Tiga Hari Setelah Pelaksanaan UN.
"Jadi, kira-kira pelaksanaan perpisahan kelas 6 akan diadakan dimana? Apakah ada usul?" kata Pak Sulai di tengah-tengah rapat.
Hari ini para Guru mengadakan rapat untuk pelaksanaan perpisahan. Seluruh guru berkumpul di ruang guru untuk membahas segala-gala tentang perencanaan ini. Mulai dari pembentukan panitia, tempat, tanggal hingga konsep.
"Sepertinya belum seluruh guru berkumpul disini. Bu Lena ya belum hadir. Coba Jaka kamu cari Bu Lena, siapa tau lagi di kelas atau dimana gitu." suruh Pak Sulai.
Gw mencari Bu Lena di setiap kelas. Mulai dari kelas 4 sampai 6, musholla, kelas 3-1 tiap kamar mandi tetapi waktu Gw cek kamar mandi guru lantai 1, Gw denger suara. Kecil banget, bahkan hampir samar. Karena penasaran, Gw cek juga kamar mandi siswa laki-laki sama perempuan, semakin hilang suaranya. Tiba-tiba Bu Nisa menghampiri Gw.
"Jak?" panggilnya bingung dengan tingkah Gw.
"Bu, denger gak?"
"Apa??"
"Coba ibu diem."
Ketika kami berdua diam. Sangat hening sekali. Lalu terdengar suara denyitan kayu dan suara dua buah benda yang sedang beradu *Rnyitt rnyittt plok plok plok* tetapi sangat pelan sekali.
"Kayak suara orang n*****t, Bu." kata Gw.
"Siapa?? Bang Sani??" tanya Bu Nisa.
"Iya kali. Sama siapa tapi?" tanya Gw balik.
"Bu Lena??" tebaknya.
"Ahh yang bener. Coba yuk periksa." ajak Gw.
"Periksa dari mana??" tanya Bu Nisa bingung.
"Jendela kamarnya langsung ke luar ya. Ventilasinya juga. Apa tungguin aja di depan pintu?"
"Boleh tuh, Jak."
Kami pun menuju ke pintu kamar Bang Sani, OB Sekolah yang berada di paling pojok lorong lantai satu. Sangat terpencil, jarang di lalui orang. Anehnya adalah, ketika berada di depan pintu Bang Sani, malah suara itu hilang. Gw pun terheran-heran dengan Bu Nisa. Kok bisa sebegitu kedap suaranya kamar Bang Sani ini.
"Bu, kalo kita bisa manfaatin Bang Sani. Kita bisa n*****t disini terus Bu. Enggak usah nunggu pulang sekolah. Hehehe."
"Ihh, kamu Jak. Emang kamu mau n*****t lagi sama saya?"
"Mau lah, Bu."
Lalu tanpa babibu Gw langsung menyambar bibir Bu Nisa. Juga toketnya yang menantang tak lupa Gw remas-remas saking gemasnya.
"Jakkhh,, sebemmmm ntar."
*Spluurrppp. Gw sedot seluruh air liurnya.
"Jangan duluu atuhhhh. Kita lagi tungguin Bu Lena kan."
Gw pun melepaskan ciuman Gw dari Bu Nisa. Bajunya yang tadi Gw berantakin sudah Gw rapihkan tak ada lecekan. Tiba-tiba dari dalam kamar Bang Sani terdengar suara.
*Stekk. Kunci pintunya dibuka dari dalam.
Bang Sani keluar dari kamarnya dan terkaget melihat kami berdua. Dia diam mematung bahkan hampir terjatuh. Bu Lena dibelakangnya terlihat sedang memakai BH nya. Toketnya yang lebih besar terlihat menggantung, seakan minta dihisap saja. Memeknya yang berbulu lebat ia tutup dengan tangannya. Beda dengan m***k Bu Nisa yang hampir gundul, hanya menyisakan rambut-rambut kecil.
"Cieee. Abis ngapain nih?"
"Bu Nisa!! Jaka!! Kenapa disini!!??" tanya Bang Sani.
"Ehhh, Ya ampun." Bu Lena nampak terkaget-kaget dengan kehadiran kami.
"Abis ada yang mainnya seru banget. Hahahaha." ledek Gw.
"Ehh, gak gitu. Enggakk gituu." kata Bu Lena.
"Yaudah ayuk Jak, kita balik ke ruang guru. Bu Lena, dicariin Pak Sulai tuh ditungguin buat rapat." kata Bu Nisa.
Lalu tiba-tiba tangan Gw ditarik oleh Bang Sani.
"Jak, tolong jangan bilang siapa-siapa yaa." kata Bang Sani.
"Tenang, Bang. Saya sama Bu Nisa mah orang baik. Asal Abang sama Bu Lena baik aja. Hahahaha."
Lalu kami pun menuju ke ruang rapat untuk memenuhi panggilan Pak Sulai.
Hasil rapat telah ditentukan. Perpisahan kali ini dilaksanakan seminggu lagi di daerah puncak. Bu Lena ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana, karena dirinya adalah pemilik villa tempat pelaksanaan acara. Konsep acara hanya hiburan-hiburan saja, jadi orang tua siswa tidak diikutkan. Bu Lena menunjuk Bu Putri, Pak Rizki, Bu Nisa dan Gw untuk menjadi panitia acara.
Dua hari setelah rapat, panitia perpisahan meminta izin untuk mengunjungi villa milik Bu Lena untuk meninjau kegiatan yang akan dilaksanakan nanti. Gw baru mengetahui ternyata Bu Lena adalah orang kaya. Dia mau menjadi guru karena sudah menjadi cita-citanya dari dulu, dan juga ketika dimasa sulit uang honor mengajarnya lah yang menjadi modal suaminya berjualan di Tanah Abang hingga menjadi sesukses sekarang.
Kami berangkat dari sekolah jam 8 pagi menggunakan mobil Bu Lena. Pak Rizki yang mengandarainya. Sesampainya disana ternyata villanya lumayan luas. Kira-kira terdapat 8 kamar. Yang telah kami bagi menjadi 2 untuk siswa laki-laki dan 2 untuk siswi perempuan. Lalu 1 untuk guru laki-laki dan 2 untuk guru perempuan.
Pak Rizki dan Bu Putri berkeliling untuk melihat tempat disebelah mana yang bisa dijadikan tempat api unggun. Disaat hanya kami bertiga, Bu Nisa bertanya kepada Bu Lena perihal perselingkuhannya dengan Bang Sani.
"Udah berapa lama Bu?" Bu Nisa mengawali pembicaraan.
"Udah lama apanya?"
"Sama Bang Sani itu lohh. Hihihi."
"Gapapa, Bu. Kami mah bisa jaga mulut." timpal Gw.
"Bener ya tapi."
"Iyaa." jawab Gw dan Bu Nisa bersamaan.
"Jadi tuh baru dua bulan. Aku juga bingung mau gimana lagi. Suami aku udah impoten, dia udah enggak mau bantu aku puasin diri. Dia udah sibuk sama usahanya. Tadinya aku mau sama gigolo tapi takut. Sampe akhirnya aku liat Bang Sani, terus aku tawarin main sama aku dan aku bayar 200 ribu. Dia mau, tapi dia enggak bisa bikin aku keluar."
"Hahahaha. Salah orang kamu berarti." kata Bu Nisa sambil melirik Gw. Gw hanya bisa mengerenyitkan mata tanda tidak setuju untuk di umbar pergelutan antara Gw sama Bu Nisa.
"Abis gimana lagi. Aku kan lebih sering di sekolah daripada di rumah." kata Bu Lena.
"Loh, saya jarang liat ibu kalo sampai sore disini." kata Gw.
"Aku kadang di kelas 3, di pantry atau di ruang ngerokok temenin Pak Rizki sama Bu Putri pacaran. Biar enggak ada fitnah katanya." jelas Bu Lena.
"Ibu salah orang kali. Coba ibu mainnya sama Jaka, bisa keluar terus." kata Bu Nisa.
"Ahh, bercanda aja kamu."
Lalu Bu Nisa berbisik kepada Bu Lena. Gw enggak bisa mendengar pembicaraan mereka, yang Gw tau adalah ekspresi Bu Lena yang terlihat kaget setelah dibisiki Bu Nisa.
"Ya ampun, Bu Nisa." kata Bu Lena.
"Gapapa, Wlee. Yang penting dapet puasnya. Daripada kamu cuma dapet zinah nya doang. Hahahaha." kata Bu Nisa meledek Bu Lena.
"Tapi apa bener, Jak?" tanya Bu Lena ke Gw.
"Bener apanya, Bu?" tanya Gw heran.
"Coba, Jak. Kamu kasih unjuk k****l kamu ke Bu Lena. Bu Lena penasaran sama benda yang udah bikin saya puaasssss." Bu Nisa menyuruh Gw.
Akhirnya Gw bukalah celana Gw untuk menunjukkan k****l Gw ke hadapan dua orang ibu rumah tangga ini. Yang satu belum punya anak, yang satu sudah beranak 2.
"Bu Lena jagain ya. Takutnya Pak Rizki sama Bu Putri nanti liat."
Lalu Bu Nisa berlutut di hadapan Gw. Dia genggam k****l Gw lalu dikocoknya perlahan. Bu Nisa mengawali dengan menjilati kepala k****l Gw, batang lalu ke biji Gw. Dengan lahap dia telannya itu kedua buah zakar kedalam mulutnya.
"Slurppp. Ahhh. Ini nih yang dicari-cari warga." candanya.
"Bu, pelan-pelan. Geli tau." kata Gw.
Bu Lena hanya bisa bengong menyaksikan dua orang guru sekolah dasar Islam sedang melakukan perbuatan dosa itu. Bu Nisa tidak peduli, yang dia rasakan adalah nikmatnya menjilati k****l yang memuaskan syahwatnya.
*Slurrpphh sluurrpp
*Hlock hlockk hlockk
Bu Nisa menyodokkan k****l Gw hingga menyentuh kerongkongannya hingga mengeluarkan bunyi seperti itu. Dengan tempo sedang, Bu Nisa menyedot k****l Gw dan menaik turunkan kepalanya.
*Slurpp slurpp slurpp
"Ahhhh, enak banget Jak."
"Sepongan ibu yang enakkk."
Bu Lena yang melihat perbuatan kami, diam tak berkutik. Daripada menganggur, Gw ajaklah bergumul bersama kami.
"Bu Lena, sini ikut." ajak Gw.
"Nanti ada Pak Rizki sama Bu Putri gimana?" tanya Bu Lena.
Bu Nisa hanya tersenyum lalu melanjutkan sepongannya. Semua titik dijilatinya tanpa sisa. Dia kecupnya kepala k****l Gw hingga bawah. Lalu dia ulangi menyedot k****l Gw sambil menaik turunkan kepalanya. Merasakan kenikmatan, Gw memegang kepala Bu Nisa yang tertutup jilbab itu dan ikut menggerakkan kepalanya. Semakin nikmat Gw rasakan, semakin cepat Gw naik turunkan kepala Bu Nisa.
*Hurkkk hurkkk hurkk
Kontol Gw menyentuh kerongkongan Bu Nisa.
"Bu, udah mau keluar nih." ucap Gw memberitahu Bu Nisa.
"Bu Lena yang tampung ya." kata Bu Nisa.
Lalu Bu Nisa bangun dan menuntun Bu Lena untuk menyepong Gw. Dengan malu-malu Bu Lena memasukkan k****l Gw ke dalam mulutnya. Dia mengikuti gerakan yang tadi ditunjukkan Bu Nisa. Dia hisap sambil memainkan k****l Gw dengan lidahnya. Bu Lena juga menuntun tangan Gw untuk meremas toketnya dari dalam bajunya.
"Iyaa Buu. Dikit lagiiii."
Bu Lena semakin mempercepat gerakan kepalanya dan Gw pun menyemburkan cairan hangat itu ke dalam mulut Bu Lena.
*Crotttt crootttt.
*Glukkk glukkk glukkkk.
"Ahhh, Jakaaaaa." ucap Bu Lena.
"Banyak banget iniii. Sampai jadi haus saya." sambungnya.
Bu Lena langsung menuju dapur untuk mencari air minum. Melihat itu Bu Nisa hanya tertawa kecil. Gw hanya bisa bersyukur karena telah disepongi oleh dua orang MILF yang baik hati.
Beberapa menit kemudian Pak Rizki dan Bu Putri kembali dan menjelaskan idenya tentang acara perpisahan ini. Setelah pembicaraan yang rumit, sore harinya kami balik ke sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Jaka."
Bu Nisa mengirim pesan lewat WA ke Gw
"Iya, Bu?"
"Lagi dimana??"
"Ruang Guru, Bu. Nemenin Bu Farhah."
"Oh, yaudah. Saya nyusul."
Bu Nisa berniat menimbrung bersama Gw dan Bu Farhah yang sedang melakukan kegiatan sore kami seperti biasa.
"Siapa tuh? Pacarnya ya?" tanya Bu Farhah.
"Bukan lah. Bu Nisa ini, mau gabung kesini."
"Yaah, enggak jadi berduaan dong." candanya.
Semenjak Gw bantu untuk menginput nilai siswa, Farhah semakin dekat dengan Gw. Hampir tiap malam kami chattingan hanya untuk menanyakan kabar. Tetapi tiap Gw tawarkan untuk pulang bareng, dia selalu menolah. Entah kenapa Gw juga belum tau.
"Emang kenapa kalo bertiga? Maunya berduaan aja emangnya? Hahahaha."
"Enggak juga sihh. Nanti ada setannya dong."
"Assalamualaikum." Bu Nisa memasuki ruang guru.
"Nah, tuh setannya." canda Gw yang dilanjutkan oleh tawa Farhah.
"Ihh, anak muda. Orang masuk beri salam, bukannya dijawab malah dikatain setan." protes Bu Nisa.
"Au tuh, Jaka."
"Kamu lagi apa, Far?"
"Enggak lagi apa-apa. Tadi mah biasa, lagi nyicil input nilai. Sekarang udah selesai."
"Mau pulang sekarang?"
"Enggak tau deh. Niatnya sih masih mau disini."
"Mau berduaan sama Jaka ya."
"Iyaaa. Tapi gara-gara ibu dateng jadi ada setannya." kata Gw.
"Ihh nih anak." kata Bu Nisa sambil melempar spidol ke arah Gw.
"Ett, gak kena. Hahaha."
*Pltakkk
Spidol yang kedua yang dilempar oleh Farhah tepat mengenai hidung Gw.
"Tuh, bu saya bantuin. Enak aja bilang lagi berduaan."
"Hahahaha. Rasain kamu, Jak."
"Duh, parah nih dikerjain dua cewek." kata Gw.
"Threesome dong. Hahahaha." kata Bu Nisa.
Gw dan Farhah bingung mendengar Bu Nisa tertawa. Dan juga bingung, apa itu arti threesome.
"Threesome itu apa, Bu?" tanya Bu Farhah.
"Ada dehh. Suatu saat juga kamu bakal tau. Wkwkwk."
"Ayo, Bu Farhah. Kita pulang." ajak Gw.
"Ehh, kamu sama Bu Nisa aja. Aku naik ojol aja seperti biasa."
"Udahh, gapapa. Sekali-kali saya yang naik ojol. Kan rumah kalian yang berdekatan. Masa saya mulu yang bareng Jaka."
"Tapi jatahnya enggak berkurang kan, Bu?" tanya Gw.
"Enggak atuh laa. Kan kamu tinggal minta sama Farhah. Hahaha."
Gw mulai berpikiran aneh. Tentang jatah yang dimaksud Bu Nisa. Mungkin yang dimaksud minta jatah ke Farhah adalah upah. Tapi bagaimana jika yang dimaksud Bu Nisa adalah jatah n*****t. Sejak kejadian sama Bu Nisa waktu itu, pikiran Gw selalu menjadi m***m. Ditambah kejadian dua sepongan dari Bu Nisa dan Bu Lena.
"Bu, gara-gara ngomongin jatah saya jadi pengen n*****t lagi nih."
"Yeh, kamu. Ada Farhah nih. Gimana."
"Di kamar Bang Sani aja yuk."
"Ayuk, deh. Tapi sebentar aja ya."
"Iya. Bu Nisa pura-pura ke kamar mandi gih. Nanti saya nyusul."
Karena kepengen, Gw minta Bu Nisa untuk merasakan n*****t lagi. Tapi karena ada Farhah, kami bingung untuk melakukannya.
"Aku mau pup dulu ya. Kalian jangan macam-macam berdua disini." kata Bu Nisa meninggalkan Ruang Guru.
"Ihh, enggak lah Bu." kata Farhah.
"Far, aku mau ngerokok dulu yah." kata Gw.
"Yaudah gih."
"Tapi jangan pulang dulu yaa. Jadi bareng kan?"
"Hmmm, gimana yah?".
"Udah, bareng aja."
"Yaudah deh."
Lalu Gw menyusul Bu Nisa ke kamar Bang Sani. Dia sudah duduk di kasur masing dengan pakaian lengkap.
"Bang Sani nya mana, Bu?"
"Tadi saya udah ngomong, pake aja katanya."
"Oke dehh."
Lalu Gw langsung membuka seluruh pakaian Gw, begitu juga Bu Nisa. Dia langsung telentang di atas kasur dengan membuka pahanya.
"Bu, kemaren Bu Nisa sama Bu Lena jilatin k****l saya. Kalo saya jilatin m***k Bu Nisa itu bisa gak sih?" tanya Gw yang masih polos ini.
"Hahahaha. Bisa atuh, Jak. Cobain aja."
Lalu Gw mulai mendekati m***k Bu Nisa. Bulunya tipis, memeknya juga masih merah agak kehitaman. Lalu Gw belai dengan ibu jari Gw.
"Ini apa sih Bu." tanya Gw sambil membelai-belai sesuatu yang menonjol di atas memeknya.
"Itu namanya k******s, atau i**l. Itu tempat paling geli buat cewek. Sumber nikmatnya ada disitu."
Lalu Gw langsung menjilati k******s Bu Nisa. Sambil sesekali Gw sedot.
"Ahhhh, Jaakkk." Bu Nisa menjambak Gw.
"Mpphhhh, Jakaa. Geliii tauuu."
Lalu Gw hisap seluruh memeknya. Gw masukkan lidah Gw ke dalam liang kenikmatannya. Tak diam, tangan Gw meremas t***t indahnya itu.
"Jakk, ayuk langsung aja. Ada Farhah nungguin."
Gw langsung bangun, lalu mengarahkan k****l Gw ke m***k Bu Nisa.
"Masukin ya, Bu." izin Gw.
Gw pun langsung memasukkan k****l Gw ke m***k Bu Nisa.
*Blessss
"Ayo, Jak. Puasin saya." ucap Bu Nisa. Dia hanya bisa pasrah menerima sodokan k****l Gw yang bertubi-tubi.
"Bu Nisa udah pernah selingkuh belum sih sebelumnya??" tanya Gw sambil memompa m***k Bu Nisa. Kasur reot itupun mengeluarkan bunyi yang cukup mengganggu.
"Ahh,, ahh belum Jak. Baru sama kamu,, aja ini Jak." jawabnya terputus-putus karena merasakan kenikmatan yang diberikan oleh k****l Gw.
"Bu, cepet aja ya. Saya udah mau keluar." ucap Gw.
"Iyaa, Jaakk. Keluarin ajaa. Saya juga mau keluar. Ahhhh."
*Crott crottt
Gw merubuhkan tubuh Gw di atas tubuh gempalnya Bu Nisa. Bu Nisa juga tampak senang, ia merangkul Gw sambil tersenyum.
"Anget banget p**u kamu, Jak."
"p**u tuh apa, Bu?"
"Ihh, kamu kayak anak kecil aja. p**u tuh s****a, air mani."
Kata Bu Nisa menjelaskan, dia masih merangkul Gw bagaikan seorang Ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu mau jadi anak saya atau suami saya, Jak?" tanyanya.
"Bedanya apa, Bu?"
"Enggak ada bedanya, dua-duanya juga bakal saya ngentotin kalo macemnya kayak kamu mah. Hehehehe."
Dasar Bu Nisa. Padahal dia adalah guru sekolah dasar yang lumayan disegani di lingkungannya. Image nya sebagai guru begitu terbalik disaat kami melakukan perbuatan seperti ini.
"Ehh ini dua guru mainnya asik amat. Kasur saya nanti rusak dah." kata Bang Sani dari luar pintu kamarnya.
Kami memang tidak menyadari bagaimana keadaan tempat kami bergumul tadi. Tanpa terasa ternyata benar bahwa kasur Bang Sani sudah agak miring akibat perbuatan kami.
Setelah kami mengenakan pakaian lengkap, kami membuka pintu kamar Bang Sani lalu meminta maaf kepadanya.
"Bang, maaf ya. Kasurnya jadi begini." ucap Gw.
"Ya atuh mau gimana lagi. Emang udah tua." kata Bang Sani pasrah.
"Tenang Bang. Nanti saya minta Bu Lena buat bagusin kamar Bang Sani. Asal bisa buat kami n*****t ya. Hehehe." ucap Bu Nisa.
"Yah, terserah deh. Saya mah ikut ajahh." jawabnya.
Kami berduapun kembali ke Ruang Guru untuk menemani Farhah. Mudah-mudahan saya dia tidak curiga dengan kami berdua yang kembali dengan bercucuran keringat dan baju yang berantakan.
"Pulang yuk, Far. Udah lega aku." ajak Bu Nisa ke Farhah.
"Ayukk."
"Jadinya kamu sama Jaka kan?"
"Ehh, Bu Nisa gimana nanti?"
"Sama seperti kamu kemarin-kemarin. Ojol, hahahaha."
"Yahh, ibu. Saya jadi enggak enak kan."
"Gapapa. Lagipula saya juga bosen sama Jaka. Dia mulu, dia mulu."
"Ehh, bosen? Oke kalo begitu." sambung Gw.
"Iyaa, kenapaa." balas Bu Nisa.
"Gapapa. Lumayan bisa berduaan sama Bu Farhah. Heheheh."
"Ehh, awas kamu yaa." sambung Farhah.
"Enggak, enggak. Bercandaa." ucap Gw.
"Yaudah, yuk. Saya udah dapet drivernya nih." kata Bu Nisa.