menyangka kalau disinj bakal ada kampung dan kehidupan. "ada ya ternyata yg masih kayak gini di Indonesia, kampung gue aja ga sejauh ini kayaknya" pikir Mirza ketika pertama kali sampai di kampung itu. "za ayo, jgn bengong, masuk ke jalanan kampung trus ikuti sampai ujung, nanti di ujung jalan kampung ada sawah, nah rumah papa ada ditengah sawah za" jelas Fika. Mirza hanya menangangguk dan mengikuti arahan dari Fika, selama melewati jalanan kampung Mirza sudah tidak melihat orang, mungkin karena sudah malam juga ya, soalnya waktu sudh menunjukan pukul 21.00, mungkin orang-orang sudah istirahat terlihat dari rumah-rumahnya yg sudah redup. Dan lagi bisanya kalo di kampung seperti ini selepas isya pastis epi, ditambah kampung disini kaya di film-film kolosal, jaraknya jauh antar rumah, diantara rumah dan rumah masih ada kebun2 kecil, walaupun sudah ada Listrik tapi nuansanya masih saja seperti tahun 80an, taksiran Mirza kemungkina Cuma ada sekitar 100 KK disini. Akhirnya Mirza sampai di ujung jalan kampung, yang dibatasi oleh parit irigasi yang lumayan lebar, sekita 1,5 meter, disitu ada jembatan lagi menuju ke sawah yang ada disebrang irigasi itu, dilanjutkan dengan jalan dari tanah berukuran lebar 1 meter yang masih cukup leluasa dilewati oleh motor, 50meter di ujung jalan itu ada sebuah rumah yang terletak di Tengah sawah yang luas, dari kejauhan Nampak ada Cahaya didalam rumah yang menandakan ada kehidupan. Mirza dan Fika segera melewati jembatan kecil irigasi dan menyusuri jalan tanah menuju ke rumah papa Fika yang ditengah sawah, hanya sekitar 1 menit Mirza dan Fika sudah sampai di depan pagar dari bambu khas pedesaan, dengan buru-buru Fika turun dari mobil, membuka pintu pagar dan langsung berlari menuju rumah. “tok tok tok” suara pintu diketuk oleh Fika “assalamualaikum bu… buu assalamualaikum” Fika memberi salam dengan buru-buru Mirza setelah memasukan dan memarkirkan motor di pekarangan rumah segera menyusul dan berdiri dibelakang Fika. Mirza menunggu seraya matanya melihat ke sekeliling memperhatikan kondisi rumah yang menurut Mirza ini masih sangat asri, da menenagkan, rumah ditengah sawa, dengan halaman rumah yang luas serrta ditanami dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran dll, ini indah sekali, begitulah piker Mirza dalam hatinya. “waalaikumsalam… “ suara seorang Perempuan dari dalam sambil membuka pintu. “ ehhh neng Fika, kok tumben malem2 gini dan ga ngabari ibu?? Ayo msuk neng” jawab seorang ibu kira2 berumur 40thn tapi masih sangat cantik dan badan yang terawatt, mirip-mirip dengan aura kasih. “hikksss hikkkss hikkks ibuuu, papa papah papah Fika buuuu” Fika langsung memeluk ibu itu dan diiringi tangis. “Kenapa kamu dateng2 nangis sambil manggil2 papah neng?” suara seorang laki-laki yang berjalan dari dalam kamar menuju ke depan pintu dan itu adalah suara papa nya Fika. “loh pa………” sebelum menyelesaikan ucapannya Fika kaget dan kemudian pingsan. “hah? Itu kan pak Budi papa nya ka Fika, kok?” itu juga yg terbesit di kepala Mirza Ketika melihat orang yang berbicara adalah papanya Fika dan masih hidup, pun begitu Mirza jupa Pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN